Kamis, 19 Desember 2019

Menikmati Suasana Pendakian Gunung Lawu Via Candi Cetho

Bagiku, Gunung Lawu bukanlah suatu gunung yang asing karena masih berada di zona yang gak terlalu jauh untuk dijamah. Berada di wilayah Jawa Tengah tentu membuat biaya menjadi cukup terjangkau dengan kantong kita (gue kale) yang pas-pasan. Yah… begitulah, kira-kira saat ini, tapi sangat berbeda kondisinya ketika saya masih SMA dulu. Lawu adalah gunung yang pertama kali saya daki saat kelas 3 SMA. Mempunyai lingkungan teman anak-anak sispala membuatku sering diajak ketika mereka mendaki gunung, termasuk berbagai kegiatan outdoor lainnya… walaupun saya tak tergabung di dalamnya.

Begitu ceritanya mengapa saya bisa mendaki gunung yang lumayan tinggi ini. Sebagai seorang yang cukup antusias di kegiatan outdoor, saya cukup bersemangat ketika temen-temen sispala mengajakku naik Lawu sepulang sekolah. Waktu itu kami berangkat dari sekolahan di Sabtu siang. Sepulang sekolah kami langsung cabut cari bis ke arah Solo. Asal kalian tahu aja, kami berangkat dengan seragam SMA untuk menghemat ongkos transport. Dengan seragam sekolah, kita akan membayar biaya bis setengah dari harga umum tanpa ditanyakan identitas macam-macam sama kondektur. Kalau kalian ingin ngirit, coba deh, ikutin cara saya waktu SMA dulu…

Pendakian tektok pertama kali tentu gak pernah saya lupakan, merasakan kenangan alangkah dinginnya suasana malam di Gunung ini. Apalagi, waktu itu kami tidur di pinggir jalan setapak dengan tutup selimut yang dipakai bersamaan. Maklum, anak-anak sudah terlalu kecapekan dan tidak ada satupun yang merelakan tenaganya buat mendirikan tenda. Sungguh sia-sia kami bawa tenda sampai ke puncak tanpa kepake sama sekali. Tetapi yang masih menjadi kenangan adalah poto kami di puncak dengan seragam SMA yang tidak akan pernah saya dapatkan lagi, dan itu merupakan satu-satunya kenangan berfoto di puncak dengan seragam sekolah. Jarang-jarang anak SMA muncak gunung pake seragam, gak ada gurunya juga di sana… Yah, minimal itu sebuah wujud anak muda jaman dulu buat mengekspresikan suatu kegembiraan dan berita bahagia, bukan begitu?

Sampai sekarang, sudah sekitar 4 kali saya menjamah gunung Lawu ini walau sebatas mengenal jalur Cemoro Sewu, jalur yang paling umum dan paling dikenal bagi para pendaki. Layaknya Slamet via Bambangan, Sindoro-Sumbing via Garung, Merbabu via Wekas, Merapi via Selo, atau Ungaran via Mawar. Pernah juga sesekali lewat jalur Cemoro Kandang, karena ingin menikmati sate kelinci sehabis pendakian. Ceritanya, sekitar lima tahun yang lalu saya bersama teman-teman main ke Candi Cetho, sehabis menikmati suasana kebun teh. Disitu saya melihat beberapa pendaki yang mau muncak via Cetho ini. Tentu suatu saat saya ingin mencoba jalur ini kalau sudah resmi dibuka. Pada saat itu jalur Cetho ini belum dibuka secara resmi, walaupun sudah banyak yang mendaki.
.
Pendakian Lawu via Candi Cetho, by Theslackerhiker

Gasss… Lawu Via Candi Cetho
Jika sebelumnya selalu mendaki secara tektok di malam hari, untuk kali ini saya ingin mendaki secara santai. Niat kami dari awal memang untuk menikmati suasana padang sabana dan nge-camp di sana. Makanya, kami melakukan perjalanan ini selama tiga hari, dan hanya melakukan perjalanan di siang hari saja. Dulu saya selalu tektok di setiap pendakian, namun beberapa tahun belakangan ini jarang sekali saya tektok, bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah. Habitku sekarang, mendaki buat menikmati suasana, bukan sekedar mencapai puncak seperti ketika SMA dulu. adoh adohhh…

Jalur Candi Cetho merupakan jalur favorit bagi pendaki yang ingin menikmati sabana-nya Lawu, karena tidak akan ditemui di jalur resmi lainnya seperti Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Lokasi beskemnya terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Saat menuju ke sini, kita akan disuguhi panorama pemandangan kebun teh di sepanjang perjalanan. Tentu begitu istimewa… bahkan jika berminat, kalian bisa mengunjungi wisata kebun teh di sepanjang perjalanan menuju beskem baik sepulang ataupun sebelum naik. Perlu kalian ketahui, Jalur Lawu via Ceto lumayan panjang lur, karena lokasi beskem berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Kalian hitung sendiri, berapa elevasinya untuk menuju ke puncak Lawu di 3.265 mdpl (cari kalkulator…)

Begitu sampai di beskem, kami istirahat sebentar sambil mempersiapkan kembali semua logistik untuk pendakian. Pak Tarjo menerima para pendaki dengan baik dan ramah, termasuk juga kepada kami ketika sampai lokasi. Bahkan beliau rela membawakan carrier menuju rumahnya saat kami kesulitan untuk mencari tempat parkir. (baik banget yaaa..) waktu itu memang sedang banyak pendaki yang datang dan berkumpul di seputaran tempat parkir. Penyambutan tuan rumah membuat kami nyaman berada di beskem ‘Barokah' ini. Pendakian Lawu kali ini lumayan ramai, karena mayoritas gunung sedang tutup. Bahkan hampir semua gunung tinggi di Jawa Tengah dalam kondisi ditutup, dan cuma Lawu satu-satunya yang resmi dibuka. Maklum, mungkin itu puncaknya musim kemarau, makanya pada kebakaran dimana-mana. Tak lama kemudian kami berangkat menuju ke pos retribusi yang berada di sebelah barat Candi Cetho. Untuk menuju ke pos pendaftaran, kita harus mlipir sedikit lewat samping lokasi Candi Cetho. Sambil berjalan, saya menoleh ke turis yang masuk ke kawasan candi dengan kain jarik yang disarungkan. Nuansanya mirip seperti wisatawan Candi Prambanan atau Borobudur. Ternyata tiket masuk ke Candi Cetho ini masih murah, hampir sama seperti saat aku ke sini lima tahun lalu. Berbeda jauh dengan harga tiket Candi Prambanan atau Borobudur sekarang ini.

Saat registrasi, kami meninggalkan identitas yang akan diambil lagi pada saat turun nanti. Tak lupa, petugas pos jaga menginfokan dengan jelas tentang peraturan pendakian ini baik dari segi jalur, estimasi waktu, maupun larangan-larangan yang tidak boleh kami lakukan selama pendakian. Cuss, langung saja kami memulai perjalanan setelah semua urusan beres. Tak lupa kami berdoa seperti biasa, agar diberi kelancaran selama pendakian hingga kembali ke rumah. Beberapa pendaki terlihat masih istirahat di shelter sebelah pos ketika kami berjalan memutari candi. Jalur awal pendakian memang tidak melalui kawasan candi, dan hanya memutar di sebelah kirinya. Namun, di depan nanti kita akan dapat melihat dengan jelas Candi Kethek yang berada di samping kanan jalur pendakian.

Menuju ke pos 1 (Mbah Branti) 1.705 mdpl
Di awal perjalanan ini kami melewati tiga gapura kecil dari bambu yang cukup mirip dari segi model dan ukuran. Di atasnya tertulis, ‘Pendakian Lawu via Candi Cetho’ terpampang jelas. Setelah itu kami harus melewati lereng jalan memutari sungai, mengikuti jalan yang sudah di-cor seperti anak tangga walaupun hanya beberapa ratus meter saja. Di depan ada sedikit jalur yang dirubah akibat longsor, sehingga kami harus berpindah menuju jalan berbatu.  Sekitar 15 menit perjalanan, kita sampai di area Candi Ketek dengan struktur batu yang terlihat sangat kuno melebihi usia Candi Cetho di depan sana. Beberapa lahan milik warga terlihat sepi karena sudah tidak terdapat tanaman yang harus diurus. Dilihat dari bekas tanamannya, sepertinya mereka baru panen dan membiarkannya begitu saja sambil menunggu musim tanam. Lahan tanaman di jalur ini tidak terlalu luas dan kami hanya melewati sebentar saja. Selebihnya berupa semak belukar yang harus kami lalui dengan hati-hati. Pipa-pipa air terlihat menyembul di beberapa lokasi di pinggiran jalur pendakian. Pipa ini berfungsi untuk menyalukan air dari atas, sebagai sebagai sumber air bagi penduduk setempat. 

Oh ya, setelah melewati kebun kami istirahat sebentar di kolam yang lumayan lebar. Kolam mini sekitar 10 meter persegi ini baru dibangun dan terlihat belum selesai, dengan material batu yang tersusun rapi di atas dan di bawah kolam. Penyaringannya pun cukup lancar, sehingga air terlihat selalu jernih. Beberapa kepala singa mengeluarkan air melalui mulutnya mengairi kolam ini. Suasana ini sungguh membuat keadaan menjadi segar. Kata seorang teman, kolam tempat kami istirahat ini dibuat oleh pemeritah untuk para peziarah yang ingin mandi, agar mereka segar kembali baik sebelum maupun sesudah ziarah ke atas. Masuk akal juga sih, karena di beberapa sudut kolam terdapat sesajen yang sudah mulai kering. Mungkin ada peziarah yang menaruhnya sekitar 2 atau 3 hari yang lalu, berdoa agar hajat mereka terkabul. Para pendaki yang mulai turun juga cukup banyak. Beberapa dari mereka kemudian beristirahat dan membersihan tubuh  dari debu-debu jalanan yang cukup tebal. Jalur Cetho ini memang sering digunakan oleh peziarah menuju ke puncak untuk berdoa di Hargodumilah. Bahkan di setiap pos terdapat kotak besi berwarna hitam yang digunakan untuk menaruh sesajen. Untuk menuju ke pos satu ini, kita membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam perjalan dari titik start. Di pos 1 terdapat bangunan kayu yang ditutupi terpal. Areanya tidak terlalu luas sih, tapi bisa untuk menampung sekitar 5 tenda di sini.

