Senin, 24 Desember 2012

Dana Otsus dan Permasalahan Papua

Dana Otsus dan Permasalahan Papua - “Bapa, kalau bapa sekarang punya babi berapakah? Saya supunya 8 ekor babi, yang 3 masih kecil, skitar 1-2 tahun, dan yang 5 subesar, skitar 4 tahun. Kalau kebun bapa ada berapakah? Ooo,, banyak di sana ada, sbelah sana ada, sebelah sana ada, sebelah sana lagi juga ada. Ada di mana-mana. Bapa,kalau boleh tahu, menurut bapa, bapa di sini kriterianya termasuk orang miskin, sedang, atau kaya? Waa, saya di sini miskin, liat saja, rumah masih bentuk honai, kita alat kebun tidak punya, alat masak pun seadanya..

Selasa, 20 November 2012

IMENO

Imeno - Desa imeno (S 02° 37ʹ 206ʺ E140°10ʹ 677ʺ), dulunya adalah desa Imsar, sebuah desa, dengan 3 wilayah yaitu, Imeno, Sarmai Atas, dan Sarmai Bawah, di bawah Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua. Namun, sekitar tahun 1990-an, ada pemekaran di desa ini, menjadi 3 kampung. Yaitu Sarmai Atas, Sarmai Bawah, dan Kampung Imeno. kemudian, seiring berjalannya waktu, Sarmai Atas dan Sarmai Bawah berada di bawah Distrik Namblong, karena adanya pemekaran distrik.

Sabtu, 10 November 2012

Ipere

Ipere, begitulah makanan atau lebih tepatnya makanan pokok orang Papua ini dikenal di daerah Wamena dan sekitarnya. Orang Indonesia Barat, mengenalnya dengan istilah ubi. Namun, di Papua ini ubi biasa disebut dengan berbagai kata, seperti ipere tadi, di daerah Yalengga sini,  Wamena dan sekitarnya, suburu, di daerah Yogosem, Kabupaten Yahukimo, dan sekitarnya, dan masih banyak lagi istilah lainnya, karena di Papua ini terdapat banyak suku dengan bahasa yang berbeda-beda. 
Ipere
Berbeda dengan di daerah Jawa, ubi di sini bentuknya lebih besar, dan yang paling penting, di sini sama sekali tanpa pupuk. Jadi, sudah tentu segar dan sehat, karna masyarakat sini belum mengenal (atau mungkin memang tidak butuh) yang namanya pupuk. Berbagai macam tanaman bisa tumbuh tanpa taburan pupuk, karena wilayah ini memang sudah subur sejak dahulu. 

Sangat disayangkan, jika pemerintah menggembor-gemborkan makanan pokok dengan padi, karena tanaman padi di sini sangat jarang. Jika harus memakan beras, maka bisa dikatakan mereka akan memakan makanan pokok hanya sekali dalam sebulan, yaitu pada saat pembagian raskin. Maklum, harga beras di sini sangat mahal. Beras bulog yang warnanya kuning, harganya sekitar 25.000. Bandingkan saja dengan harga di kota Wamena, yang harganya 15.000, di Jawa dengan harga kurang dari 5.000, dengan di pedalaman Papua seperti Yogosem, yang harganya bisa mencapai 50.000 per kilo. Sangat jauh memang. Itulah, keadaan di Papua yang sangat tergantung dengan wilayah topografinya. Semakin pedalaman wilayahnya, maka akan semakin mahal harganya, karena ongkos kirim baik menggunakan mobil, kapal, jalan kaki, maupun pesawat juga mahal. 

Setiap hari makanan pokok mereka masih sama saja dari dulu, yaitu ubi dengan dedaunan hasil ladang. Di sini, sudah agak mendingan, karena mereka sudah sedikit mengenal bumbu seperti penyedap rasa, bawang, maupun lombok. Bayangkan, waktu saya di Yogosem, yang untuk makan, sehari hari hanyalah ubi dengan sayur daun ubi saja. Untuk menambah rasa, kadang sayur daun ubi diberi sedikit garam. Maklum lah, daerahnya cukup tinggi, di lembah dengan ketinggian hampir 3.000 meter. Jadi, harga garam dan kebutuhan lainnya cukup mahal. 

