Jumat, 17 Juli 2020

Teknik Navigasi Darat (Bag 5) Menentukan Arah Tanpa Kompas dan Memperkirakan Cuaca

1.  Menentukan Arah Tanpa Kompas
Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mementukan suatu arah tanpa mempergunakan kompas yaitu :
Dengan tanda-tanda alam, misalnya 
  • Kuburan orang Islam, biasanya membujur dari utara ke selatan, dengan batu nisan berada di sebelah utara.
  • Masjid selalu menghadap ke kiblat/ barat laut
  • Matahari terbit dari timur, dan terbenam di sebelah barat
  • Sebagian pohon yang berlumut, menunjukkan arah timur, karena terik sinar matahari belum terlalu panas.

Dengan tanda bintang 
  • Semua benda langit berjalan dari arah timur ke barat
  • Perhatikan rasi bintang salib (gubug penceng), perpanjangan garis diagonal yang memotong secara horizontal dari tempat kedudukan kita adalah sebelah selatan.

Memeperkirakan Cuaca
Tanda alam
  • Jika hari terang/cerah
  • Sebelum matahari terbenam, maka langit berwarna merah
  • Di pagi hari terdapat embun dan kabut
  • Di malam hari, bulan dan bintang bercahaya

Jika cuaca hujan/ kurang baik
  • Awan gelap dan bergantung rendah
  • Matahari tenggelam berwarna pucat
  • Di pagi hari biasanya terdapat pelangi
  • Di pagi hari udara terasa panas dan kering

Jika akan terjadi badai
  • Terdapat hujan sebelum angin
  • Matahari terbit dari balik awan
  • Awan bergerak dengan garis-garis yang jelas
  • Terjadinya pertukaran cuaca
  • Terdapat banyak angin sebelum hujan, dan tidak jadi hujan
  • Pagi hari udara terasa panas dan kering

Tanda dengan binatang
  • Jika akan terjadi hujan, biasanya burung terbang rendah, semut-semut tetap berada di dalam sarangnya, dan di malam hari, cacing menimbun tanah berbutir, dan apabila hujannya lama, maka akan keluar dari lubangnya.
  • Jika terjadi pergantian cuaca, maka semut akan keluar dari sarangnya, dan mondar-mandir, cacing tetap berada di dalam lubang, dan kelelawar terbang hingga senja. 




Teknik Navigasi Darat (Bag 2) Mengenal Peta

Secara singkat, peta adalah gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan di bidang datar dengan skala tertentu. Definisi lain, menyebutkan bahwa peta adalah penggambaran dua dimensi pada bidang datar dari sebagian atau seluruh permukaan bumi yang dilihat secara tegak lurus dari atas dan diperkecil atau diperbesar dengan skala dan metode tertentu. 
Contoh Peta permukaan Gunung Merapi
Peta telah digunakan sejak bangsa Babylonia sekitar tahun 2300 SM. Ketika itu peta digunakan oleh pemerintah untuk kegunaan pajak tanah. Ilmu khusus yang mempelajari tentang seluk-beluk perpetaan dinamakan kartografi. Sedangkan orang yang menguasai teknik pembuatan peta atau menguasai ilmu perpetaan disebut kartograf atau kartografer. Di Indonesia badan khusus yang berwenang membuat dan mengeluarkan sumber peta nasional adalah BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional).

Peta merupakan penyajian data dan informasi permukaan fisik bumi yang penggunaannya ditujukan untuk memudahkan para pemakai dalam menelusuri suatu obyek. Pada peta, dapat diperoleh analisa kondisi medan seperti jalan setapak, gunung, lembah, jurang, sungai, desa, dan sebagainya tanpa harus berada pada lokasi yang kita amati. Tujuan dari adanya peta tersebut adalah untuk menyajikan gambar dari bentuk-bentuk permukaan bumi agar memungkinkan untuk dianalisa maupun diukur.  Peta sendiri, kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Untuk keperluan navigasi darat, umumnya dipakai peta topografi.

Adapun fungsi peta antara lain adalah :
1.Menunjukkan posisi atau lokasi dari suatu daerah/wilayah yang terdapat di permukaan bumi.
2.Memperlihatkan ukuran, bentuk, jarak, dan luas suatu wilayah di permukaan bumi.
3.Memperlihatkan atau menggambarkan bentuk-bentuk permukaan bumi.
4.Menyajikan data tentang potensi suatu daerah.
5.Komunikasi informasi ruang.
6.Membantu suatu pekerjaan, misalnya untuk konstruksi jalan, navigasi atau perencanaan.
7.Analisis data spesial, misalnya perhitungan volume.
8.Membantu pembuatan suatu disain, misalnya disain jalan.
9.Sebagai penunjuk jalan bagi orang yang melakukan travelling.
dan lain sebagainya.

Ada berbagai macam peta, tergantung kebutuhuan kita. Ditinjau dari jenisnya, terdiri dari peta foto dan peta garis. Peta Foto ialah peta yang dihasilkan dari mozaik foto udara atau ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda. Peta Garis ialah peta yang menyajikan detail alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan.