Menuju ke pos 2 (Brakseng) 1.915 mdpl
Perjalanan menuju ke pos 2 ini keadaannya masih mirip dengan sebelumnya, dengan tanah berdebu diselimuti vegetasi yang lumayan rapat. Jalurnya juga cukup landai, membuat perjalanan kami tidak begitu ngos-ngosan. Tidak begitu banyak perbedaan vegetasi di sini dengan jarak tempuh sekitar satu jam, kita akan sampai di pos 2. Namun di pos 2 lokasinya lebih luas dan dapat menampung hingga 20 tenda. Jika kalian lelah, disini terdapat shelter yang cukup nyaman dan luas dibanding pos 1 tadi.

Bagi kalian yang belum pernah melewati jalur ini, pos 2 paling gampang untuk diingat, karena terdapat pohon besar dengan penutup kain yang melilitnya. Suasana di pos 2 memang terkesan mistis, namun di siang hari cukup sejuk, dan semilir angin begitu terasa saat kita beristirahat di bawah pohon besar ini. Walaupun terik matahari menyengat, suasana di sini tidak begitu panas, karena sinarnya tertutup oleh ranting-ranting pohon yang rimbun. Malah terlihat indah ketika sorotnya menyembul di sela-sela dedaunan yang lebat.

Menuju Pos 3 (Cemoro Dowo) 2.230 mdpl
Setelah istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Perjalanan kali ini mulai terasa menanjak dengan jarak tempuh yang lumayan lama, sekitar 90 menit perjalanan untuk sampai di pos berikutnya. Dengan medan tanah yang masih berdebu, kontur tanaman lebih rapat daripada sebelumnya yang didominasi oleh pohon lamtoro di sepanjang perjalanan. Untuk menuju ke pos 3 ini, fisik dan pernafasan harus mulai diatur dengan baik.

Sekitar 10 menit sebelum pos 3 terdapat mata air yang bisa digunakan untuk mengambil air bagi para pendaki. Begitu mendengar kata ‘mata air’ membuat jiwaku bersemangat, karena itu berarti saya bisa memperoleh stok air di atas gunung. Ketika dapat info di pendaftaran mengenai mata air ini, saya membayangkan jika lokasinya terletak agak menyimpang dari jalur dan harus turun, bahkan mungkin sedikit terjal untuk mencapainya. Ternyata dugaanku salah, karena begitu tiba di lokasi saya bisa mendapatkan air dengan mudah di jalur pendakian. Air ini berasal dari kucuran pipa yang sengaja dilubangi, agar para pendaki bisa mengambil dan memanfaatkannya untuk keperluan minum. Kalau ini sih sangat mudah buat mengambilnya, tinggal membuka penutupnya, air sudah bisa mengalir. Modelnya mirip seperti di pos 2 Merbabu via Wekas.

Sebenarnya untuk menuju ke pos 3 hanya butuh berjalan sekitar 10 menit, tetapi kami memutuskan untuk mendirikan tenda disini. Selain karena dekat dengan lokasi air, kami dapat info dari pendaki yang baru turun jika pos sudah penuh dan agak susah jika kami harus nge-camp di sana. Walaupun hari masih terlihat terang, saya langsung mengeluarkan tenda dan memasangnya karena sudah terlalu nyaman berada di sini. Malam ini hanya tenda kami saja yang berdiri kokoh di sini. Sebenarnya lokasinya cukup luas dan bisa menampung lebih dari 10 tenda dengan model bertingkat, tetapi debu di sini cukup tebal, sehingga para pendaki lebih memilih pos 3 sebagai tempat menginap walaupun harus naik-turun ke sini buat ambil air. Memang sih, di pos mata air ataupun pos 3 adalah lokasi yang paling ideal buat istirahat jika kalian akan melakukan pendakian santai selama 3 hari.

Pagi hari (yang agak siang), kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju camp selanjutnya. Benar saja, tidak sampai 10 menit kami sudah tiba di pos 3. Di sini terdapat shelter dari seng untuk istirahat dan beberapa tenda terlihat masih berdiri ditinggal penghuninya yang sedang perjalanan summit ke puncak sejak jam 3 tadi. Sebagian orang masih bersantai, terlihat bercengkerama sambil mengaduk kopi menunggu kawannya yang sedang muncak. Mereka memang tidak berencana ke puncak, cukup menikmati suasana di lokasi camp. Camps site nya juga bertingkat seperti di pos mata air tadi, tetapi tidak terlalu berdebu. Kami hanya sebentar berada di sini, karena tenaga masih full, lanjut ke pos berikutnya.

Menuju ke Pos 4 (Penggik/Ondorante) 2.563 mdpl
Perjalanan selanjutnya katanya perjalanan yang paling susah, karena medannya sangat terjal. Benar juga, saya merasakan jalur yang cukup terjal sepanjang trek yang dilewati. ‘Pelan-pelan saja lur, yang penting napasnya teratur, daripada jalan cepat tetapi nanti terlalu banyak istirahat’. Begitu kata temenku. Saya sendiri masih seperti biasa dan belum terasa lelah karena baru beberapa menit memulai perjalanan.

Di awal perjalanan, vegetasi yang terlihat masih sama dengan sebelumnya, didominasi oleh pohon lamtoro atau kaliandra yang cukup rapat di sekeliling kita. Sesekali vegetasi agak terbuka walau kami tidak dapat melihat sekeliling dengan jelas. Maklum, kabut mulai menyelimuti perjalanan kita kali ini. Jalurnya juga masih sempit dan berdebu. Namun saat akan tiba di pos 4 vegetasi mulai berganti dengan pohon cemoro yang cukup banyak. Dan hampir 2 jam perjalanan, kita sampai di pos 4, terlihat dengan adanya shelter kecil dari seng seperti pos-pos sebelumnya. Camp site di sini tidak terlalu luas, hanya bisa menampung sekitar 3 atau 4 tenda saja. Makanya, jarang yang mendirikan tenda di pos 4 ini.

Menuju ke Pos 5 (Bulak Peperangan) 2.860 mdpl
Setelah istirahat setengah jam lebih, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pos 5. Di awal perjalanan masih saja terlihat pohon cemoro, namun setelah beberapa saat kita akan menjumpai pohon edelweis yang lumayan banyak di kanan kiri jalur. Melihat bunga ini, membuat saya semangat, merasakan benar-benar perjalanan di gunung. Jalur ini relatif lebih mudah daripada sebelumnya, walaupun waktu tempuh sedikit lebih lama. Memang sih, karena setelah melewati edelweis, terdapat beberapa bonus, jalur sedikit landai. Tetapi setelah itu kembali menanjak walaupun jalurnya berbentuk zig-zag. Saya sendiri merasakan jika jalur ini lebih susah daripada jalur sebelumnya. Ada sejumlah pohon yang roboh di beberapa tempat yang kita lalui, sehingga kalian harus berhati-hati  untuk melompatinya.

Di pertengahan jalan, terdapat dua buah pohon besar di sebelah kanan kita. Jika naik ke kanan melewati pohon tersebut, kita akan melewati jalur lama untuk turun ke bawah, tetapi kami belok ke kiri, karena tujuannya mau ke puncak. Setelah melalui jalur yang zig-zag, kita akan menemui jalur yang landai, bahkan semakin landai menjelang tiba di pos 5. Menuju ke pos 5 ini akan semakin terasa nuansa padang sabananya. Terlihat beberapa sabana kecil di sepanjang jalur. Senang rasanya saat saya melewati beberapa jalur landai ini, karena tidak memerlukan tenaga lebih buat berjalan. Cukup gunakan tenaga buat menikmati suasana alamnya. Tak terasa, perjalanan sudah hampir satu setengah jam. Di sini kita akan menemui pos 5 yang sangat datar. Bahkan, buat mendirikan ratusan tenda di sini sepertinya muat. Jika kalian lewat jalur lain, yaitu jalur Jogorogo, maka akan bertemu dengan jalur Cetho di titik ini. Berbeda dengan pos-pos sebelumnya, di pos ini tidak terdapat shelter untuk berteduh pendaki ketika hujan tiba. 

Menuju camp Gupak Menjangan 2.944 mdpl
Kami berfoto sebentar begitu melihat pemandangan sabana yang bagus ini. Jika lewat jalur ini, kalian tidak akan menemukan pemandangan yang menarik sebelumnya. Tetapi pemandangan-pemandangan indah akan kalian jumpai begitu menuju pos 5 hingga puncak. Berbeda dengan jalur di bawah tadi, perjalanan kali ini tidak begitu banyak debu yang harus kami lalui. Senang sekali rasanya, bisa melewati trek dengan pemandangan yang sangat indah ini. Jalurnyapun cukup landai, sehingga kami dapat dengan santai berjalan tanpa ngos-ngosan. Terlihat bukit yang menjulang tinggi dengan batu-batu besar yang menempel di sebelah kanan dan kiri jalur ketika perjalanan awal dari pos 5 ini. Pohon pinus tumbuh begitu kokohnya menutupi bukit tersebut, walaupun terlihat agak gersang di musim kemarau ini.
adheb's poto
perjalanan dari Pos 5 menuju Gupak Menjangan
Selanjutnya akan mulai terlihat padang sabana yang terhampar begitu luas di depan kami. Tanah datar yang sangat luas ini sebenarnya cukup sayang untuk dilewatkan begitu saja, namun terik matahari yang begitu panas membuat kami tidak bisa berlama-lama, takut kulit menjadi gosong. Beberapa pendaki terlihat bersantai dan mendirikan tenda. Mungkin mereka ingin menikmati pemandangan sabana di malam hari sehingga memutuskan untuk mendirikan tenda di situ. Perjalanan menuju Gupakan Menjangan tidak terlalu lama, hanya 30 menit perjalanan kami sudah tiba. Keadaan alam di sekeliling kami yang membuat mata terpesona, menjadikan perjalanan pendek ini terasa begitu cepat. Ah, ternyata lokasi di Gupak menjangan lebih syahdu lagi, didominasi oleh pohon pinus yang cukup rimbun, membuat lokasi begitu favorit untuk dijadikan camp bagi para pendaki.