Rata- rata,mereka  makan 2 kali sehari,yaitu pagi dan sore. Pagi hari, mereka makan sebelum keluar rumah, dan sore hari setelah pulang. Dari yang saya lihat, mereka umumnya hanya bisa mengolah ubi dengan direbus maupun dibakar. tidak ada olahan lain semacam digoreng, ditumbuk, atau dijadikan olahan lain seperti di Jawa. Maklum lah, untuk menggoreng saja, harga minyak goreng cukup mahal. Bagi mereka, jika perut sudah kenyang, maka cukup,tanpa harus menjadi olahan lain. 

Setiap hari, ubi mereka panen dari ladang, baik 1 noken, atau 2 noken. Panenan mereka pasti banyak, karena selain untuk makan sendiri, juga untuk makanan babi mereka yang habisnya malah jauh lebih banyak dari manusia. Seperti halnya manusia, biasanya babi makan setiap pagi dan sore hari. Namun, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tak jarang warga di sini menjual ubi ke kota. Mereka harus naik angkutan dengan biaya 25 ribu sekali jalan. Padahal, sekali bawa, ubi mereka laku sekitar 50-100 ribu saja, tergantung banyaknya ubi yang mereka bawa. Belum lagi untuk jajan mereka di kota. 

Di Wamena sendiri, harga ubi yang sudah digoreng 1.000 perak. Itupun cukup kecil, seperti gorengan di Jawa yang harganya 500 perak. Bayangkan, jika warga dapat mengolah dan menjualnya sendiri, pastinya mereka akan mendapatkan untung yang lumayan bukan..

Jumat, 02 November 2012

Kognitif Orang Papua

Kognitif Orang Papua - Pernahkah kalian mengetahui, apakah yang paling sulit dilakukan oleh orang Pegunungan Tengah, dari Wamena, Jayawijaya, Yahukimo, sampai daerah Puncak? Ya, sedikit jawaban yang saya tahu setelah keliling daerah itu, saya menyadari bahwa masalah umur dan masalah kognitif mereka agak kurang.

Kamis, 04 Oktober 2012

Sang Hafidz dari Timur

Sang Hafidz dari Timur - Sebuah novel karangan perdana dari Munawir Borut dari Ambon, yang mengisahkan tentang keluarga kecil penghafal Al-Qur'an. Sebenarnya aku tidak berniat membacanya. Namun hanya iseng-iseng saja aku pijem buku teman, yang kebetulan ada di kamar pada saat aku akan pergi ke Salatiga untuk pengisi waktu luang.

Novel ini bercerita tentang keluarga kecil penghafal Qur'an. Ada Zha'ir, Adib, Ummi, dan Abi mereka, Muhammad Djafar Syahban. Walaupun mereka dari keluarga tak punya, namun ummi selalu menyemangati dan mengawasi anak-anaknya membaca A-Qur'an. Begitu juga abi yang selalu mendampingi umi untuk sekedar mendengarkan setoran hafalan mereka. Bahkan, tidak jarang abi merelakan tidak brangkat kerja hanya untuk mendengarkan setoran hafalan mereka.

Zha'ir dan Adib adalah 2 bersaudara yang selalu berlomba-lomba dalam menghafal Al-Quran. Walaupun kadang mereka saling meledek layaknya anak kecil, namun sejatinya mereka sangat akur, dan Adib sering diminta untuk menyimak hafalan adiknya, sebelum Zhair menyetor ke ummi. 

Ummi selalu menyemangati mereka agar selalu menghafal Al-Qur'an. Itu adalah cita-cita umi. Walaupun masih muda, namun umi mempunyai penyakit yang cukup berbahaya, hingga suatu ketika ia tak sadarkan diri dan harus dibawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan pada abi ,jika ummi terkena penyakit kanker darah,dan umurnya sudah tidak lama lagi. Setelah sembuh dari koma nya selama bebarapa hari, akhirnya ummi sudah bisa pulang . 

Suatu ketika, saat di sekolah Adib diminta untuk menunjukkan tempat impiannya kelak, sebagaimana teman sekelasnya. Setelah beberapa lama mencari di peta, akhirnya ia menunjukkan tempat impiannya. Betapa kagetnya Pak ustadz, karena tempat yang ditunjuk adalah Arab Saudi. Adib pun berkata bahwa ia tidak salah tunjuk. Suatu saat, ia berkeinginan untuk pergi ke tempat impiannya, Mekkah. Begitu juga dengan adikknya, Zhair, yang berkeinginan untuk pergi ke palestina. Namun itu semua harus dengan kesungguhan, dan dipersiapkan dari sekarang. Ia mempersiapannya dengan menghafal Al-Qur'an terus menerus.