Ditinjau dari informasinya, terdiri dari peta umum dan khusus. Peta Umum/Peta Ikhtisar adalah peta yang menggambarkan segala sesuatu yang ada dalam suatu daerah. Di dalam peta umum terdapat antara lain sungai, sawah, tempat pemukiman, jalur jalan raya, jalur jalan kereta api, dan sebagainya. Sedangkan Peta Khusus/Peta Tematik adalah peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan tertentu di permukaan bumi saja. Contoh peta tematik antara lain : peta kepadatan penduduk, peta kriminalitas, peta irigasi, peta transportasi, peta tanah dan lain-lain.

Jika dilihat dari skalanya, maka ada 3 macam  peta, yaitu peta teknis, yang menyajikan gambaran proyeksi permukaan fisik bumi untuk keperluan teknis tertentu, seperti peta jaringan kereta api, jaringan jalan raya, dan sebagainya. Peta ini berskala besar, antara 1:10.000, maupun kurang dari itu. Peta topografi, menyajikan gambaran proyeksi sebagian dari permukaan bumi, dan sering digunakan pecinta alam untuk kegiatan penjelajahan. Berskala sedang, antara 1: 25.000 hingga 1: 250.000. Peta geografik, menyajikan gambaran proyeksi seluruh permukaan bumi. Biasanya dituangkan dalam atlas. Skalanya 1: 250.000 atau lebih. 

Skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak sesungguhnya dengan satuan atau tehnik tertentu. Semakin kecil angka  dibelakang tanda maka makin besar skala peta tersebut. Begitu juga sebaliknya, semakin besar  angka  dibelakang tanda maka makin kecil  skala peta tersebut.Semakin besar skala suatu  peta, maka akan semakin spesifik dan jelas informasi yang akan kita dapatkan. 

Ada tiga macam jenis skala pada peta, yaitu : 
Skala Angka atau Skala Numeric
yaitu skala yang menunjukkan perbandingan antara jarak di peta dan jarak yang sebenarnya di lapangan, yang dinyatakan degan angka pecahan. Contohnya seperti 1 : 1.000 yang berarti 1 cm di peta sama dengan 1.000 cm jarak aslinya di dunia nyata.

Skala satuan, biasnya disebut skala Inci (Verbal Scale)
yaitu skala yang menunjukkan jarak inci di peta sesuai dengan sejumlah mil di lapangan.Misalnya 1 inchi to 5 miles dengan arti 1 inch di peta adalah sama dengan 5 mil pada jarak sebenarnya. 1 inci = 4 mil, artinya 1 inci di dalam peta = 4 mil di lapangan. Contoh negara yang menggunakan sistem ini adalah Amerika.

Skala Garis atau Skala Grafis 
yaitu skala yang ditunjukkan dengan garis lurus, yang dibagi-bagi dalam bagian yang sama setiap bagian menunjukkan satuan panjang yang sama pula.
skala garis
Macam-macam arti warna pada peta
Warna Laut
hijau             : 0 - 200 meter dpl / ketinggian.
kuning          : 200 - 500 meter dpl / ketinggian.
coklat muda : 500 - 1500 meter dpl / ketinggian.
coklat           : 1500 - 4000 meter dpl / ketinggian.
coklat berbintik hitam : 4000 - 6000 meter dpl / ketinggian.
coklat kehitam-hitaman : 6000 meter dpl lebih / ketinggian.
Warna Darat
biru pucat : 0 - 200 meter / kedalaman.
biru muda : 200 - 1000 meter / kedalaman.
biru           : 1000 - 4000 meter / kedalaman.
biru tua     : 4000 - 6000 meter / kedalaman.
biru tua berbintik merah : 6000 meter lebih / kedalaman.

Untuk keperluan bernavigasi darat, seperti yang sering dipakai oleh para pecinta alam, umumnya menggunakan peta topografi, sesuai dengan daerah yang ingin dijelajahi. 
Secara bahasa, topografi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata. Yaitu "topos", yang berarti tempat dan "grafos" yang berarti gambar. Peta topografi memetakan tempat permukaan bumi yang reliefnya diwakili oleh garis kontur yang setiap garis kontur mewakili ketinggian tertentu, sehingga dengan garis kontur ini kita bisa melakukan orientasi medan (ormed). 

Pada peta topografi, disertai pula berbagai keterangan untuk mengetahui lebih jelas tentang daerah permukaan bumi yang dipetakan diantaranya yaitu :
Judul Peta
Judul peta terdapat pada bagian atas tengah peta, menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta bersangkutan. Lokasi berbeda maka judulnya akan berbeda pula. Biasanya berada dibagian tengah atas suatu peta.
Nomor Peta
sebagai nomor registrasi  dari badan pembuat, nomor peta juga berguna sebagai petunjuk bila kita memerlukan daerah lain di sekitar daerah yang terpetakan. Biasanya di bagian bawah disertakan juga indeks nomor yang mencantumkan nomor-nomor peta yang ada di sekeliling peta tersebut. Biasanya dicantumkan di sebelah kanan atas peta
Keterangan Peta
Keterangan Peta Merupakan informasi dari pembuatan peta tersebut, sepeti tahun pembuatannya, nama instansi pembuat, sistem proyeksinya, dan tujuan /keperluan dari pembuatan peta tersebut. Semakin baru tahun pembuatannya, maka data yang disajikan akan semakin akurat.
Skala peta
Skala peta adalah jarak anatara di peta dengan medan yang sebenarnya. Skala peta dapat berupa skala angka, satuan, maupun garis.
Legenda Peta
Legenda Peta Yaitu informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta. Legenda ini memuat arti dari simbol yang dipakai didalam peta, seperti riangulasi, Jalan, Jalan setapak, Sungai, Desa, Pemukiman dan lain-lain. 
Arah Peta 
Yang perlu diperhatikan dalam sebuah peta adalah arah utara peta. Cara paling mudah yaitu dengan memperhatikan arah huruf-huruf tulisan yang ada pada peta. Arah atas tulisan adalah arah utara peta. Pada bagian bawah peta biasanya juga terdapat penunjuk arah utara peta, utara sebenarnya dan utara magnetis. Utara sebenarnya menunjukkan arah kutub utara bumi. Utara Magnetis menunjukan kutub utara magnetis bumi. 