Gupak Menjangan
Terik matahari masih panas dan cahaya masih terlihat terang di atas sana ketika kami tiba di Gupakan Menjangan. Walauapun begitu, kami tidak ingin melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Cukup sampai di sini saja perjalanan hari ini, karena kami ingin rebahan dahulu sambil menikmati indahnya sabana yang terbentang luas di depan kami. Sabana ini terbelah oleh jalur pendakian yang berada di tengah-tengahnya. Saya langsung meletakkan carrier di bawah pohon pinus, lalu berjalan ke arah sabana untuk menikmati suasana. Di sebelah kiri terdapat bukit yang ditumbuhi oleh pohon pinus, sementara di sebelah kanan masih saja terlihat padang sabana yang cukup luas.  Beberapa pendaki terlihat sedang berjalan melewati jalur, membelah sabana hingga ujungnya, lalu berbelok sedikit ke kiri memutari bukit hingga samar-samar mereka menghilang.

Saya masih saja duduk di semak-semak yang terlindungi oleh awan, mengobrol dengan kawan sependakian, sementara beberapa teman yang lain sedang hunting foto di tengah sabana. Ketika hujan tiba, sabana yang berupa cekungan di depan saya duduk ini akan menjadi danau kecil dengan diameter sekitar 100-an meter persegi. Namun hanya beberapa jam setelah hujan reda, air kembali surut masuk ke dalam tanah. Pendaki yang beruntung dapat mengabadikannya seperti Ranu Kumbolo di Semeru versi mini. Katanya sih tempat ini dulu buat minum binatang yang ada di sekitaran sini dikala tergenang air. Salah satunya adalah menjangan, makanya lokasinya disebut gupak menjangan. Cukup lama kami bersantai bersama beberapa pendaki semenjak tadi, tanpa terasa cuaca hampir gelap. Saya bergegas untuk mendirikan tenda yang terletak di ujung, agar tidak terlalu berisik dan mengganggu pendaki lain, karena kami bawa genset yang selalu menggelegar tiap malam (hehehe). Sudah ada sekitar 10 tenda yang berdiri di sekitaran kami saat ini, dan tentunya akan semakin bertambah banyak sampai malam nanti. Hawa di luar tenda cukup dingin, saatnya saya masuk dan bergantian dengan teman yang siap-siap untuk memasak. Bagi kalian yang mendaki Lawu ini, jangan lupa bawa jaket karena cuaca di sini sangat dingin.

Menuju Hargo Dalem 3.152 mdpl
Awalnya sih saya sama sekali tidak ada niatan buat summit ke puncak, karena sudah pernah ke sana beberapa kali meskipun lewat jalur yang berbeda. Namun pagi ini keinginan saya berubah, karena sudah cukup lama saya tidak merasakan puncak Lawu ini. Sekitar jam 8 pagi akhirnya kami semua berangkat dari tenda memulai perjalanan summit. Dalam perjalanan kali ini, karena kami hanya membawa beberapa keperluan summit saja, sementara yang lain kami tinggal di tenda. Setelah melewati padang sabana, kami sedikit memutari bukit ke sebelah kiri. Pohon cantigi mulai terlihat menggantikan sabana yang luas tadi. Tak begitu lama kita akan menemukan Pasar Dieng atau Pasar Setan, begitu melihat pecahan-pecahan bebatuan di sepanjang jalur. Di sini terdapat bekas bangunan kuno yang sudah runtuh dan tangga batu yang tertata rapi di tengah-tengah.

Kami tidak mengikuti tangga batu tersebut, tetapi memilih untuk berbelok melewati jalan sebelah kiri. Jalan sebelah kiri ini relatif lebih cepat dan sepi, namun jalurnya cukup sempit. Ketika berpapasan dengan pendaki lain kami harus bergantian, membuat perjalanan cukup lama. Hari itu cukup ramai pendaki yang melewati jalur ini, karena pas hari Minggu. Tak beberapa lama, rumah seng mulai terlihat berjajar di depan sana. Bagi para pendaki, tempat ini tidaklah asing, yang terkenal dengan sego pecelnya. Banyak yang bilang, jika warung Mbok Yem merupakan warung tertinggi di Indonesia karena lokasinya yang berada di atas gunung. Namun begitu, sebenarnya ada beberapa warung di sekitarnya yang juga melayani para pendaki di saat ramai. Bedanya, warung Mbok Yem akan selalu buka setiap saat, dan bilau hanya turun pada saat lebaran.
Cari minuman hangat dulu sebelum muncak, biar badan seger dan bugar...

Menuju Puncak Hargo Dumilah 3.265 mdpl
Menuju ke puncak tertinggi Lawu membutuhkan waktu sekitar setengah jam dari warung Mbok Yem ini. Kami memilih untuk lewat jalur yang sepi agar tidak terlalu banyak menghirup debu. Waktu sudah agak siang, tetapi masih banyak pendaki yang ingin menuju ke puncak membuat jalan utama cukup berdebu. Kami melewati jalur di samping rumah Mbok Yem dan melewati jalur sepi. Jalur ini lebih cepat daripada jalur utama, dan sepanjang perjalanan kita dapat melihat Puncak Pemancar atau disebut dengan Hargo Puruso.  Bendera merah putih terlihat berkibar-kibar terkena angin menjulai di atas pemancar itu. Lokasi itu lebih terkenal dengan sebutan Puncak Pemancar, karena di sana terdapat pemancar milik stasiun TVRI dengan tinggi lebih dari 10 meter.
adheb's poto
Puncak Hargo Dumilah
Sebelum sampai puncak, jalur yang kami lalui akan kembali bertemu dengan jalur utama, membuat perjalanan kembali berdebu. Tetapi buff sudah saya persiapkan, tinggal menarik ke atas buat menutupi hidung. Lima menit kemudian kami sampai di Puncak Hargo Dumilah bersama beberapa pendaki yang sudah ada di sana. Puncak ini masih sama seperti dahulu,  dan tidak tampak adanya perubahan seperti yang saya lihat terakhir kali. Di sini kami istirahat sebentar, melihat lalu-lalang para pendaki yang saling bergantian berfoto. Mengabadikan moment terpentingnya Saya sendiri asik dengan beberapa burung jalak yang beterbangan di samping tempat kami duduk.

Turun kembali ke tempat camp
Setelah cukup puas berada di sini, kami kembali ke tempat kamp lewat jalur yang sama seperti pada saat berangkat. Mungkin tidak terlalu banyak yang tahu jalur ini, sehingga tidak perlu antri ketika simpangan dengan pendaki lain akibat debu yang cukup tebal. Sepanjang turun sampai ke Warung Mbok Yem, kami hanya berpapasan dengan dua orang saja, padahal di jalur utama cukup ramai para pendaki baik yang ingin naik maupun turun dari puncak. Tak lupa, kami menikmati makanan khas di ketinggian Lawu. P.e.c.e.l. Banyak pendaki yang sengaja datang ke sini untuk bernostalgia menikmati pecel di ketinggian Lawu, termasuk salah satu bapak yang berpapasan dengan kami tadi. Dia mendaki seorang diri hanya untuk merasakan pecel Mbok Yem yang khas katanya.

adheb's poto
menikmati segarnya es buah di camp Gupak Menjangan. Sabana terhampar luas di belakang kami
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan turun ke tenda. Masih saja kami berpapasan dengan  beberapa pendaki yang ingin naik menuju ke Puncak Hargodumilah. Hingga akhirnya kami tiba kembali ke tenda di antara pohon pinus yang sangat rindang. Di sini sudah ada teman yang tadi turun terlebih dahulu, menyiapkan sup buah yang sungguh menakjubkan. Kami istirahat sebentar di samping tenda sambil menikmati es buah yang dibungkus dengan wadah semangka ini. Jaman sekarang, harga bukan hanya tercermin dari kualitas barangnya saja, tetapi suasana membuat harga semakin melambung. So, kamu perlu porter buat bawa barang, jika gak mau capek angkut-angkut bawaan yang berat ke sin. Bongkahan semangka dengan berbagai jenis buah di mix jadi satu bersama susu, membuat sup buah ini begitu menggoda bagi siapapun yang melihatnya. Ingin rasanya berlama-lama lagi di sini, namun waktu mengharuskan kami untuk segera packing, dan kembali turun ke bawah.

Perjalanan kembali ke beskem
Setelah puas menikmati es buah, kami berbenah dan segera bergegas turun. Perjalanan turun kali ini kami tempuh relatif cepat. Setelah pos 5, kali ini kami memilih jalur sebelah kiri untuk mengenang jalur lama, mencari Cemoro Kembar yang sudah tidak dilewati lagi. Tetapi lebih baik kalian jangan lewat sini jika belum ada yang pernah melalui sebelumnya. Salah satu dari kami pernah lewat jalur ini. Dia ingin kembali merasakan jalur dulu, melewati Cemoro Kembar yang cukup kesan sebagai pintu masuk menuju padang sabana kala itu, namun jalur ini sekarang sudah ditutup, digantikan jalur lain yang lebih landai. Di jalur yang kami lewati ini, kami bisa menemukan Cemoro Kembar yang menjulang tinggi, walaupun sudah mulai agak sedikit rapuh.
adheb's poto
Berfoto di Cemoro Kembar, kalian hanya akan menemuinya jika lewat jalur lama 
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, dan hanya berhenti beberapa menit saja di setiap pos, kecuali di mata air yang hampir setengah jam. Tak lupa kami mampir sebentar di sendang untuk membersihkan kaki sebelum kembali tiba di beskem. Sampai di tempat registrasi, kami melapor kembali dan mengambil kartu identitas yang kemarin ditinggal. Hari sudah sore ketika kami sampai di beskem. Sebentar lagi magrib tiba, dan kami bergegas untuk pulang ke rumah.

see uu di next pendakian...


