Sabtu, 10 Desember 2011

Jogja International Heritage Walk (JIHW) part 1

JIHW , yg digelar selama 2 hari, yaitu tanggal 19 November di Prambanan, dan 20 November di Imogiri selesai sudah. Bagi pelaksana (panitia), acara ini tergolong sukses. Begitu juga (mungkin) bagi para peserta, acara ini tergolong bagus, selain karena tempatnya, juga kemeriahan acara yang mungkin karena banyaknya sponsorsip yang ikut turut andil dalam menyemarakkan acara tahunan (kalau sukses).

Jogja International Heritage Walk (JIHW) part 1
Jogja International Heritage Walk (JIHW) part 1
Jika dilihat sekilas, banyak banget pihak yang mau mensponsori acara tersebut, mulai dari Garuda, Parsley, Yayasan Jantung Indonesia, Anlene, Aguaria, Frisian Flag, Telkom, bank BPD, dan banyak lagi sponsorsip2 yang lain. Itulah, mungkin karena acara tersebut memang sudah berlangsung untuk yang ke tiga kalinya, atau mungkin karena acara tersebut tertunda selama setahun, dimana seharusnya tahun 2010 kemarin dilaksanakan, tetapi karena musibah gunung merapi, acara tersebut terhenti, dan baru bis dilaksanakan pada tahun ini.
JIHW # 3
Hiburan Musik di Tengah Perjalanan
Megah dan meriah. Itu mungkin yang terbersit jika dilihat dari selebaran maupun tempatnya. Tetapi, apakah acaranya juga semeriah itu??. Iya, mungkin itu yang diucapkan mereka para peserta yang berasal dari negara luar. Tapi, kalo dilihat, peserta yang ikut di tiap acara mungkin tak lebih dari 300 orang. Itu perkiraanku, selaku volunteer yang ikut bantu-bantu panitia dalam mensukseskan acara, dari target semula, yang kata bu Fitri, ada 150 orang dari Jepang, dan belum lagi dari Jerman, Belanda, beberapa negara lain, dan dari Jantung Sehat sendiri ada 2500 orang yang akan ikut senam. Jika ditotal antara domestik dan dari luar, ada sekitar 750 peserta yang akan mengikuti acara ini. “kata Bu Fitri sbelum acara dimulai”.

Memang, acara yang tergolong internasional ini (katanya) lebih dikhususkan bagi mereka yang berasal dari luar. Apalagi, ini merupakan acara yang akan dinilai oleh juri kelas Internasional, untuk memperebutkan Liga Jalan Sedunia, dimana Indonesia mengambil kategori heritage sebagai salah satu Icon nya. Sehingga, dengan lebih memfokuskan pada penilaian juri tersebut, membuat peserta yang lain kurang terurus.

Sebagai sedikit evaluasi, acara kelas internasional yang berlangsung beberapa hari kemarin itu malahan menurut saya tergolong sepi. Dari total peserta yang ditargetkan sekitar 750 orang bahkan lebih, yang ikut tidak ada setengahnya. Walaupun tidak tahu jumlah pastinya,, yang jelas acara tersebut sepintas seperti hanya untuk mendapatkan nilai yang maksimal saja dari juri, untuk merebut acara tahunan yang bergengsi ini supaya bisa terus dilaksanakan di Indonesia, khususnya di Jogja ini.

Dari sisi kepanitiaan, masih kurang jelas antara mana panitia inti dan volunteer. Bahkan panitia intipun tidak bisa meng handel para volunteer yang jumlahnya begitu banyak, sehingga mereka banyak yang bekerja tidak efektif. Saya sendiri, sebagai volunteer tidak begitu tahu antara panitia ini dengan yang bukan inti. Mungkin tahu hanya sebagai sesama volunteer (yang kedekatan emosionalnya lebih daripada sesama panitia).

Panitia mengharuskan para volunteer untuk kumpul di Prambanan jam 4. Tetapi, sampai jam stengah 6, panitia saja baru terlihat. Padahal, sudah banyak para volunteer yang kumpul di situ,sehingga mereka bingung untuk melakukan hal yang akan mereka kerjakan. Bahkan, ada beberapa volunteer yang sudah datang dari jam 3 pagi. Itupun, mereka “keceli”, karena pintu yang dikabarkan untuk masuk para panitia, ternyata belum dibuka dari petugas prambanan sendiri.