Kutub utara magnetis bumi letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara bumi, kira-kira di sebelah utara Kanada di Jasirah Boothia. Karena pengaruh rotasi bumi,  letak kutub magnetis bumi bergeser dari tahun ke tahun. Utara Magnetis adalah arah utara yang ditunjukkan oleh jarum magnetis kompas. Untuk keperluan praktis, utara peta, utara sebenarnya dan utara magnetis dapat dianggap sama. Untuk keperluan yang lebih teliti perlu dipertimbangkan adanya peta Ikhtilaf Magnetis, Ikhtilaf Peta Magnetis dan Variasi Magnetis.

Utara sebenarnya (TN) :  Mengarah pada kutub Utara dan sesungguhnya menggambarkan garis lintang bola dunia (Globe), dalam perjalanan tidak perlu diperhatikan.
Utara Peta (GN) : Sebagai Garis Vertikal pada peta, merupakan proyeksi garis lintang dan bujur dunia pada bidang datar (Peta).
Utara Magnetis (MN) : Arah yang ditunjuk oleh Jarum Kompas, tidak tepat ke arah Kutub Utara, tetapi ke Jazirah Boothia di Utara Kanada.
mengenal utara peta

  • Deklinasi Peta adalah beda sudut antara sebenarnya dengan utara peta. Ini terjadi karena perataan jarak paralel garis bujur peta bumi menjadi garis koordinat vertikal yang digambarkan pada peta. 
  • Deklinasi Magnetis adalah selisih beda sudut utara sebenarnya dengan utara magnetis.
  • Deklinasi Peta magnetis adalah elisih besarnya sudut utara peta dengan utara magnetis bumi.
  • Variasi Magnetis adalah perubahan/pergeseran letak kutub magnetis bumi pertahun. 

Koordinat Peta
Koordinat Peta adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan dengan garis yang saling berpotongan tegak lurus. Dalam menyatakannya cara membaca koordinat dengan menyatakan suatu kedudukan titik pada bidang atau terhadap dua garis bilangan. Titik koordinat merupakan nilai bilangan yang menyatakan kedudukan dari titik tersebut pada sistem koordinat yang digunakan. Koordinat terbentuk dari garis yang mendatar (horisontal) dan garis yang tegak (vertikal) yang saling berpotongan. 

Sistem koordinat yang resmi dipakai ada 2 yaitu:
koordinat geografis (geographical coordinate)
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur yang tegak lurus terhadap garis khatulistiwa dan garis lintang yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat ini dinyatakan dengan suatu derajat, menit, dan detik. Garis bujur 0 derajat berada di kota Greenwich, London. Misalnya, titik A (106°45’52,55”).

koordinat grid (gridal coordinate)
Dalam koordinat grid ini kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Di Indonesia misalnya titik acuan NOL ini ada di sebelah barat Jakarta  ( 60LU-98BT ). Untuk menyatakannya, dikenal berbagai sistem koordinat, baik sistem 4 angka, 6 angka, maupun 8 angka. Semakin tinggi angka yang dipakai, maka semakin tinggi pula kadar akurasi yang dihasilkan. Misalnya, titik A= 23,34 ME : 55,71 MN.

Ada juga sistem koordinat lokal, yang dibuat  tergantung dari keperluan dan jarak antara garis-garis yang berpotongan datar dan tegak lurus. Biasanya berjarak 1 cm. Koordinat ini tidak bisa dipakai pada daerah yang luas dan kegiatan yang besar.

Garis Kontur adalah garis khayal berbelok-belok, yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian sama dari permukaan air laut.  Adapun sifat-sifat garis kontur secara umum antara lain :
  • Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.
  • Garis kontur yang lebih rendah mengelilingi garis ontur yang lebih tinggi
  • Garis kontur tidak pernah berpotongan
  • Kontur yang rapat menunjukkan medan yang curam, sedangkan kontur yang renggang menunjukkan daerah yang landai.
  • Pada daerah yang landai, maka garis konturnya saling berjauhan, sedangkan pada daerah yang rapat garis konturnya akan saling berdekatan.
  • Pada kerapatan tertentu, biasanya diberi indeks kontur/ garis kontur tebal (biasanya setiap 10 kontur)
  • Garis kontur yang berbentuk huruf “U” menandakan punggungan gunung, dimana ujungnya menjauhi puncak.
  • Garis kontur yang berbentuk huruf “V” terbalik menandakan lembah, dimana ujung yang melengkung mendekati arah .puncak.

