Senin, 07 Maret 2011

Bait-Bait Suci Gunung Rinjani

Bait-Bait Suci Gunung Rinjani - Dimulai dari pengalamannya pada saat mendaki Gunung Rinjani, Fajar bersama temannya, Bambang, memulai pendakian melalui jalur Sembalun, dimana pada saat itu pendakian sedang ditutup. Suasana menjadi semakin mengenaskan manakala pendakian itu terasa sepi. Maklum, jika pendakian sedang ditutup, maka setiap orang dilarang untuk mendakinya.
Rinjani
Namun, di pos Plawangan Sembalun mereka bertemu dengan Ria yang tomboi abis, bersama dengan teman-temannya yang kebetulan sedang mendaki lewat jalur Senaru.  Tempat ini memang tempat camp para pendaki, karena merupakan pertemuan pendakian dari jalur Senaru dan Sembalun, sebelum menuju ke puncak tertinggi. Perkenalan itu berlanjut karena mereka nge-camp di tempat yang sama, baik di Plawangan Sembalun, maupun di Danau Segara Anak.

Pertemuan yang mengesankan ini akhirnya menjadi terngiang-ngiang hingga Fajar tiba di rumah. Namun, mereka tidak bisa saling kontak, karena nomor hp yang dicatat di handphone Bambang, ternyata hp nya malah hilang. 

Hingga suatu ketika, Fajar akrab dengan Imel, teman kuliah adiknya yang curhat masalah jodoh, dan Fajar pun akhirnya menjali hubungan dengan Imel. Mereka tiap hari selalu rajin berkomunikasi menggunakan telfon. 

Suatu ketika saat Fajar sedang di pondok, dia mendapatkan kabar setelah menelfon Imel, dan pembantunya mengabarkan bahwa Imel telah tiada. Begitu hancurnya perasaan Fajar, karena kekasih hati yang akan dijadikan seorang istri ini meninggalkan dunia karena kecelakaan yang tak bisa dihindarkan. 

Untuk menghilangkan kegundahan, suatu saat ia jalan-jalan dengan temannya ke air terjun di dekat pondok. Tanpa sengaja, ia bertemu kembali dengan Ria yang sedang melakukan penelusuran gua di dekat air terjun. Singkat cerita, Fajar kembali bertemu dengan Anis, teman Ria pada saat dia menjadi panitia sebuah acara di rumah neneknya. Anis mengajak Fajar untuk kembali mendaki Rinjani, untuk napak tilas almarhumah Ria, yang sudah meninggal. 

Alangkah terkejutnya, sampai di Sembalun, ternyata suatu yang tak terduga terjadi. Perjalanan tersebut bukan untuk napak tilas, melainkan Fajar diminta untuk menikahi Ria, sang gadis tomboy yang pernah memasuki relung hati Fajar saat itu. Ria sekarang ingin berubah menjadi wanita yang baik, dan kembali ke jalan yang benar, sepeninggalan ibunya. Akad nikah ini telah dipersiapkan oleh Anis selama sebulan. Akhirnya, mereka melakukan akad nikah di lereng Rinjani, dan Ria menepati janjinya untuk mengajak Fajar mendaki puncak ini berdua. 

Novel ini sangat mengesankan dan sangat bermnfaat apalagi bagi teman-teman yang suka berpetualang mendaki gunung. Bagi anda yang ingin melakukan pendakian ke Rinjani, novel ini cukup menggambarkan keadaan di sana, sehigga menjadi buku yang sangat direferensikan untuk dibaca sebelum melakukan pendakian. Selain itu, novel ini juga mengajak kita semua untuk memperhtikan nasib daripada anak-anak jalanan, bukan untuk mencaci mereka. 

Namun, menurut saya ada beberapa yang perlu untuk diperbaiki, jika novel ini dicetak ulang. Misalnya saja, pada saat pendakian dari Base  Camp Sembalun menuju ke Plawangan Sembalun, dalam novel ini ceritanya sangat singkat. Padahal, sangat banyak tempat-tempat yang menarik selama perjalanan pendakian dari start hingga Plawangan, sehingga pemahaman mereka yang berkeinginan melakukan pendakian semakin berkurang. Selain itu, ada beberapa kata asing tentang petualangan yang salah penulisannya, walaupun sudah dicetak miring. 