JIHW # 3
Marshal...
Pagi hari, kita langsung menuju ke pos masing-masing, karena tidak jadi menyusuri rute seperti yang telah diagendakan oleh panitia sebelumnya. Bahkan, para volunteer bingung untuk menempatkan diri mereka masing-masing, antara menuju ke titik yang telah ditentukan (sebelumnya setiap volunteer telah dibagi tugas untuk berjaga di titik/pos masing-masing) atau mengikuti panitia menuju ke tempat lain atu dengan pekerjaan lain. Beberapa titik masih terlihat kosong dan harus dijaga, dengan mengambil volunteer dari mereka yang telah berjaga di pos masing-masing. Alhasil, pos-pos yang ada pun personilnya berkurang, dan keadaan pastinya menjadi kacau. 
Saya sendiri, yang bertugas di titik 5 (jalan raya) dari sebelumnya 2 orang, akhirnya harus berjaga sendirian. Bayangkan, menyeberangkan para pejalan kaki di jalan raya sendirian segitu banyak, pasti membingungkan to..???. Untung saja, setelah itu ada pak polisi dari LLAJ yang baek hati, dan langsung membantu saya sehingga kit bertugas bertiga (2 dari LLAJ dengan saya sendiri)

Bahkan, pak LLAJ langsung mengeluarkan HT (Handy Talky.,)nya, dan langsung pencet brik “rojer” untuk menghubungi kawannya. Seperti biasa, kata sandi unik dibuyikan “mBah Bronto Mbah Bronto… skali lagi dicopy.. mBah Bronto mBah Bronto..” sandi khusus pak LLAJ yang khas.. (tidak seperti yang laen, ada yang menggunakan sandy #rojer rojer., atau kijang satu kijang satu,.,# atawa yang laennya,.,##) kita sudah di titik rawan mBah Bronto. Kita butuh bantuan. Harap kirim 1 kompi untuk disebar di titik –titik yang sekiranya rawan, begitu ganti..OK mbah Bronto.. kita segera meluncur ke TKP..

Ah.. leganya, ada temen jaga. . Setelah selesai, saya pun langsung bergegas menuju ke titik 15, di daerah paling pojok utara, yaitu di Manisrenggo, dekat gereja. Tak berapa lama tiba di sana, teman dari runner meminta untuk menemani mengecek kembali jalur yang akan dilewati, karena ada laporan 2orang dari Jerman (entah sama Belanda entah mana) tersesat, hilang dari jalur. Akhirnya, kamu muter-muter untuk mengeceknya, dan ternyata memang benar (kami pun ikut tersesat, karena jalurnya hilang hwahahaha,.,) setelah kembali ke titik 15, akhirnya kami bisa mnegidentifikasi jalur yang hilang tersebut. Ternyata banyak tanda yang hilang, maupun dibelokan arah oleh beberapa anak kecil yang iseng melakukannya, danmembuat acara sedikit kacau. 

JIHW # 3
Melepas Lelah Usai Acara
Karena mencari panitia yang bawa tanda tidak nemu-nemu, dengan keadaan darurat ii,kahirnya tanda tersebut diganti tanda hidup (saya merelakan diri untuk berjaga di sana sendirian, dan tanpa teman tanpa logistic *bayangpun**). Tak berapa lama, peserta datang, dan kebetulan ada anak-anak kecil yang sedang bermain di situ, akhirnya aku ajak saja mereka menemaniku jaga (lumayan,, itung belajar berkawan ama anak muda, (eh, anak kecil,,). Sampai siang hari, tim sweeper gak kunjung lewat, padahal aku sudah menunggu lebih dari 2 jam dari peserta terakhir. Sayapun berinisiatif untuk jalan sendiri menyusuri rute, menuju eke pos 5 yang jaraknya lumayan jauh (capek lagi.). Alhamdullilah, sebelum di pos 5, ketemu teman-teman yang laen, . Ternyata, tim sweeper belok arah, melewati jalan pintas (berhubung pesertanya lewat jalan pintas) sbenarnya sedikit kecewa si,, tapi mau gman lagi.. Setelah itu, saya pun menuju ke titik finish, dan mampir ke pos 7 sebentar,.,

Tiba di Prambanan lagi, hari sudah cukup siang. Sambil menunggu peserta terakhir, saya ikut membantu tim lain, yang masih punya tanggungan untuk berjaga di titik terakhir. Setelah semua selesai, akhirnya kami istirahat untuk makan, pada saat hari mulai hujan. Setelah itu, ada instruksi untuk briefing dan kami berkumpul di tenda untuk evaluasi, sekaligus persiapan untuk acara esok hari.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, briefing pun gak jadi dengan berbagai alasan dan argumen, bahkan ada sesame panitia yang kami liat saling menyalahkan. Kami langsung pulang ke tempat masing-masing.

Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.