Rabu, 25 September 2019

Pendakian Gunung Kembang, Belajar Pentingnya Pendakian Edukatif

Bagi seorang yang hobi mendaki, sudah menjadi hal yang lumrah jika ingin lebih mengeksplore gunung karena keindahannya, karena jalurnya yang gak biasa, menantang, atau ciri khas suatu track yang berbeda dengan jalur lain untuk mencapai puncak di gunung yang sama. Mungkin, saya adalah salah satu orang yang suka mencoba merasakan keindahan gunung-gunung, khususnya di seputaran Jawa Tengah ini. Walaupun belum semua gunung di Jawa Tengah pernah saya daki, tetapi saya sudah merasakan sebagian besar puncak yang ada di kawasan Jawa Tengah ini, dan selalu ingin untuk mencoba merasakan pendakian melalui jalur baru yang berbeda. Merasakan kekhasan tracknya, dan juga keramahan warga beskem di setiap jalur yang berbeda.
Suasana di Puncak Gunung Kembang
Bagi seorang pemula, bahkan sebagian besar pendaki tujuan utama mereka adalah untuk mengeksplore keindahan alam yang ada di wilayah itu. Biasanya sih spot puncak yang menjadi favorit utama, dengan latar pegunungan, awan, atau pemandangan yang berbeda sebagai pengalaman pendakian pertama, atau pendakian  ke sekian kalinya agar kelak bisa diceritakan ke temen atau lewat status yang bisa langsung dibagikan ke kawan lain. Wajar sih, karna itu suatu reward atas usaha kita setelah melakukan pendakian cukup panjang, capek, dan melelahkan yang belum tentu akan bisa terulang kembali.

Sampai sekarang belum banyak gunung yang mempunyai misi untuk  mengedukasi para pendaki, khususnya pemula tentang Tata Cara Mendaki Yang Baik. Bukan melalui tutorial, bukan lewat youtube, atau sekedar ilmu dan materi yang kita serap tanpa mengaplikasikan di ruang yang sebenarnya, tetapi lewat pengalaman langsung dengan pemahaman-pemahaman dan sanksi nyata. Sesekali kalian perlu mencoba pendakian Gunung Kembang Via Blembem agar tahu tata cara pendakian yang edukatif secara langsung dan nyata, sebagai bekal kalian untuk melakukan pendakian selanjutnya.

Pengalaman pendakian via Blembem ini suatu hal yang sangat penting bagi pendaki pemula, karena belum ada satu gunungpun yang saya temui, mempunyai misi pendakian yang cukup edukatif seperti jalur Blembem ini. Mungkin beberapa gunung sudah mengelola pendakian secara professional atau online. Namun, jika pengelolaannya dilakukan secara edukatif, saya yakin belum begitu banyak yang melakukannya. Yang saya tahu, baru Gunung Gede Pangrango yang melarang penggunaan botol air mineral untuk dibawa ke atas. Saya belum tahu gunung lainnya, karena selama melakukan pendakian, belum ada satupun gunung yang saya jumpai melakukan screening logistik secara ketat, termasuk pemahaman mengenai sampah yang akan timbul dari barang bawaan para pendaki.

Berbeda dengan Gunung Kembang ini, yang banyak disebut sebagai anak dari Gunung Sumbing. Di sini kalian akan diajari bagaimana menjaga dan merawat gunung kita agar tetap asri. Saya sendiri sudah setahun yang lalu mendengar tentang kebersihan dan keistimewaan pendakian gunung via Blembem ini. Sebelumnya, satu setengah tahun yang lalu salah satu teman, theslackerhiker pernah mereview gunung ini ketika baru saja dibuka, namun belum seketat saat saya melakukan pendakian kemarin.

Semua penjaga yang berasal dari berbagai komunitas begitu ramah saat menjelaskan secara detail prosedur pendakian lewat beskem yang berada di tengah-tengah kebun teh ini. Sebelum registrasi, kita diwajibkan untuk mencatat semua barang yang mengandung plastik, kaleng, senjata tajam dan beberapa barang lain yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. Kita akan diberikan selembar kertas checklist untuk kita isi secara detail. Kalau perlu jenis logistiknya kita tulis agar nanti saat turun mudah untuk melaporkan kembali. Termasuk pula saat saya membawa sebungkus rokok yang tinggal sepuluh batang, karena saat turun nanti tidak boleh sebatang puntung rokokpun yang tertinggal di atas. Jika ada salah satu yang tertinggal, maka kalian akan kena denda sebesar 1.025.000,- rupiah, atau kalian akan diminta naik ke puncak kembali untuk mencari barang tersebut seperti salah satu pendaki yang kehilangan bungkus sachet kopinya saat saya turun. Denda  sudah terpampang jelas di beberapa sudut agar setiap pedaki bisa membacanya dengan mudah. So, kalian tak bisa mengelak jika ada satu barang yang hilang dari daftar check list mu saat turun nanti.

Ada beberapa hal yang dilarang, seperti membawa tissue basah. Beberapa gunung sudah menerapkan hal ini. Termasuk saya sendiri yang sudah menghilangkan tissue basah dari daftar bawaan dalam setahun terakhir ini. Pendaki juga dilarang untuk camp di area hutan, dan hanya diperbolehkan camp mulai dari sabana sampai puncak. Itu artinya, kalian harus berjalan sekitar 3 jam terlebih dahulu, baru bisa mendirikan tenda. Di Sabana hanya bisa didirikan sekitar 10 tenda, karena medannya yang relatif terjal. Namun, jika kalian bisa sampai ke puncak yang hanya berjarak setengah jam dari Sabana, kalian akan dapat mendirikan tenda dengan nyaman karena kontur di puncak lumayan datar dan dapat didirikan tenda dengan kapasitas lebih dari 100 buah. Sangat jarang pendaki yang mendirikan tenda selain di puncak, kecuali mereka sangat kelelahan saat perjalanan. Saat ngecamp, kalian dilarang untuk membuat api ungguan karena berpotensi untuk terjadi kebakaran. Begitu juga, dilarang menyalakan kembang api sebagai euphoria seperti yang biasa dilakukan di kota ketika tahun baru. Jika melanggar salah satu item tersebut, denda siap-siap menghampiri anda.

Botol air mineral dilarang keras untuk dibawa naik karena berpotensi untuk tertinggal di atas. Tetapi jangan khawatir, karena disini disediakan jerigen dan botol air minum semacam tumbler dengan stok yang cukup banyak, yang siap menampung air anda ketika naik. Saya memang berniat untuk menyewa jerigen 5 literan dengan biaya 10 ribu rupiah. Tetapi ketika turun, saya masih dapat menukarkan jerigen tersebut dan dengan kembalian 8 ribu rupiah. Artinya, kalian hanya perlu membayar 2 ribu rupiah untuk menyewa jerigen air tersebut. Sama sekali bukan sesuatu hal yang terlihat mahal atau diaggap sebagai mencari keuntungan, karena sudah ada biaya untuk alokasi beskem sebesar 5 ribu rupiah per pendaki. Dengan biaya tersebut, kalian mendapatkan berbagai fasilitas seperti trashbag, plastik, musholla, toilet, bahkan cas gratis di lokasi. Air bersih juga sudah tersedia di samping rumah secara free. Sebagai seorang perokok, saya ambil satu botol bekas yang sudah disiapkan untuk menampung puntung rokok, agar tidak tercecer tanpa biaya.

Penjaga beskem menyarankan saya untuk mengambil trashbag dan juga plastik saat dia mengetahui di carrier saya tidak terdapat trashbag ketika checklist barang bawaan. Saya mengambil 2 buah trashbag gratis untuk saya bagi dengan teman. Bayangin aja, jika kalian membeli trashbag secara eceran, harganya 2-3 ribu, dan disini kalian dapat secara gratis. Memang, pendakian kali ini saya tidak memakai trashbag seperti biasa, karena selain kemarau cuaca cukup cerah ketika saya lihat keadaan cuaca baik di langit atau di aplikasi handphone sebelum berangkat.

Setelah semua logistik dicheck list, kami menuju tempat registrasi dan menyerahkan kartu identitas. Gak mahal sih, karena saya hanya membayar sebesar 25.000 dengan rincian 15 ribu untuk tiket, 5 ribu untuk biaya pengelolaan beskem, serta 5 ribu untuk biaya parkir motor. Bahkan jika kalian ingin lebih cepat, klain bisa naik tayo yang disediakan hinga pos 1 (Kandang Celeng) dengan biaya 20 ribu rupiah. Nanti kalian akan dapat voucher menarik yang dapat ditukarkan di beskem, berupa satu paket teh khas Tambi ini.

Saya sih lebih memilih untuk berjalan kaki, sambil merasakan indahnya pemandangan kebun teh selama satu jam perjalanan ini, walaupun pulangnya memilih untuk naik tayo karna bujukan teman. Setelah pos Kandang Celeng kalian hanya akan menemui hutan belukar dengan track yang cukup terjal sampai ke puncak. Sebagian besar sih mengatakan jika jalur ini cukup sadis, karena jarang sekali bonus untuk kita beristirahat. Namun tenang aja, karena di setiap jalur terdapat tanda agar kita tidak tersesat, termasuk tali di beberapa tanjakan yang cukup membantu pendaki dengan medan yang curam.

Selamat mencoba wisata edukasi, yang baru pertama kali saya rasakan di dalam pendakian gunung ini.
Mari mendaki dengan bijak…

Hal-hal yang dilarang :
membawa tisu basah
mendirikan tenda di hutan
membawa botol air mineral kemasan
membuat api unggun
menyalakan kembang api
meninggalkan sampah anorganik
masuk kawasan tanpa ijin
menebang pohon
membawa senjata tajam lebih dari 20 cm
membawa senjata api
membawa alat musik/speaker
membawa minumn keras
memetik edelweis
jika melanggar, maka denda sebesar 1.025.000,- per item

Jalur :
Beskem- Kandang Celeng     : 1 jam (sekarang tidak melewati istana katak)
Kandang Celeng Pos Liliput : 30 menit
Pos Liliput – Simpang 3        : 15 menit
Simpang 3 – Pos Akar          : 15 menit
Pos akar – Sabana                 : 30 menit
Sabana- Tanjakan Mesra       : 15 menit
Tanjakan Mesra – Puncak     : 15 menit

Rabu, 28 Agustus 2019

Wisata Curup, Menikmati Pesona Alam Way Kanan Lampung


Melakukan perjalanan ke Way Kanan, sebuah kabupaten di Provinsi Lampung yang berbatasan dengan Sumatera Selatan ini gak afdol kalau kita gak mengunjungi objek wisata andalan di sini. Kabupaten dengan kontur perbukitan ini mempunyai banyak curup atau air terjun dengan beragam ketinggian yang masih asri, dari yang paling mudah dijangkau hingga dengan medan terjal dan harus berjalan kaki untuk menyusurinya. Tetapi sebagian besar curup di sini sudah relatif terjangkau, khususnya bagi para wisatawan yang ingin melihat keindahan alamnya. Saya hanya menyempatkan untuk mengunjungi tiga curup pada kesempatan perjalanan kali ini, untuk melihat pesona alam yang terkenal dengan julukan ‘negeri 1001 air terjun’ di bumi Lampung ini.