Terakhir, yang menurut saya cukup fatal adalah cerita pendakian Gunung Rinjani yang pertama, dimana ia mendaki pada saat jalur pendakian sedang ditutup. Walaupun tidak terlalu beresiko, namun pendakian ini dianggap ilegal, dan sangat-sangat tidak mendidik bagi para petualang. 

Di luar itu semua, novel ini bagi saya sangatlah berkesan, apalagi saya baru membacanya setelah melakukan perjalanan pendakian Rinjani ini, sehingga saya cukup memahami alur pendakian, antara yang diceritakan di dalam novel dengan yang sebenarnya. Semoga teman-teman membaca novel dari seorang santri yang juga aktif mengurusi anak jalanan ini. Poko’e, 2 jempol buat Mas Khaerul Shidiq, dan semoga novel-novel berikutnya segera diterbitkan agar bisa menyaingi novel Habiburrahman, amin…

Minggu, 06 Maret 2011

Simulasi Penanggulangan Bencana Banjir

Simulasi Penanggulangan Bencana Banjir - Banjir… banjir… banjir…    terdengar teriakan dari warga yang panic karena banjir dating menyelimuti perkampungan mereka. Bersamaan itu, suara kentongan saling bersahut-sahutan. Tak berapa lama, regu penolong yang beranggotakan anak-anak Mapalaska dating mengevakuasi korban menggunakan perahu karet, baik ibu hamil yang terjebak banjir, orang yang hanyut terbawa arus banjir, korban pingsan, maupun korban yang meninggal. Kemudian dibantu oleh warga sekitar dan tim PMI, korban diungsikan ke tempat yang lebih aman. 
Suasana seperti itu hanyalah simulasi penanggulangan banjir, yang diadakan oleh BKM Kelurahan Prenggan, bekerja sama dengan JRF (Java Reconstruction Fund), dan Dinas Pekerjaan Umum. Ikut terlibat di dalamnya antara lain warga Kelurahan Prenggan, TNI, Kepolisian, PMI Jogja, dan Walhi Jogja (yang diwakili oleh anak-anak Mapalaska). Kegiatan ini dilakukan 2 kali, yaitu pada Hari Sabtu dan Minggu.
Gladi resik dilakukan pada hari Sabtu, 2 Maret 2011. Pertama kita Portaging terlebih dahulu dari Walhi sampai ke sungai Gajah Wong, yang letaknya sekitar 500 meter dari Walhi. Personil pada hari itu hanya 3 orang, yaitu Go-Blank, Bonte, dan Nana, dibantu oleh Papi (Sulis), sehingga untuk operasional cukup menguras banyak tenaga. Gladi resik  baru dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Ada beberapa adegan dan pelaku di situ. Mulai dari pemeran sebagai korban, tim penolong, polisi, TNI, koramil, maupun pemeran sebagai pencuri di kala sepi. Tim Mapalaska sendiri berperan sebagai tim penolong. Untuk adegan yang pertama, kita menemukan orang pingsan di tepian, dan ada ibu-ibu hamil yang terjebak pada saat banjir. Kemudian kita evakuasi, hingga ketepian, dan dibantu warga, juga tim PMI, korban dibawa ke tempat yang aman. Untuk adegan yang kedua, kita mengevakuasi 2 mayat yang terapung di aliran banjir, dan juga ada 2 warga yang minta tolong karena terbawa arus banjir. Adegan kedua ini, cukup berat, karena perahu terasa penuh, terisi oleh orang cukup banyak. Selain itu, mayat yang dibopong terasa lumayan berat.