garis kontur


Selasa, 05 Mei 2020

Teknik Navigasi Darat (Bag 4) Teknik Peta dan Kompas

1. Orientasi Peta / Medan
Orientasi Medan pada adalah menyamakan kedudukan (apa yang digambarkan) di peta, dengan kondisi medan yang sebenarnya. cara ini sangat membantu dalam ilmu navigasi sehingga kita dapat menentukan posisi kita dengan tanpa membidik kompas. Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bukit, sungai, tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam  yang terlihat dan mencocokkan dengan gambar kontur yang ada dipeta. Untuk  keperluan praktis , utara magnetis dianggap sejajar dengan utara sebenarnya, tanpa memperlitungkan adanya deklinasi. 
ormed
Langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu :
  • Cari tempat yang terbuka, agar terlihat tanda medan yang jelas
  • Letakkan peta di bidang datar
  • Samakan antara utara peta dengan utara kompas, dengan cara meletakkan kompas diatas peta dan sejajarkan antara arah utara peta dengan utara magnetis/utara kompas, dengan demikian, letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.
  • Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekeliling anda dan temukan tanda medan tersebut dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan yang ada.
  • Ingat tanda medan itu, bentuk dan tempatnya dimedan sebenarnya maupun dipeta, ingat-ingat tanda medan yang khas dari setiap tanda medan.

2. Resection
Resection adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan bentang alam  yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak setiap tanda medan harus selalu dibidik.

Langkah-langkah resection :
  • Lakukan orientasi peta/medan
  • Cari tanda medan yang mudah dikenali di medan sebenarnya dan di peta, minimal 2 buah titik
  • Bidik tanda medan tersebut dengan  kompas, dan perhatikan derajat yang dihasilkan dari bidikan tersebut, back azimuthkan hasil dari bidikan tadi
  • Lakukan untuk 2 tanda medan atau lebih, agar hasil yang kita dapatkan lebih akurat
  • Pindahkan hasil tersebut ke sudut peta
  • Tarik garis lurus 2 atau lebih objek tersebut dengan protactor
  • Perpotongan 2 garis tersebut akan menghasilkan posisi dimana kita berada
  • Untuk melakukan pengecekan kita gunakan orientasi medan dengan peta

 3. Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Teknik intersection ini digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat di lapangan, pada teknik ini kita harus yakin dahulu posisi kita di peta. 

Langkah-langkah intersection adalah :
  • Lakukan orientasi peta/medan
  • Tentukan posisi kita di peta
  • Bidik obyek sasaran kita
  • Pindahkan sudut kompas ke sudut peta
  • Bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut di peta, ulangi langkah di atas
  • Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut/ lebih yang didapat adalah posisi obyek sasaran di peta.

4. Plotting Peta
Plotting Peta adalah menggambar garis, titik, atau tanda tertentu ke dalam peta. 
Misalnya :
  • Lembah atau sungai kita gambar dengan garis warna biru
  • Jalan setapak kita gambar dengan garis warna kuning
  • Punggungan, kita gambar dengan garis warna hijau
  • Lintasan perjalanan, kita gambar dengan garis warna merah
  • Garis resection, kita gambar dengan pensil
Namun, plotting peta ini, di tempat saya  tidak semuanya dipakai.
Yang sering dipakai adalah :
  • Lintasan perjalanan, sebelum melakukan perjalanan kita melakukan plotting lintasan perjalanan yang akan kita lalui, dengan garis putus-putus. 
  • Garis bidikan, biasanya setelah kita melakukan bidikan, baik resection, maupun intersection, kita menggarisnya menggunakan pensil.
  • Realisasi perjalanan yang dilakukan setelah kita tiba di tempat tujuan, yaitu garis lintasan realisasi perjalanan sebenarnya yang kita tempuh, karena dalam melakukan perjalanan kita tidak selalu sama dengan plotting lintasan perjalanan yang kita buat, karena adanya berbagai rintangan yang ada selama perjananan yang tidak kita ketahui. Realisasi perjalanan ini dibuat dengan garis lurus, dari titik sebelumnya menuju titik terakhir kita. 
Fungsi dari plotting peta yaitu :
  • Sebagai perencanaan perjalanan dari titik awal, hingga titik akhir
  • Untuk mempermudah dalam memahami medan
  • Agar posisi kita bias terkontrol sewaktu-waktu.
  • Agar kita mengetahui dan memahami hambatan-hambatan kita di dalam melakukan perjalanan.

5. Analisa Perjalanan
Analisa perjalanan perlu dilakukan agar kita dapat membayangkan kira-kira medan apa yang akan kita lalui, dengan mempelajari peta yang akan dipakai. Yang perlu di analisa adalah jarak, waktu dan tanda medan.