Curup Kereta
Lokasinya masih di Blambangan Umpu yang menjadi ibukota Kabupaten Way Kanan, sekitar tujuh kilometer dari jalan utama. Dari Simpang Negeri Agung, kalian ambil arah ke Kasui Pasar lalu belok kanan sebelum memasuki Kecamatan Kasui, tepatnya di kampung Gistang. Untuk menuju ke Curup Kereta yang terletak di Kampung Rembang Jaya, Kecamatan Blambangan Umpu ini tidak terlalu sulit karena akses jalan sudah beraspal. Hanya sekitar satu kilometer sebelum tiba di lokasi saja yang masih berupa jalan keras. Namun kita dapat parkir kendaraan sampai ke pintu masuk lokasi wisata, dengan areal lahan yang sangat luas ini. Tidak sampai lima menit jalan kaki dari tempat parkir, kita sudah bisa sampai air terjun yang sudah dikelola dengan bagus ini.
potone adheb
Pemandangan Curup Kereta di Siang Hari
Bentuk curup kereta tidak terlalu tinggi seperti curup biasanya, tetapi melebar dengan ketinggian hanya sekitar 5 meter saja. Ada sekitar 5 aliran air yang berjajar di sepanjang lereng dengan lebar sekitar 20 meter itu. Beberapa anak terlihat bermain air, karena cukup aman dengan kondisi air yang tidak terlalu dalam. Bahkan sebagian terjun bebas dari atas curup yang tidak terlalu tinggi, membuat saya ingin cepat-cepat ikutan mandi.

Jika lelah, kalian bisa beristirahat di shelter yang sengaja dibuat untuk tempat isrirahat para wisatawan. Ada cukup banyak shelter di sini, dengan semilir angin yang sepoi-sepoi saat siang tiba, membuat saya tertidur sementara itu. Ada juga spot foto, bagi kalian yang ingin berfoto dari pohon dengan latar indahnya curup ini. Berbagai fasilitas juga disediakan di area wisata ini seperti flying fox, camping ground, serta beberapa permainan outbond yang lumayan banyak.

Curup Gangsa
Untuk menuju ke sini, kita masih melalui jalan yang sama seperti saat menuju ke Curup Kereta tadi. Dari Blambangan Umpu, kita lurus saja menuju ke Kecamatan Kasui mengikuti jalan aspal. Dari Kasui, masih lanjut menuju Dusun Tanjung Raya, Desa KotaWay di ujung kecamatan ini. Jalan di sini sudah bagus, tetapi ketika dari kecamatan Kasui kita harus melewati beberapa aspal yang sudah rusak terlebih dahulu.
potone adheb
Pemandangan Curup Gangsa dari Sungai
Begitu sampai dan parkir kendaraan, kita akan melihat air terjun yang menjulang tinggi, karena letak parkir berada di bagian atas. Dari situ, kita harus menuruni anak tangga yang cukup banyak dan berkelok-kelok untuk menuju lokasi air terjun. Tetapi jangan takut, karena selama perjalanan ada banyak spot instagramable yang bisa kita manfaatkan untuk berfoto, seperti tulisan-tulisan atau gubug yang tersedia di beberapa tempat untuk istirahat sambil berfoto ria. Bahkan ada juga top selfie dari bambu, khsus buat kalian yang ingin berfoto dengan latar air terjun.

Semburan air cukup deras, ketika saya mencoba mendekati curup dengan ketinggian hampir 50 meter ini. Sungguh luar biasa pesonanya dengan hamparan bebatuan besar yang timbul di sepanjang aliran sungai selebar sekitar 20 meter ini. Di sini, beberapa pengunjung sedang menikmati air sambil mandi dan duduk di bebatuan ketika saya mendekat. Di sebelah kiri terdapat jembatan bambu berwarna kuning dengan anyaman yang cukup menawan untuk tempat berfoto. Namun, kalian harus membayar dua ribu rupiah untuk menyeberanginya. Cukup lama berjalan-jalan, saya istirahat sebentar di gubug dekat jembatan bambu, sambil menikmati gemericik air dari Curup Gangsa yang menjulang tinggi di depan sana.

Air terjun Curup Gangsa bersumber dari patahan Sungai Way Tangkas yang mengalir dari Bukit Punggur melalui beberapa desa di Kasui seperti Tanjung Kurung dan Lebak Peniangan, tepatnya berada di bawah kaki Bukit Dusun Tanjung Raya. Konon, nama ‘Gangsa’ berasal dari legenda masyarakat setempat yang berarti gemerincing air terjun ini bagaikan suara seruling Gangsa, seruling bambu yang biasa digunakan oleh masyarakat pada masa lalu.

Curup Putri Malu
Pada awalnya saya tidak begitu tertarik untuk menuju curup yang harus ditempuh dengan medan yang cukup susah ini. Namun salah satu teman malah tertarik begitu mendengar lokasinya yang masih asri dan terpencil, dengan akses yang lumayan susah ditempuh untuk menuju ke lokasi. Akibat ketertarikan dan rasa penasarannya, saya jadi ikut  terbawa untuk mengunjungi curup yang menurut saya paling asri dan alami, menjadi surga tersembunyi di pelosok wilayah kabupaten ini.
potone adheb
Keindahan Curup Putri Malu
Wajar saja, wisata ini termasuk ke dalam wisata alternatif karena lokasinya yang cukup pelosok. Terletak di kampung Juku Batu, Kecamatan Banjit, curup ini sangat jauh dari pemukiman warga. Dari Baradatu saya mengambil arah ke Kecamatan Banjit, lalu menuju ke Kampung Juku Batu. Ketika melewati gapura masuk, alangkah terkejutnya saat bertanya ke warga, karena jarak yang harus ditempuh masih sekitar delapan kilometer lagi dengan jalan pegunungan naik-turun. Dengan nekat saya tetap melanjutkan perjalanan melewati bukit-bukit tajam nan curam dengan rasa was-was. Beruntung, karena perjalanan kami waktu itu di musim kemarau, sehingga jalan yang kami lalui hanya berdebu tanpa harus terpeleset licinnya jalan ketika musim hujan tiba.

Setengah jam perjalanan dari gapura, kita sampai di rumah paling ujung. Di sana kami menitipkan kendaraan dan harus berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju curug karena jembatan terakhir sedang diperbaiki. Di sini ada banyak rumah yang terlihat hanya sebagai pondok mereka ketika menggarap kebun. Biasanya terdapat tempat parkir yang terletak di ujung jalan sebelum tiba di area curup, ketika jembatan bisa dilalui. Kali ini kami harus jalan kaki turun ke sungai terlebih dahulu, dan kembali lagi ke jalan utama karena perbaikan jembatan yang sama sekali tidak bisa kami lewati.

Sebelum sampai ke curup, kami menjumpai beberapa gubug cukup besar yang terbuat dari potongan kayu dari sekitar lokasi. Cukup kreatif memang, karena warga menggunakan bahan lokal dikala akses menuju ke luar cukup susah. Begitu sampai ke curup, saya disuguhi oleh pemandangan yang sangat indah. Air terjun yang cukup tinggi menjulang di depan mata, dengan deburan air yang menunjam ke bawah. Gemuruh air terdengar begitu keras menumpahkan isinya ke bawah, membuat suasana semakin alami dengan pemandangan hijau penuh tumbuhan di sekeliling curup yang terletak di dalam pegunungan ini. Lengkungan air terjun ini bentuknya menyerupai punggung manusia yang sedang mandi, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai air terjun putri malu.



Minggu, 05 Mei 2019

Oh.. Abdi Bangsaku, Kasihanilah Muridmu.. ‘Cerita Kehidupan di Borneo Barat’

Semburat mentari sudah mulai menampakkan diri sejak pagi tadi, dan kini teriknya cukup menyengatkan badan saat kita berlama-lama di bawah sinarnya. Cuaca Borneo beberapa hari ini cukup panas akibat dilewati oleh garis khatulistiwa yang membelah bumi jadi dua bagian. Ah, mungkin titik ekuinoks sedang terjadi di belahan Bumi Borneo bagian barat sekarang ini.
adheb photo
Keceriaan Siswa SD pelosok di Kalimantan
Waktu menunjukkan jam setengah delapan pagi, keceriaan anak-anak SD sudah mulai ramai terlihat memenuhi sekolah di pelosok desa yang terletak cukup jauh dari ibukota kabupaten. Mereka berbondong-bondong datang untuk mencari ilmu demi bekal masa depan yang lebih baik. Seperti asa setiap orang tua dari kita dan mereka. Tentunya, pendidikan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan agar kehidupan dewasa mereka bisa lebih maju, lebih baik, dengan menyerap semua pelajaran yang diajarkan di sekolah dari kecil. Itulah harapan tak terbantahkan dari semua orang bagi generasi penerusnya.

Setengah jam kemudian semua guru sudah berada di sekolah, karena kegiatan belajar mengajar baru dimulai ketika jam delapan teng. Di kabupaten ini, hampir semua sekolah di pelosok desa baru memulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) pukul delapan pagi walaupun ada beberapa sekolah yang sudah memulai sebelumnya, tetapi hal seperti ini sulit untuk ditemui. Alasan geografis, lokasi guru yang jauh dari sekolah, cuaca, akses menuju sekolah, termasuk kondisi perekonomian keluarga (tepatnya kurangnya perhatian orang tua terhadap anak) membuat beberapa siswa harus membantu kegiatan orang tua sebelum mereka berangkat ke sekolah. Karena itulah, di kabupaten ini masih tetap memberlakukan kegiatan KBM selama 6 hari, bukan 5 hari seperti di beberapa daerah lain.
Ah… memoriku sedikit mengingat kembali, flasback suasana setahun yang lalu ketika aku mengunjungi lokasi yang sama…
----------------------------------------------------------------------
Di tempat yang sama seperti setahun lalu itu, mataku masih saja melihat keadaan sekeliling sekolah yang masih sama. Nyaris tanpa ada beda. Tidak ada perubahan dengan keadaan sekolah yang terlihat bersih dan lumayan terawat dibanding beberapa sekolah lainnya. Biasanya, di sore hari halaman sekolah dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menjemur padinya. Sama seperti tahun lalu, saya datang disaat musim ngetam tiba, dimana warga sibuk mengetam  padinya yang hanya bisa tumbuh sekali dalam setahun. Mereka menyebutnya dengan padi gunung. Senang rasanya bisa berjumpa kembali dengan beberapa abdi bangsa di sana yang masih semangat membagikan ilmu kepada anak didik dengan gigih. Beberapa guru di sini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Banten, Aceh dan sudah berpuluh-puluh tahun menjadi warga setempat sebagai pilihan jalan hidupnya.