Adegan yang terakhir adalah menyelamatkan 2 warga yang hanyut di sungai. Untuk adegan yang ketiga ini kita tidak menggunakan perahu, namun cukup melemparkan throwing bag untuk kemudian membawa korban menepi. Adegan-adegan tadi tidak hanya dilakukan sekali saja, namun secara berulang-ulang. Setelah semuanya selesai, kita evaluasi sebentar untuk tindak lanjut esok hari, disertai makan snack yang telah disediakan oleh panitia.
Di hari Minggu, kita awali seperti biasa, yaitu portaging dari Walhi menuju ke TKP. Portagging kali ini agak mendingan dari sebelumnya, dikarenakan ada tambahan personil, yaitu mas Zen dari Walhi. Tidak seperti hari sebelumnya, hari ini warga terlihat lebih banyak. Selain itu, tamu undangan yang hadir juga banyak, baik dari TNI, Polisi, lurah-lurah se-Kota Gede, maupun dari jajaranWalikota.
Pukul 15.00 WIB, acara pembukaan dimulai, diawali oleh sambutan-sambutan. Sambutan terakhir yaitu dari Pak Wakil Walikota (karena Pak Walikota sedang ke Suriname) sekaligus memukul kentongan, yang diikuti pemukulan kentongan oleh masyarakat yang bertugas di poskamling. Warga merasa panik, karena ada banjir datang. Tak berapa lama, tim penolong dari Mapalaska (Nana, Go-Blank, Bonte, dan Mas Zen) dating menolong korban. Untuk simulasi yang kedua ini kami agak kuwalahan, karena koordinasinya kurang maksimal, dan tidak sesuai dengan scenario pertama. Selain itu, dari tim skenario, yang menempatkan titik sebanyak 8 korban, sedangkan perahu hanya satu, membuat kami cukup berusaha keras untuk bolak-balik mengevakuasi korban. 
Namun, secara keseluruhan itu semua dapat teratasi. Terlihat, simulasi bagian kami yang dilihat oleh cukup banyak warga, yang cukup antusias untuk menyaksikannya, juga Pak Wakil Walikota Jogja. Setelah korban diangkut ketempat yang aman, giliran PMI yang bertugas untuk  menanganinya.
Bersamaan dengan selesainya simulasi, maka sekaligus diadakan upacara penutupan di Lapangan, dengan suasana hujan yang cukup deras. Alhamdulillah, semua dapat berjalan dengan lancar. Dengan adanya simulasi seperti ini, maka diharapkan warga sekitar dapat lebih tanggap dalam hal pengurangan resiko bencana, khususnya bencana banjir, sehingga jumlah korban dapat diminimalisir. Juga pada semua tim yang mengikuti, agar dapat menambah skil ldalam penanggulangan bencana agar lebih sigap jika terjadi bencana sewaktu waktu.