Jarak   
Jarak diperkirakan dengan mempelajari dan menganalisa peta, yang perlu diperhatikan adalah jarak yang sebenarnya yang kita tempuh bukanlah jarak horizontal.  Kita dapat memperkirakan jarak (dan kondisi medan) lintasan yang akan ditempuh dengan memproyeksikan lintasan, kemudian mengalihkannya dengan skala untuk  memperoleh jarak sebenarnya. Untuk lintasan yang lurus, maka bisa menggunakan penggaris untuk kemudian diperhitungkan dengan skala peta.
Sedangkan untuk lintasan yang berbelok, dapat dilakukan dengan menggunakan benang, dengan memposisikan benang tersebut sesuai dengan lintasan yang berliku-liku, kemudian dibentangkan, dan diukur dengan penggaris, untuk diperhitungkan dengan skala yang ada.
Namun, cara yang paling mudah yaitu dengan menggunakan alat ukur yang bernama kurvi meter. Alat ini berbentuk seperti roda, dan cara memakainya tinggal kita jalankan alat ini (seperti menjalankan roda) mengitari lintasan dari ujung awal hingga ujung akhir lintasan, setelah itu kita lihat hasil yang tertera di dalamnya. Namun, sebelum menjalankannya, kita harus mengesetnya terlebih dahulu, dengan menyamakan skala yang ada di kurvimeter dengan skala peta yang kita pakai. Yang paling umum adalah skala 1:25.000 dan 1:50.000. Biasanya, alat ini menempel menjadi satu di pinggir kompas. 

Waktu  
Bila kita dapat memperkirakan jarak lintasan, selanjutnya kita harus memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Tanda medan juga bisa untuk menganalisa perjalanan dan menjadi pedoman dalam menempuh perjalanan. Dalam memperkirakannya, kita tidak hanya perpatokan pada jarak lintasan dengan skala yang ada, tetapi kita juga harus mempertimbangkan hal-hal lain, seperti: lama waktu yang kita butuhkan untuk melakukan orientasi medan, untuk kita istirahat, makan, dan lain sebagainya. Sehingga kita bisa lebih mempertajam analisa perjalanan kita dari awal hingga titik berikutnya/ hingga titik terakhir. 
Ada sebuah teori untuk memperkirakan waktu tempuh, yang bernama aturan Naismith/teori Naismith. Dalam teori ini, kecepatan rata-rata orang berjalan di medan datar sejauh 5-6 km/jam, sedangkan untuk tanjakan, sekitar 600m per jam. Tetapi, dalam memperkirakan waktu, sebaiknya kita mengacu pada pengalaman kita masing-masing, karena yang lebih paham akan kondisi dan kekuatan kita adalah diri kita masing-masing.

Tanda medan 
Kita dapat mempertajam analisa perjalanan kita dengan memanfaatkan tanda medan yang ada, seperti bukit, punggungan, lembah, maupun sungai yang akan kita lewati, sehingga perjalanan yang akan kita lalui terasa ringan. Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa peta yang kita pegang salah. Memang banyak sungai-sungai kecil yang tidak tergambarkan di peta, karena sungai tersebut kering ketika musim kemarau. Ada kampung yang sudah berubah, jalan setapak yang hilang, dan banyak perubahan-perubahan lain yang mungkin terjadi.  
Bila kita menjumpai ketidaksesuaian antara peta dengan kondisi lapangan, baca kembali peta dengan lebih teliti, lihat tahun keluaran peta, karena semakin lama peta tersebut maka banyak sekali perubahan yang terdapat pada peta tersebut. Jangan hanya terpaku pada satu gejala yang tidak ada di peta sehingga hal-hal yang yang dapat dianalisa akan terlupakan. Kalau terlalu banyak hal yang tidak sesuai, kemungkinan besar anda yang salah (mengikuti punggungan yang salah, mengikuti sungai yang salah, atau salah dalam melakukan resection). Peta 1:50.000 atau 1:25.000 umumnya cukup teliti.
Update terus peta yang akan kita pergunakan. Semakin baru peta yang kita pakai, maka semakin akurat data yang ada. Misalnya saja, jika kita memakai peta lereng selatan merapi antara tahun 1984 dengan peta tahun 2008, maka akan terasa sekali perbedaan yang ada, apalgi dengan peta yang terbaru, yaitu peta setelah erupsi merapi tahun 2010. Maka, akan terlihat banyak perubahan-perubahan yang terjadi.

6. Mengetahui Ketinggian Suatu Tempat
Untuk mengetahui ketinggian suatu tempat secara manual dapat dilakukan dengan melihat terlebih dahulu interval peta, lalu hitung ketinggian tempat yang ingin kita ketahui, memang ada rumusan umum interval kontur= 1/2000 skala peta. Tetapi, rumus ini tidak selalu benar. Beberapa peta topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala 1:50.000 (interval kontur 25 m) , tetapi kemudian diperbesar menjadi berskala 1:25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter.  
Pada suatu kondisi tertentu yang mendesak, misalnya  SAR gunung hutan, sering kali peta diperbanyak dengan cara di foto kopi. Untuk itu, interval kontur peta tersebut harus tetap ditulis. Peta keluaran Bakosurtanal (1:50.000) membuat kontur tebal untuk setiap kelipatan 250 meter, atau setiap selang 10 kontur. Seri peta keluaran AMS (skala 1:50.000) membuat garis kontur tebal untuk setiap kelipatan 100 meter. peta keluaran Direktorat Geologi Bandung tidak seragam ketentuan ketebalan garis konturnya. Dengan demikian tidak ada ketentuan khusus dan seragam untuk penentuan garis kontur tebal.  