Pak Wanari, merupakan seorang kepala sekolah yang open minded dan sangat terbuka kepada semua orang. Dia selalu berprinsip bahwa untuk dapat dipercaya oleh masyarakat, maka keterbukaan adalah hal yang utama tanpa harus ditutup-tutupi di dalam segala hal. Itulah kenapa beliau masih saja dipercaya untuk memimpin sekolah sampai sekarang, setelah kepala sekolah lama yang berasal dari Jogja pensiun beberapa tahun lalu. Beliau meneruskan tongkat kepengurusan ini tanpa pamrih, meskipun jabatannya hanya sebagai plt tanpa dapat tunjangan kepala sekolah yang seharusnya diterima. Maklum, golongannya belum menenuhi syarat untuk diangkat menjadi kepala sekokah, karna waktu itu dia melamar pns dengan ijasah SMA, walaupun sebenarnya dia sudah punya ijasah S1.

Dikala hampir semua sekolah meliburkan KBM di hari Sabtu ketika ada pertemuan KKG yang rutin diselenggarakan tiap 2 minggu sekali, beliau mempunyai kebijakan lain. Di sekolahnya, siswa diharuskan masuk walapun hanya bisa belajar dari jam delapan sampai setengah sepuluh. Setelah itu semua guru baru berangkat mengikuti kegiatan KKG. Biasanya baru dimulai jam sepuluh pagi, jika tidak molor agak siang. Dia tidak ingin siswanya kehilangan hak belajar mereka. Bayangkan saja, siswa di sini dan berbagai kecamatan lain harus kehilangan waktu belajar dua kali setiap bulan karena adanya KKG. Bukan karena kegiatannya, tetapi kebijakan kepala sekolah yang meliburkan siswa di waktu KKG membuat siswa dengan senang kehilangan hak mereka untuk memperoleh ilmu di sekolah. Lokasi KKG yang jauh atuapun rumah para guru yang jauh, membuat mereka memutuskan untuk meliburkan siswa setiap kegiatan KKG tiba. Ah, saya jadi bisa main ke sekolahan, melihat kegiatan dan belajar bersama dengan para siswa di Sabtu ini yang tetap masuk setengah hari.

Pernah suatu ketika saya melihat langsung Pak Wanari menegur aparat desa yang datang ke sekolah untuk menemui salah satu guru ketika masih mengajar, karena ternyata mereka datang bukan untuk urusan sekolah melainkan urusan desa yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Beliau menegur dengan santun tanpa menyinggung perasaan. Seperti guru-guru yang lain, hampir semua guru di sini mempunyai pekerjaan sampingan di luar mengajar seperti mengurus lahan karet atau sawit. Di luar kegiatan sekolah, Pak Wanari mempunyai toko kelontong yang terletak di pusat desa dan selalu ramai setiap harinya dengan perbagai stok perabot rumah tagga  lengkap termasuk pakaian sehari-hari. Ia menghabiskan waktu menjaga toko ketika tidak mengurus kegiatan sekolah. Sesekali, beliau bercocok tanam menanam sayur di pinggiran kebun sawitnya yang lumayan luas.

Ada juga Pak Jojon, guru penyabar yang selalu menerima tugas tanpa pamrih. Dua tahun terakhir beliau ditunjuk sebagai wali kelas 6, sebagai ujung tombak kelulusan dan juga pertaruhan baik-buruk sekolah di mata dinas. Jika ada siswa yang tidak naik kelas, otomatis wali kelas 6 harus menanggung malu, disamping kepala sekolah yang juga ikut andil dalam hubungan kriteria kegagalan suatu sekolah. Pak Jojon pernah bercerita bahwa sebenarnya lebih mudah mengajar kelas rendah, apalagi kelas menengah yang sudah punya modal membaca dan mengenal huruf, sehingga cukup mengajar seperti biasa tanpa harus capek-capek memberikan les tambahan sepulang sekolah, agar siswa lulus seratus persen. Namun, apapun yang ditugaskan oleh beliau harus dijunjung dengan iklas, suka rela, demi pendidikan di desanya yang lebih baik lagi. Kepala sekolah merasa bahwa beliaulah satu satunya guru yang paling dipercaya untuk membimbing dan meningkatkan pengetahuan siswa dengan maksimal. Selain mengajar, beliau juga diberi tugas tambahan mengurusi anggaran sekolah dari dana BOS, karena dia guru yang bisa menggunakan komputer dibanding guru PNS lain yang sudah sepuh. di luar sekolah beliau juga sebagai ketua KKG rayon ini, sehingga setiap pertemuan KKG, dialah yang merancang serta menjadwalkan kegiatan setiap bulannya.

Dengan adanya tunjangan khusus ini, beliau merasa sangat bersyukur, karena secara tidak langsung pemerintah ikut memperhatikan guru guru yang ada di remot area ini. Sekarang ini, jika ditotal dalam sebulan rata rata dia memperoleh pendapatan belasan juta dari gaji yang ia terima sebagai seorang guru. Belum lagi usaha lain seperti kebun sawit serta penggilingan padi yang ia kelola di rumah. Namun rumah yang ia tempati bukanlah rumah pribadi, melainkan rumah dinas sekolahan yang sudah ia diami selama beberapa tahun. Selama ini, ia fokus untuk menyekolahkan anak anaknya sampai kuliah. Anak bungsunya masih kelas satu SMA di Pontianak, sementara dua kakaknya sudah selesai kuliah. Suatu saat dia ingin membangun rumah kecil kecilan, sebagai bekal pensiun nanti, karena setelah pensiun, otomatis dia akan mengembalikan rumah milik negara yang masih dia tempati sekarang ini.

Ada dua keinginan besar yang ingin beliau wujudkan beberapa tahun ke depan setelah pemilu ini, karena saat ini dia juga masih sibuk mengurusi pemilu sebagai ketua KPPS di daerahnya. Di usianya yang hampir kepala lima, dia masih ingin meningkatkan golongannya menjadi 4B. Saya sendiri belum pernah menemui golongan seperti itu bercokol di sekolah SD yang pernah saya kunjungi. Persyaratan yang cukup menyulitkan seperti tugas bikin karya ilmiah, membuat guru guru nyaman berada di level 4A di usianya yang tinggal pensiun beberapa tahun lagi. Penguasaan teknologi, seperti kurang familiar dengan laptop atau computer membuat guru-guru senior terlalu gagap untuk menyelesaikan tugas memakai komputer yang masih grotal gratul ini.

Keinginan beliau yang satunya adalah lanjut kuliah S2. Apresiasi yang luar biasa dari dalam hati saya melihat kegigihan guru di pelosok seperti ini, yang masih mempunyai ambisi untuk mencari ilmu lebih luas lagi. Dari berdua cerita sampai larut malam waktu itu, saya yakin keinginannya bukanlah sekedar untuk meningkatkan pangkat atau golongan, mengingat usia dan golongannya sudah termasuk taraf yang mapan dan aman.
Ah… sangat betah rasanya berada di rumah beliau yang sangat sederhana nan menenteramkan, dengan hidangan masakan khas Melayu bikinan istrinya yang cukup terasa bumbunya.

Tetapi gak semua guru mempunyai pemikiran yang cemerlang seperti mereka. Pak Broug misalnya, yang berasal dari ujung barat Indonesia. Beliau sudah cukup puas dengan rutinitas mengajar sehari hari dan langsung mengerjakan urusan pribadi lainnya setelah pulang sekolah. Di usianya yang menjelang pensiun ini, beliau lebih memilih mengurusi usaha dan kebunnya setiap sore, sebagai warisan bagi anak cucunya kelak. Ada juga Pak Hani yang berasal dari Pulau Jawa bagian barat. Hingga saat ini, beliau selalu merasa serba kekurangan untuk membiayai dua anaknya yang sedang kuliah. Gaji dan tunjangan sebesar belasan juta tiap bulan terasa sangat kecil untuk kehidupan sehari-hari keluarganya. Padahal, dia juga rajin mengurus pekerjaan sampingannya ketika tidak mengajar. Rumah tingkatnnyapun terlihat lebih besar dan bagus dibandingkan beberapa rumah di sekitar kanan kirinya. Saat terjadi tsunami di akhir tahun lalu, beliau sedang pulang kampung seminggu untuk urusan pribadinya. Beruntung, dia selamat karna berada agak jauh dari lokasi. Ah, ternyata manusia tempatnya rakus...

Sebagian besar siswa SD ini berasal dari dusun setempat yang mayoritas penduduknya warga Melayu. Tempat ini merupakan satu-satunya dusun yang dihuni oleh orang Melayu, sementara dusun lainnya berasal dari warga lokal. Seperti di daerah Jawa, budaya Gemeinchaft cukup kentara di perkampungan yang lumayan padat ini. Hubungan kekerabatan inilah yang membuat mereka merasa harus sungguh-sungguh dalam mendidik siswa, karena yang mereka didik tidak lain adalah saudara sendiri. Di luar sekolahan, kepala desa cukup memperhatikan pendidikan di desanya. Beliau cukup inovatif dan masih muda. Wajar saja, di akhir tahun kemarin dia terpilih lagi untuk mengawal desa selama satu periode ke depan.