Simulasi Penanggulangan Bencana Banjir



Simulasi Penanggulangan Bencana Banjir - Banjir… banjir… banjir…    terdengar teriakan dari warga yang panic karena banjir dating menyelimuti perkampungan mereka. Bersamaan itu, suara kentongan saling bersahut-sahutan. Tak berapa lama, regu penolong yang beranggotakan anak-anak Mapalaska dating mengevakuasi korban menggunakan perahu karet, baik ibu hamil yang terjebak banjir, orang yang hanyut terbawa arus banjir, korban pingsan, maupun korban yang meninggal. Kemudian dibantu oleh warga sekitar dan tim PMI, korban diungsikan ke tempat yang lebih aman. 

Suasana seperti itu hanyalah simulasi penanggulangan banjir, yang diadakan oleh BKM Kelurahan Prenggan, bekerja sama dengan JRF (Java Reconstruction Fund), dan Dinas Pekerjaan Umum. Ikut terlibat di dalamnya antara lain warga Kelurahan Prenggan, TNI, Kepolisian, PMI Jogja, dan Walhi Jogja (yang diwakili oleh anak-anak Mapalaska). Kegiatan ini dilakukan 2 kali, yaitu pada Hari Sabtu dan Minggu.

Gladi resik dilakukan pada hari Sabtu, 2 Maret 2011. Pertama kita Portaging terlebih dahulu dari Walhi sampai ke sungai Gajah Wong, yang letaknya sekitar 500 meter dari Walhi. Personil pada hari itu hanya 3 orang, yaitu Go-Blank, Bonte, dan Nana, dibantu oleh Papi (Sulis), sehingga untuk operasional cukup menguras banyak tenaga. Gladi resik  baru dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Ada beberapa adegan dan pelaku di situ. Mulai dari pemeran sebagai korban, tim penolong, polisi, TNI, koramil, maupun pemeran sebagai pencuri di kala sepi. Tim Mapalaska sendiri berperan sebagai tim penolong. Untuk adegan yang pertama, kita menemukan orang pingsan di tepian, dan ada ibu-ibu hamil yang terjebak pada saat banjir. Kemudian kita evakuasi, hingga ketepian, dan dibantu warga, juga tim PMI, korban dibawa ke tempat yang aman. Untuk adegan yang kedua, kita mengevakuasi 2 mayat yang terapung di aliran banjir, dan juga ada 2 warga yang minta tolong karena terbawa arus banjir. Adegan kedua ini, cukup berat, karena perahu terasa penuh, terisi oleh orang cukup banyak. Selain itu, mayat yang dibopong terasa lumayan berat.

Adegan yang terakhir adalah menyelamatkan 2 warga yang hanyut di sungai. Untuk adegan yang ketiga ini kita tidak menggunakan perahu, namun cukup melemparkan throwing bag untuk kemudian membawa korban menepi. Adegan-adegan tadi tidak hanya dilakukan sekali saja, namun secara berulang-ulang. Setelah semuanya selesai, kita evaluasi sebentar untuk tindak lanjut esok hari, disertai makan snack yang telah disediakan oleh panitia.

Di hari Minggu, kita awali seperti biasa, yaitu portaging dari Walhi menuju ke TKP. Portagging kali ini agak mendingan dari sebelumnya, dikarenakan ada tambahan personil, yaitu mas Zen dari Walhi. Tidak seperti hari sebelumnya, hari ini warga terlihat lebih banyak. Selain itu, tamu undangan yang hadir juga banyak, baik dari TNI, Polisi, lurah-lurah se-Kota Gede, maupun dari jajaranWalikota.
Pukul 15.00 WIB, acara pembukaan dimulai, diawali oleh sambutan-sambutan. Sambutan terakhir yaitu dari Pak Wakil Walikota (karena Pak Walikota sedang ke Suriname) sekaligus memukul kentongan, yang diikuti pemukulan kentongan oleh masyarakat yang bertugas di poskamling. Warga merasa panik, karena ada banjir datang. Tak berapa lama, tim penolong dari Mapalaska (Nana, Go-Blank, Bonte, dan Mas Zen) dating menolong korban. Untuk simulasi yang kedua ini kami agak kuwalahan, karena koordinasinya kurang maksimal, dan tidak sesuai dengan scenario pertama. Selain itu, dari tim skenario, yang menempatkan titik sebanyak 8 korban, sedangkan perahu hanya satu, membuat kami cukup berusaha keras untuk bolak-balik mengevakuasi korban. 

Namun, secara keseluruhan itu semua dapat teratasi. Terlihat, simulasi bagian kami yang dilihat oleh cukup banyak warga, yang cukup antusias untuk menyaksikannya, juga Pak Wakil Walikota Jogja. Setelah korban diangkut ketempat yang aman, giliran PMI yang bertugas untuk  menanganinya.
Bersamaan dengan selesainya simulasi, maka sekaligus diadakan upacara penutupan di Lapangan, dengan suasana hujan yang cukup deras. Alhamdulillah, semua dapat berjalan dengan lancar. Dengan adanya simulasi seperti ini, maka diharapkan warga sekitar dapat lebih tanggap dalam hal pengurangan resiko bencana, khususnya bencana banjir, sehingga jumlah korban dapat diminimalisir. Juga pada semua tim yang mengikuti, agar dapat menambah skil ldalam penanggulangan bencana agar lebih sigap jika terjadi bencana sewaktu waktu.