Macam-macam garis ketinggian antara lain :
  1. Garis ketinggian sebenarnya, yang diukur dari permukaan air laut relative/ rata rata (MDPL).
  2. Garis ketinggian nisbi, yang diukur dari suatu tempat yang telah diketahui tingginya. 

Bila ketinggian kontur tidak dicantumkan, maka kita harus menghitung ketinggian suatu tempat dengan cara :  
  • Cari 2 titik berdekatan yang nilainya tercantum  
  • Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa kontur yang terdapat antara keduanya (jangan menghitung kontur yang sama  harganya bila kedua titik terpisah oleh lembah).  Dengan mengetahui selisih ketinggian kedua titik tersebut dan mengetahui juga jumlah kontur yang didapat, dapat dihitung berapa interval konturnya (harus me rupakan bilangan bulat).  
  • Lihat kontur terdekat dengan salah satu titik ketinggian (bila kontur terdekat itu berada diatas titik, maka nilai kontur itu lebih besar dari titik ketinggian. bila kontur terletak dibagian bawah, nilainya lebih kecil). Hitung nilai kontur terdekat itu yang merupakan kelipatan darinilai interval kontur yang telah diketahui dari perhitungan sebelumnya, lakukan perhitungan diatas beberapa kali sampai yakin dri nilai yang didapat untuk setiap kontur.
  • Cantumkan nilai beberapa kontur pada peta anda agar mudah mengingatnya.  

Selain dari garis kontur, kita dapat dapat mengetahui  tinggi suatu tempat dengan bantuan titik ketinggian, misalnya seperti titik Triangulasi , yaitu suatu titik atau benda berupa pilar/tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi digunakan oleh jawatan-jawatan topografi untuk menentukan suatu ketinggian tempat dalam pengukuran ilmu pasti pada waktu pembuatan peta.

Macam titik triangulasi :
Primer : P.14/3120   
Kuarter : Q.20/1350  
Sekunder : S.75/1750   
Tersier : T.16/975
Namun, untuk mempermudah melihat ketinggian suatu tempat, kita bisa juga menggunakan alat seperti GPS, maupun altimeter. Altimeter merupakan alat pengukur ketinggian yang bisa membantu dalam menentukan posisi. Pada medan yang bergunung tinggi, resection dengan menggunakan kompas sering tidak banyak membantu, disini altimeter lebih bermanfaat. 
Dengan menyusuri punggungan-punggungan yang mudah dikenali di peta. Altimeter akan lebih berperan dalam perjalanan, yang harus diperhatikan dalam pemakaian altimeter yaitu bahwa setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi. Periksa ketelitian altimeter di titik-titik ketinggian yang pasti. Altimeter sangat peka terhadap guncangan, perubahan cuaca, dan perubahan temperatur. Prinsip kerjanya berdasarkan tekanan udara. 

7. Koreksi sudut  
Pada pembahasan utara telah dijelaskan bahwa utara sebenarnya dan utara kompas berlainan. Hal ini sebetulnya tidaklah begitu menjadi masalah penting jika selisih sudutnya sangat kecil, akan tetapi pada beberapa tempat, selisih sudut/deklinasi sangat besar sehingga perlu dilakukan perhitungan koreksi sudut yang didapat dari kompas(azimuth)yaitu :  
A. Dari kompas (K) dipindahkan ke peta (P): P= K +/- (DM +/- VM)  
B. Dari peta( P) dipindahkan ke kompas (K): K= P +/- (DM +/- VM)   
Keterangan:  
Tanda +/- diluar kurung untuk DM (deklinasi magnetis/iktilaf magnetis)  
= dari K ke P: DM ke timur tanda (+), DM ke barat tanda (-) = dari P ke K: DM ke timur tanda (-), DM ke barat 
tanda (+)  
Tanda +/- di dalam kurung untuk VM (variasi magnetis)  
=tanda (+) untuk increase/naik; tanda (-) untuk decrease/turun.  

Contoh Perhitungan:  
Diketahui sudut kompas/azimuth 120 derajat, pada legenda peta tahun 1942 tersebut: DM 1 derajat 30 menit ke timur, VM 2 menit increase, lalu berapa sudut yang akan kita pindahkan ke peta?  
P= K=+/- (DM +/- VM) ingat! kompas ke peta, DM ke timur VM increase  
besar VM sekarang (2002)= (2002-1942)x 2 menit  = 120 menit= 2 derajat (1 derajat=60 menit)  
sudut P= 120 derajat + (1 menit 30 detik + 2 derajat)  = 123 derajat 30 menit, jadi sudut yang dibuat di peta adalah 123 1/2 derajat.