Sebenarnya pemerintah cukup perhatian pada guru-guru di pelosok daerah, dengan memberikan tunjangan tambahan. Harapanya, guru di perkotaan tertarik untuk mengajar ke pelosok sehinggga distribusi guru tidak hanya terpusat di perkotaan saja, tetapi ikut menyebar dan membawa perbaikan di desa desa. Program pengawasanpun juga diberikan mengikuti kebijakan yang ada, agar uang yang digelontorkan dengan jumlah yang tidak sedikit ini benar-benar terlihat manfaatnya. Salah satunya dengan pengawasan langsung oleh masyarakat desa setempat agar para guru rajin mengajar, disiplin, dan paling gak, dia rajin hadir, dan tidak makan gaji buta saja. Tetapi adanya tambahan tunjangan ini tidak serta merta menambah keaktifan guru untuk rajin datang ke sekolah seprti di SD Pak Wanari tadi. Masih banyak abdi negara yang nyaman dengan kehidupan sekarang, nyaman dengan metode pengajaran lama, dan susah move on meninggalkan kebiasaan.

Salah satu kepala sekolah di Jalompe, dimana kesejahteraan para guru akan meningkat dengan penambahan tunjangan khusus di tahun ini, dengan tegas menolak adanya program pengawasan sebagai imbas penambahan tunjangan.“Kalau pemerintah ingin meningkatkan pendapatan kami, itu sudah seharusnya, karna kami dari dulu banting tulang menghidupkan sekolah ini agar anak anak desa bisa sekolah, bisa pintar. Tetapi, jika dengan adanya tunjangan kami harus masuk pagi dan pulang siang, mending pemerintah tidak usah memberi yang muluk-muluk deh. Dua Puluh tahun lebih saya bersusah payah menghidupkan sekolah ini, dari dulu sendirian, dan sampai sekarang sekolah ini cuma diberi beberapa guru PNS saja, mana perhatian pemerintah? Sudah bertahun tahun sekolah saya sangat minim perhatian dari pemerintah”.

Sebenarnya beliau sedikit trauma dengan sekolah sebelah, yang sudah mendapat tunjangan tetapi terjadi konflik antara guru dengan warga setempat karena tidak mau diberikan pengawasan. Teringat sehari sebelumnya ketika saya datang ke sekolah ini jam 9 pagi kurang beberapa menit. Para siswa masih asik bermain, dan hanya ada 2 guru yang sudah datang bersiap siap menunggu jam 9. Secara formal, KBM memang dimulai jam 8 pagi, namun biasanya pak guru masuk jam 9 setiap harinya. Pengakuan semua murid sama ketika saya tanya, kenapa belum diajar guru. Ah,, jawaban polos para siswa memang tidak bisa dibohongi. Mereka masuk jam 9 dan pulang jam 10 setiap harinya.  Kadangkala jika gurunya betah, bisa pulang sampai jam stengah 11 atau jam 11 untuk kelas atas. Sementara kepala sekolah jarang hadir karena lebih sering tinggal di Ngabang menempati rumah pribadinya. Sesekali beliau datang ke sekolah menengok rumah dinas di samping kantor guru, yang ditempati oleh anaknya. Anaknyalah yang diberi tugas untuk mengurusi segala urusan di sekolahnya, walaupun tidak ada SK secara resmi. Banyak warga yang segan dengan beliau. Sejak tahun 86 dia sudah mengajar di sekolah ini dan nyaman dengan keadaan sehari-hari, sehingga beberapa kali menolak ketika akan dipindahtugaskan ke sekolah lain, termasuk dipindahkan ke dinas.

Pak Jaly, salah satu orang tua siswa bercerita kepada saya jika beberapa anak terpaksa tidak naik kelas karena ada permasalahan pribadi antara orang tuanya dengan kepala sekolah, termasuk dirinya. “Lebih baik kami diam dan cuek urusan sekolah, daripada anak-anak kami yang terkena imbas, bahkan sampai 2 kali tidak dinaikkan kelas. Padahal nilainya tidak kalah dengan teman kelas lain” katanya. Hidup di sini berpuluh puluh-tahun, membuat kepala sekolah mempunyai lahan yang cukup banyak, baik sawit, karet maupun kebun lain. Ketua komitepun sebenarnya sudah malas menjabat, karena partisipasinya di sekolah hanya sebatas tanda tangan tiap triwulan tanpa ia tahu lebih. Ia lebih suka berhenti jadi komite karena punya tanggungjawab moral yang besar sperti ketika dimintai tandatangan BOS yang tidak pernah ia tahu nilainya.

Di sekolah lain, masih dalam kecamatan yang sama, seorang guru memprotes keras adanya program seperti ini. Guru ini memperoleh beasiswa dari pemda, hingga bisa kuliah di Jawa sampai tahapan sarjana. Dua tahun terakhir dia ditugaskan untuk mengajar di sekolah ini dengan statusnya sebagai guru garda depan. Dia ingin, agar pengawasan seperti ini segera dihentikan, karena terlalu banyak prrmasalahan yang terjadi di sekolah. "Program ini terlalu banyak masalah, terlalu banyak konflik, makanya harus secepatnya dihentikan. Tetapi tunjangan untuk guru-guru harus tetap berjalan sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada guru, karena selama ini para guru mempunyai pendapatan yang tidak layak, sementara tugas yang diembannya cukup besar”, ucapnya sambil mencontohkan salah satu sekolah tadi yang sedang berkonflik dengan warga setempat. Tanpa beliau tahu, ketika berbincang dengan beberapa siswa dan orang tua, banyak yang mengatakan jika guru ini jarang hadir di sekolah. Rumahnya berada di Pontianak, dan masih sering berada di sana, sehingga hanya beberapa kali saja dalam seminggu dia datang ke sekolah.

Di kecamatan sebelahnya yang menjadi ibukota kecamatan di Kabupaten ini, saya bertemu dengan seorang kepala sekolah dengan pemikiran dan cara kerja yang sudah terbuka. Setahun menjabat sebagai kepala sekolah di SD yang harus ditempuh selama 2 jam dari kota ini, beliau berkeinginan untuk memperbaiki manajemen di sekolahan. Selama ini cukup amburadul tanpa ada sistem yang tertata rapi. Namun, satu tahun menjabat sebagai kepala sekolah ternyata tidak bisa meyakinkan para guru, karena ada 2 guru senior yang tidak mau diatur oleh kepala sekolah sekalipun, dan sering memprovokasi guru lain agar ikut mendukung pendapatnya. Pertama kali saya ke sana, dua guru yang tinggal di rumah dinas ini tidak masuk dan sedang berada di kota kabupaten entah untuk urusan apa, sementara para siswa hanya sekedar masuk tanpa apa pembelajaran akibat ditinggal gurunya untuk keperluan pribadi. “Mungkin mereka lebih mementingkan gaji, daripada sekedar kebiasaan mengajar yang hanya menjadi rutinitas harian saja. Hal seperti ini sudah sering terjadi”, kata guru honor yang masih rajin masuk mengajar para siswa setiap harinya. Sampai sekarang, kepsek hanya pasrah dan menunggu mereka yang satu dua tahun lagi pensiun tanpa bisa berbuat banyak.

Di polosok desa lainnya, dengan pusat kecamatannya yang sekaligus menjadi ibukota kabupaten ini, ternyata kondisinya tidak jauh berbeda. Ada salah satu sekolah yang hanya ada satu guru PNS yang standby mengajar, ditemani oleh semua guru honor yang rajin masuk setiap harinya. Sementara guru PNS lain jarang hadir ke sekolah, termasuk juga kepala sekolah. Ah,, hal yang mirip lagi-lagi kutemui. Kepala sekolah yang hanya datang beberapa kali dalam seminggu, bahkan ada juga PNS yang hanya pernah datang dalam hitungan jari selama tahun ajaran ini, kata beberapa guru yang takut jika info ini diketahui oleh atasannya dan memilih untuk diam. Jam sepuluh, orang tua sudah menunggu di depan halaman sekolah untuk menjemput anak-anak mereka, sebagai alasan para guru bahwa kegiatan KBM sudah harus diselesaikan. Memang benar, jika anak-anak rumahnya cukup jauh dari sekolah sehingga banyak yang dijemput, tetapi kebiasaan pulang lebih awal adalah hal buruk yang selalu diulang-ulang setiap harinya. Sementara mereka mempunyai jatah jam mengajar yang sudah ditentukan oleh dinas setiap minggunya.

Sudah kuhapal, setiap guru dan kepala sekolah yang malas selalu saja memprotes kedatangan kami karna tidak diberitahukan sebelumnya. Mereka beralasan hanya untuk menutupi ketidakdisiplinan guru bahkan dia sendiri agar terlihat rajin dan lengkap ketika kami datang. Tapi itulah makud kedatangan kami, agar kami bisa tahu keadaan yang sebenarnya di lapangan, seberapa semangat para guru bersedia mengajar dan membagikan ilmu kepada anak anak cemerlang di pelosok nengri ini. Apalah saya, hanya seorang petugas suruhan yang punya semangat tinggi untuk melihat suasana pendidikan di pelosok negri, memastikan agar mereka mendapatkan hak belajar dengan baik tanpa korupsi waktu yang mungkin sudah merajalela tanpa dirasa, tanpa dimengerti, termaklumi, bahkan mungkin sudah menjadi adat, budaya, dan tradisi. Jika saja, orang dinas rajin blusukan ke sekolah sekolah secara langsung dan menegur setiap guru yang rajin mangkir mengajar, tentunya mereka akan berubah sedikit demi sedikit. minimal mereka malu ketika ada sidak dari dinas, dan sedang asyik di rumah, sementara para siswa sudah menunggu ilmunya di ruang kelas.

Ternyata, tunjangan terpencil yang digelontorkan pemerintah lebih dari dua trilyun  per tahun ini belum signifikan untuk meningkatkan kesadaran guru agar lebih giat lagi dalam mengajar. Semua kembali lagi ke pemerintah, apakah akan tetap memberikan tunjangan tanpa merubah kedisiplinan guru, yang tentunya hanya mensejahterakan ekonomi guru semata, atau membuat model pengawasan yang tentunya membutuhkan biaya yang besar pula. Tetapi, pilihan tengah, yaitu dengan pengawasan dengan minim, tidak hanya dari bentuk kegiatan, tetapi juga anggaran, bukanlah hal yang terbaik, dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan sekolah tanpa pengawasan.





'nama dan lokasi sengaja disamarkan layaknya bunga desa dalam novel nusantara, kecuali keadaan yang benar adanya tanpa rekayasa'.

