Rabu, 16 Februari 2011

Pendidikan Zaman Sekarang Yang Hanya Berorientasi Praktis Semata

Pendidikan Zaman Sekarang Yang Hanya Berorientasi Praktis Semata - Dunia pendidikan saat ini sudah berbeda jauh orientasinya daripada di zaman dahulu. Dahulu, jika seseorang kuliah di sebuah universitas misalnya, maka mahasiswa tersebut tidak hanya fokus untuk belajar di bangku kuliah saja. Tetapi, mereka juga belajar untuk berorganisasi, belajar hidup mandiri, maupun belajar untuk bermasyarakat, sehingga KKN (Kuliah Kerja Nyata) sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa, sangatlah berkesan, karena mereka benar-benar menjalankannya dengan sepenuh hati, tidak hanya berorientasi untuk mendapatkan nilai semata. Hal ini merupakan salah satu wahana pembelajaran bagi mahasiswa, agar mereka dapat memahami dan merasakan bagaimana hidup di dalam masyarakat yang sebenarnya.

Pada saat ini, sistem pendidikan, khususnya di bangku kuliah dibatasi hanya sampai 14 semeter saja. Jika seorang mahasiswa di semester terakhir tersebut tidak bisa menyelesaikan perkuliahannya, maka ia akan dikeluarkan dari kampus tempatnya kuliah (drop out).  Pihak kampus sendiri seakan-akan memberikan dukungan cara berpikir praktis ini. Misalnya saja, jika seorang mahasiswa dapat menyelesaikan masa studinya dengan cepat dari target yang ditempuhnya (4 tahun), apalagi dengan nilai IPK cum laude, maka ia akan mendapatkan penghargaan pada saat wisuda, dan namanya akan didengung-dengungkan sebagai suatu kebanggaan bagi pihak universitas. Hal seperti ini secara tidak langsung akan memacu para mahasiswa untuk menyelesaikan masa studinya secepat mungkin.

Dengan adanya orientasi seperti ini, maka mahasiswa hanya akan berkutat pada masalah kuliah dan kuliah. Ia akan selalu belajar agar mendapatkan IP (Indeks Prestasi) terbaik dan lulus cepat. Tanpa disadari, mereka tidak mempunyai waktu luang untuk melakukan kegiatan-kegiatan lainnya seperti mengikuti organisasi, unit kegiatan mahasiswa, bermasyarakat, ataupun kegiatan lain yang sangat berguna bagi seorang  mahasiswa. Padahal, kegiatan seperti ini sangat berguna bagi mahasiswa untuk meingkatkan kemampuan soft skill disamping kemampuan hard skill yang ia miliki. Kemampuan soft skill yang mereka miliki ini yang nantinya lebih banyak dipakai di kehidupan setelah lulus kuliah nanti dalam menghadapi dunia kerja dan tantangan zaman yang semakin dinamis dengan kompleksitas problematikanya yang terus meningkat. Walaupun IPK mereka bagus, tetapi tanpa ada kemampuan soft skill yang mereka kedepankan, ijasah mereka tidak begitu diperhitungkan. Alhasil, para sarjana sekarang ini banyak yang “gagap” setelah mereka lulus kuliah.

Untuk itu, perlu adanya suatu program agar para mahasiswa sadar akan pentingnya kemampuan soft skill tanpa adanya suatu tuntutan untuk lulus dengan cepat. Dengan adanya kesadaran ini, maka mahasiswa diharapakan bisa mempergunakannya untuk kebaikan kehidupannya. hasil penelitian NACE (National Association of Colleges and Employers) pada tahun 2005 menyebutkan bahwa pada umumnya pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa 82% soft skills dan 18% hard skills. Kemampuan soft skill seperti ini lebih banyak didapatkan mahasiswa di luar bangku kuliah. 

Namun, alangkah lebih baik lagi jika seorang mahasiswa mempunyai kedua-duanya. Ia dapat menyelesaikan perkuliahannya secara wajar (apalagi dengan IP yang bagus), juga memiliki kemampuan soft skill yang baik. Dengan adanya kemampuan yang seimbang antara soft skill dan hard skill yang ia miliki, maka akan menciptakan life skill yang dapat menjadi bekal untuk menapaki kehidupan baru setelah lulus kuliah nanti.

Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.