Selasa, 03 Maret 2020

Teknis Navigasi Darat (Bag 3) Mengenal Kompas

Kompas adalah alat penunjuk arah pada bidang datar, untuk mengetahui arah utara magnetis. Jarum kompas selalu menunjuk ke arah kutub magnetis bumi, yang kemudian disebut utara magnet/ magnetic north (UM/MN), dengan titik sasarannya yang disebut dengan sudut kompas. 
   
kompas
Kompas bekerja berdasarkan medan magnet, dan mampu menunjukkan dengan tepat kedudukan dari kutub-kutub magnet bumi.  Hal ini terjadi apabila dalam pemakaian kompas tidak dipengaruhi oleh medan magnet atau medan listrik serta benda-benda yang mengandung unsur logam. Pada umumnya, kompas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
a.Badan kompas, merupakan tempat komponen-komponen kompas lain berada
b.Jarum kompas, yang selalu menunjuk arah kutub utara dan selatan magnet bumi
c.Skala penunjuk, menunjukkan bagian derajat arah mata angin dan skala derajat

Macam-Macam Kompas
Pada dasarnya, jenis kompas ada berbagai macam, namun berdasarkan fungsinya,terdapat 2 macam kompas, yaitu :
Kompas bidik, merupakan kompas yang digunakan untuk mengetahui azimuth suatu benda dari tempat kita berada dengan cara membidik. Kompas yang mudah digunakan untuk  membidik sasaran, namun dalam penggunaannya  membutuhkan peta, penggaris, dan protacktor sebagai intepretasi dari hasil yang di bidik . Misalnya, kompas prisma.
contoh kompas bidik
Kompas orienteering, merupakan kompas yang digunakan untuk melakukan suatu kegiatan orientasi, baik orientasi peta maupun orientasi medan perjalanan. Misalnya, kompas silva. Kompas silva kurang akurat jika dipakai untuk membidik, tetapi banyak membantu dalam pembacaan dan perhitungan di peta.
contoh kompas orientering
Kompas yang baik adalah kompas yang memiliki tingkat keakurasian yang tinggi terhadap derajatnya, jarum penunjuk arah stabil, dan pada ujungnya dilapisi fosfor agar dapat terlihat dalam keadaan gelap.

Pemakaian Kompas
Kompas dipakai dengan posisis horizontal, sesuai dengan arah garis medan magnet bumi. Dalam pemakaiannya, perlu dijauhkan dari benda-benda yang mengandung unsur logam, karena bisa mempengaruhi jarum kompas, sehingga tingkat keakurasiannya akan berkurang. Adapun cara penggunaan kompas :
  • Pertama, kita hilangkan gangguan lokal yang dapat mengganggu kinerja kompas.
  • Kita atur kedudukan kompas, agar benar-benar pada posisi mendatar (horisontal) sesuai dengan arah garis medan magnet bumi.
  • Orientasikan arah kompas ke sasaran yang dituju
  • Bidik sasaran secara tepat dengan melihat posisi kompas (mendatar) melalui celah pembidik, garis rambut, dan obyek garis lintasan harus berada pada satu garis lurus,  agar didapat derajat yang sebenarnya.
  • Baca skala derajat penyimpangan antara kutub utara dengan garis lintasan yang ditunjuk jarum kompas dengan benar.
  • Sudut penyimpangan tersebut merupakan besaran sudut kompas yang kita cari.

Sudut kompas atau disebut juga dengan azimuth besarnya dihitung searah dengan jarum jam. Ada 3 macam azimuth, yaitu:
Azimuth sebenarnya, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran
Azimuth magnetis, yaitu besaran sudut yang dibentuk antara utara magnetis  dengan titik sasaran
Azimuth peta, yaitu besaran sudut yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.

Back azimuth adalah besaran sudut ke belakang, sebagai kebalikan dari azimuth. Cara menentukan back azimuth yaitu :
Jika azimuth (X°) kurang dari 180°, maka ditambah 180°.
Jika azimuth (X°) lebih dari 180°, maka dikurangi 180°. 
Bila sudut azimuth = 180 derajat maka back azimuthnya adalah 0 derajat atau 360 derajat.
Adapun, fungsi back azimuth yaitu untuk mengoreksi arah litasan agar kita tetap berada pada satu garis lurus, dan juga untuk mempermudah kita dalam melakukan resection. 

Rabu, 01 Januari 2020

Teknik Navigasi Darat

Tujuan akhir dari suatu penjelajahan atau pengembaraan adalah kembali lagi ke tempat asal dengan selamat.  Begitu juga dengan para pecinta alam yang akan melakukan penjelajahan ataupun pendakian gunung. Oleh karena itu, seorang pendaki gunung  harus mampu menguasai navigasi darat secara terampil, setidak-tidaknya untuk dirinya sendiri agar tidak tersesat dalam perjalanannya. Hal seperti ini merupakan sebuah sikap antisipasif dari konsekuensi-konsekuensi yang akan timbul. 
Navigasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk menentukan posisi dan arah. Sedangkan navigasi darat adalah penentuan posisi arah perjalanan, baik di peta maupun di medan sebenarnya dengan menggunakan teknik-teknik tertentu. Orang yang melakukan navigasi darat disebut sebagai navigator. Pemahaman kompas, peta, serta teknik-teknik penggunaanya harus dimiliki dan dipahami dengan baik. Pengetahuan bernavigasi darat ini berguna bila suatu saat tenaga kita diperlukan untuk usaha-usaha pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan atau tersesat di gunung dan hutan, dan juga untuk keperluan olahraga antara lain lomba orienteering.