Kamis, 06 Desember 2018

Hidup Berdampingan, Berdamai Dengan OPM

Hidup Berdampingan, Berdamai Dengan OPM - Membaca postingan berita di media online hari ini, beberapa masih membahas seputar tewasnya para pekerja yang sedang membangun jalan trans di Papua sana, dan masih saja berlanjut dari beberapa hari yang lalu semenjak kejadian itu terjadi. Dengan jumlah korban meninggal yang cukup banyak dibanding kejadian serupa di tahun-tahun sebelumnya, wajar jika berita ini cukup ramai beberapa hari ini. Pemerintah mempublish sebagai bentuk bela sungkawa dan semangat patriotisme untuk menegakkan NKRI atau membumihanguskan terorisme di negeri ini. Sementara di kubu sana, OPM mempublish sebagai suatu bentuk luapan kegembiraan, bisa membasmi terorisme, atau meminimalisisr kolonialisme Indonesia yang selama ini ada.

Lantas, mana yang benar? Disini, saya akan sedikit mengulik yang saya tahu tentang OPM, dari pengalaman saya saat berada di Papua tahun 2012 lalu. Sejak beberapa tahun yang lalu pemerintah mengganti sebutan OPM dengan KSB atau KKSB. Kata/bahasa OPM terlalu berbahaya, terlalu melawan pemerintah, karena berkonotasi dengan separatis. Gantilah dengan KKSB, untuk mereduksi makna, agar terlihat sebagai segelintir orang, dan bukan banyak orang yang ingin menduduki Papua sering berbuat onar melawan tentara kita. 

Di saat telinga kita yang mulai lunak dengan bahasa KSB karena pemberitaan yang massif ini, sebenarnya mereka lebih suka disebut dengan OPM. Apakah semua OPM itu tentara bersenjata? Saya masih mengilustrasikan hal yang hampir sama dengan PKI pada masa lalu. Ada masyarakat yang berjuang dengan memanggul senjata, namun ada pula simpatisan yang secara tertutup mendukung perjuangannya. Terlihat abu-abu karena takut diketahui oleh kubu sebelah, entah warga atau pihak pemerintah. Sangat susah untuk melihat simpatisan ini, bahkan seringkali tetangga honai sendiri tidak tahu apakah rumah sebelah itu simpatian OPM atau pro pemerintah, jika tidak berhubungan dekat dengannya.

Bagi yang menenteng senjata, mereka menamakan diri sebagai TPNPB atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yang berjuang sejati merebut kemerdekaan West Papua. Nama ini secara resmi mereka gunakan, dan mempunyai kepengurusan di setiap tempat yang terdapat pendukungnya di Papua ini. Mempunyai ghirroh yang sama dengan pejuang lain, menjadi satu wadah, KNPB. Sasaran utamanya bukanlah masyarakat sipil. Mereka hanyalah menyasar tentara atau polisi, karena sama-sama bertugas memegang senjata. Selain itu fasilitas pemerintahan juga menjadi sasaran mereka, sehingga cukup aman bagi kita sebagai masyarakat sipil ketika berada di sana. Kecuali ada kejadian tertentu yang dianggap membahayakan mereka. Hal seperti ini sebenarnya sudah tertuang di dalam undang-undang yang ada, tapi saya lupa pasal berapa.. hehe..

Trus kenapa kemarin banyak sipil yang meninggal? Ada beberapa masalah menurut saya. Pertama Saat saya di sana, saya selalu waspada setiap tanggal 1 di bulan Juli dan Desember, karena itu merupakan hari proklamasi dan kemerdekaan Papua Merdeka. Di tanggal itu mereka akan selalu memperingati layaknya kita setiap tanggal 17 Agustus, baik upacara ecara tertutup ataupun terang-terangan. Makanya, seringkali terjadi peristiwa bentrokan ketika mereka memproklamirkan secara terang-terangan, bahkan pembunuhan ketika upacara mereka yang sembunyi-sembunyi merasa diusik  atau diganggu. Seperti kejadian kemarin misalnya, dari pemberitaan menyebutkan bahwa pekerja sedang melihat, bahkan memfoto kegiatan mereka ketika itu. Hal ini sangatlah mengusik kekhusukan kegiatan mereka, karena sesuatu acara yang dianggap sakral. Saya selalu takut dan harus selalu waspada apabila harus berkegiatan di bulan-bulan tersebut di sana, karena selalu saja ada kejadian yang terjadi, walaupun lokasinya berbeda-beda.

Kedua OPM menganggap bahwa mereka itu bukanlah warga sipil, melainkan tentara zipur yang menyamar sebagai pekerja, entah tujuannya untuk sekedar mengintai atau supaya pembangunan jalan trans tersebut dirasa aman, di tengah wilayah Papua yang cukup berbahaya. Wajar saja, mereka bangga dengan kejadian kemarin dan dengan lantang mengakui aksi tersebut. Seringkali, aksi pembunuhan yang terjadi seperti di wilayah Puncak berhubungan dengan aparat baik polisi atau tentara, karena itu adalah target mereka. Saya sendiri memilih untuk menghindar jika ada tentara atau polisi di mobil yang sama ketika menuju daerah yang jauh saat di Wamena. Mending bersama warga lokal jika akan ke Mamberamo atau ke arah Tolikara yang juga pernah ramai pembakaran beberapa waktu lalu.

Ketiga, ternyata OPM tidak suka dengan adanya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di wilayahnya. Walaupun akan semakin membuka akses distribusi, tetapi itu hanya menguntungkan warga Indonesia. Mereka akan semakin terdesak dengan bertambah ramai dan mudahnya akses ini, sehingga ruang gerak menjadi semakin sempit. Itu mungkin juga sebagai jawaban, mengapa beberapa bulan lalu beberapa pekerja proyek (hanya warga sipil) tewas terbunuh saat mengerjakan pembangunan jalan trans ini, tanpa adanya baku tembak dengan aparat.

Masalah komunikasi, tentara masih kalah taktis dengan OPM (walaupun belum tentu kalah secara teknologi). Mereka lebih hafal medan sendiri, bagaiaman cara berkomunikasi dengan luar, dan bagaimana menjalin jaringan dengan anggota lain untuk mengabarkan berita kepada pendukungnya secara cepat. Terbukti, sampai sekarang gerak-gerik mereka masih susah untuk ditembus oleh aparat, dan hanya saat ada kejadian saja tentara bergerak aktif melibas mereka, itupun hanya di titik kejadian, bukan meluas ke akar rumput yang lain. 

Sampai sekarang saya masih percaya jika sinyal masih sangat susah di sebagian besar pegunungan tengah ini. Informasi lewat mulut masih menjadi salah satu andalan mereka, disamping komunikasi melalui SSB sebagai andalan utama. Saya tidak tahu, apakah militer hanya mengandalkan telpun satelit untuk berkomunikasi di rerimbunan hutan? Atau punya alat lain yang bisa digunakan untuk berkomunikasi, saya yang awam ini juga tidak tau. Masih teringat jelas di pikiran saya, ketika Mako Tabuni, seorang wakil ketua KNPB yang meninggal di Jayapura tahun 2012 lalu saat operasi militer. Ketika itu saya sedang berada di Korupun, sebuah distrik di pelosok Kabupaten Yahukimo yang harus ditempuh selama seminggu jalan kaki dari Wamena, walaupun hanya satu jam saja jika menggunakan pesawat carter. Hanya dua hari berselang dari kematiannya beritanya sudah sampai di semua pendukungnya di tempat itu. Padahal hanya radio SSB-lah alat komunikasi satu-satunya yang ada di situ. Dan saya masih bingung tidak percaya bagaimana mereka berkomunikasi, karena SSB sendiri hanya berhubungan dengan bandara Wamena hany untuk urusan penerbangan. Itu  yang saya tahu. Itulah mengapa, jika ada yang bertanya kejadian kemarin, kenapa pemberitaannya telat sekali? kejadian dua hari yag lau baru diberitakan sekarang..

Mayoritas OPM mendiami wilayah pegunungan tengah Papua yang sangat luas dengan hutannya yang sangat lebat ini, membuat mereka sangat leluasa untuk menjalankan kegiatannya. Ini adalah daerah mereka sendiri, sehingga sangat mudah dan hafal untuk bergerak atau berpindah-pindah dan bersembunyi di tengah hutan. Beberapa orang yang berpengaruh turun ke bawah di Jayapura baik untuk belajar, mencari dukungan, atau menginformasikan eksistensi mereka ke netizen di luar. Tetapi beberapa melarikan diri ke negara lain yang aman bagi kehidupan mereka seperti Belanda, Inggris, atau Australi jika sudah merapa terpojok akibat intaian dan sorotan yang terus menerus oleh tentara Indonesia. Belanda merupakan salah satu negara yang relatif aman untuk bersembunyi sekaligus mencari dukungan demi bebasnya Papua Barat. Bahkan mereka akan membuka kantor perwakilannya di sana seperti yang diberitakan beberapa bulan lalu.

Terakhir, saya ingin sedikit bercerita, bahwa saya pernah hidup berdampingan dan ‘berdamai’ dengan mereka ketika saya melakukan kegiatan di daerah Yogosem, kampung kecil di ketinggian hampir 3.000 mdpl selama beberapa minggu. Saya tahu di daerah tersebut banyak pendukung OPM baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Kepala suku memberitahukan kepada kami mana warga yang mendukung dan mana yang tidak, walaupun saya tidak bisa mengamati satu per satu karena mukanya hampir semuanya sama. Ada salah satu warga yang terang-terangan, dan mengusir kami untuk segera angkat kaki dari tempat itu. Dia datang di pagi hari secara sembunyi-sembunyi agar pengusirannya tidak diketahui oleh warga lain yang menjaga kami. 

Waktu itu, saya sendiri tidak begitu peduli apakah dia pro atau kontra, selama dia bisa bersahabat, demi keamanan kami saat kegiatan tersebut. Dari informasi, beberapa warga dekat rumah ada simpatisannya, dan saya tetap saja bercengerama, bersahabat dengan mereka selama hal itu baik, tanpa mengusik preferensinya atau preferensi saya. Asal saya tidak mengangu mereka, dan mereka tidak menganggu saya, itu sudah cukup tanpa harus mempermasalahkan hal lain yang tidak substantif.
Namun beda jika urusannya masalah NEGARA.


Ini hanya cerita dari pengalaman, bukan dari penelitian yang mendalam.. so,sak karepmu, piye persepsimu