Kata “navigasi darat” sendiri berasal dari bahasa Yunani. Yaitu dari kata navis yang berarti kapal/perahu, dan agere yang berarti mengarahkan. Dalam istilah lain, navigasi darat sering juga disebut dengan Ilmu Medan Peta Kompas (IMPK). Navigasi darat erat kaitannya dengan para pecinta alam yang akan melakukan kegiatannya di alam terbuka. Karena itu, perlu adanya perencanaan perjalanan yang cermat sebelum menjelajahi medan yang akan dilalui, karena aktifitas kepecintaalaman merupakan jenis kegiatan yang beresiko tinggi (high risk activity). Apabila pemahaman kita terhadap navigasi darat tersebut maksimal, maka kita akan dapat mengantisipasi kondisi medan jelajah yang akan kita tempuh, dan selanjutnya dapat menentukan langkah-langkah praktis sekaligus memanfaatkan kondisi medan untuk meminimalisir resiko yang ada.  

Adapun kunci dari ilmu Navigasi Darat ini antara lain seperti adalah kemampuan dalam merekam dan membaca peta, kemampuan menggunakan kompas dan alat navigasi lainnya, maupun kemampuan mengorientasi medan dan peta. Apabila kita telah memahaminya, maka sebaiknya kita selalu mengaplikasikannya, minimal secara berkala. Orang yang telah mahir navigasi darat sekalipun, jika ilmunya sudah lama tidak diaplikasikan, maka akan kesulitan untuk mengingatnya kembali. Hal dasar yang wajib kita pahami dalam bernavigasi darat yaitu meliputi: peta, kompas, dan teknik pemakaiannya, baik peta maupun kompas.  

Dalam melakukan navigasi darat, ada beberapa perangkat alat yang kita gunakan, seperti:
Bumi
Bentuk bumi kita tidak bulat seperti bola, tetapi lebih menyerupai ellipsoid. Hal ini menyebabkan jari-jari bumi di ekuator dan jari-jari di kutub bumi tidak sama.

Kutub-kutub bumi
Kutub bumi merupakan titik khayal, karena tidak terdapat tanda khusus di medan sebenarnya. Kutub utara dan selatan bumi dinamakan kutub sebenarnya atau kutub geografik. Kutub utara bumi sering disebut dengan True North, sedangkan kutub selatan bumi disebut dengan True South. 

Lintang dan Bujur
Adalah garis khayal yang melintang dan membujur dari garis ellipsoid.
Garis Lintang merupakan garis yang melintang secara horizontal/ datar. digunakan untuk menentukan lokasi di bumiterhadap garis khatulistiwa. Garis lintang yang berada di sebelah utara khatulistiwa disebut dengan garis lintang utara, sedangkan garis lintang yang berada di sebelah selatan khatulistiwa disebut lintang selatan. Lintang Utara dan Lintang Selatan menyatakan besarnya sudut antara posisi lintang dengan garis Khatulistiwa. Garis Khatulistiwa sendiri adalah lintang 0 derajat. Makin ke utara atau ke selatan, angka derajatnya makin besar hingga pada angka 90º (Sembilan puluh derajat) pada ujung kutub utara atau kutub selatan.

Satuan derajat bisa juga disebut Jam sehingga setiap derajat terbagi menjadi 60 menit (dengan simbol ‘) dan setiap menit terbagi lagi menjadi 60 detik (dengan simbol ”). Jika misalnya garis lintang suatu tempat tertulis seperti ini : 57º 27′ 14”LS, maka dibaca sebagai 57 derajat 27 menit 14 detik Lintang Selatan. Pada sistem pemetaan internasional huruf U sebagai Lintang Utara diganti dengan huruf N (North). Sedangkan Lintang Selatan tetap menggunakan huruf S karena Selatan dalam bahasa Inggris (South) juga berawalan huruf S.

Garis Bujur merupakan garis yang membujur secara vertikal /tegak lurus. Garis bujur yang berada di sebelah barat meridian (Greenwich) disebut sebagai bujur barat, sedangkan garis yang membujur di sebelah timur meridian (Greenwich) disebut bujur timur. Dengan pengetahuan seperti itu berarti derajat antar garis bujur semakin melebar di daerah khatulistiwa dan makin menyempit di daerah kutub. 

Jika pada Garis Lintang, daerah yang dilalui garis khatulistiwa (equator) dianggap sebagai nol derajat, untuk Garis Bujur, tempat yang dianggap sebagai nol derajat adalah garis dari kutub utara ke kutub selatan yang tepat melintasi kota Greenwich di Inggris. Jarak kedua garis bujur itu dari Greenwich hingga pada batas 180º (seratus delapan puluh derajat). Pada jarak itu, Bujur Barat dan Bujur Timur kembali bertemu. Garis bujur inilah yang pada perkembangannya dijadikan sebagai patokan dalam menentukan waktu di berbagai belahan dunia.

Sama seperti garis lintang, jarak antar garis bujur juga disebutkan dalam satuan derajat. Penulisannya pada koordinat juga sama seperti penulisan untuk Garis Lintang. Yang membedakan hanyalah symbol huruf di belakangnya. Misalnya huruf B untuk Bujur Barat dan huruf T untuk Bujur Timur. Pada peta internasional, huruf E (East) untuk Bujur Timur dan huruf W (West) untuk Bujur Barat.