Sepulang dari rumah sakit, umi tetap saja mendampingi putranya menghafal Al-Quran. Hingga suatu ketika, Adib diminta untuk menghafal surat Yaa Siin dulu. Padahal, biasanya Surat Yaa Siin dihapal belakangan, setelah surat-surat yang lain. Namun ia menuruti saja perintah umminya. Sekian lama ia menghafal, hingga suatu ketika tiba gilirannya untuk setoran hafalan di depan umi dan abi. Namun, hafalan kali ini tidak sendiri-sendiri seperti biasa. Adib dan Zhair menghafal surat Yaa Sin bersama-sama sekaligus. mereka menghafal surat Yaa Siin sambil sesekali berhenti. Pada awal hafalan, sesekali abi dan ummi meneteskan air mata, mengingat arti beberapa ayat yang mereka baca. Cukup lama mereka menghafal, hingga tak terasa selesai juga hafalan tersebut, selesai menghafal, ia melihat umi sudah di pangkuan abi, dengan tetesan air mata abi, dia mengira abi menangis karena mendengar hafalan kami, dan meresapi artinya. Kami menggoyang-goyang tubuh ummi dan membangunkannya. Namun tetap saja ummi tidak bangun. Akhirnya aku sadar, Aku mengatakan kepada Zhair yang masih kecil dan belum mengerti, kalau ummi sudah tiada. Ia sudah pergi jauh ke taman surga sana.

Selepas kepergian Ummi, Adib dan Zhair meneruskan hafalan, agar dapat menghafal Al-Qur'an sesuai dengan cita-cita umi. kemudian Adib pindah ke pondok di Jakarta, karena diminta oleh guru sekolahnya dulu, yang sekarang sudah tinggal di sana. 

Akhirnya, Adib bisa menghafalkan Al-Qur'an secara penuh di sana, dan cita-citanya untuk pergi ke Arab Saudi pun terpenuhi dengan beasiswa yang ia dapat. Tak hanya itu saja, bahkan ia juga menuliskan kisahnya menghafal Al-Qur'an sebagai kenangannya,walau tidak jadi diterbitkan.

Minggu, 05 Agustus 2012

Sisi Lain Wamena

Sisi Lain Wamena - Menelisik para penjual di Wamena, ternyata omset di sini lumayan gede. Makanya, banyak para pendatang yang mencari nafkah sesuap nasi di sini. Mayoritas pedagang di sini adalah para pendatang, dan kebanyakan dari Jawa, khususnya Jawa Timur(an).. Segala sesuatu di sini mahal, karena akses ke kota ini hanyalah melalui udara. Gorengan yang di Jawa harga per bijinya 500 rupiah, di sini 1.000-2.000 rupiah. Omset sehari gak mati pasti selalu di atas 1 juta, bahkan sekitar 5 jutaan. Penjual gorengan di kota ini selalu ramai akan pembeli. Jika di Jawa, biasanya orang beli gorengan sekitar 5-10 ribu, maka di sini hal biasa orang beli gorengan 20,30,atau 50 ribu. Itu hal yang biasa. Begitu juga dengan makan. Standar makan di sini, 25-30 ribu. 

Selasa, 10 Juli 2012

Yalengga, Jayawijya

Yalengga, Jayawijya - Desa Yalengga, berada di Distrik Yalengga, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Desa ini mempunyai 6 RT/ dusun (karena RT dan dusun di sini tidak begitu berbeda). Dusun 1 terletak di pusat desa, dusun 2 agak ke timur, dusun 3 berada di dekat distrik, tetapi agak masuk ke dalam, dan juga berbatasan dengan desa Pilimo, yang merupakan desa pemekaran dari Yalengga. Dusun 4 berada di ujung, dusun 5 berada di tengah pulau dan dusun 6 di seberang lagi. Untuk sampai ke dusun 6, kita harus menyeberangi 2 sungai Baliem yang cukup lebar.

Kamis, 05 Juli 2012

Papua.. Buat Yang Belum Pernah Kesana

Papua.. Buat Yang Belum Pernah KesanaGak kebayang sebelumnya, aku bisa pergi sampai ke Papua. Pulau ujung Indonesia dan paling jauh dari tempat tinggalku. Namun, inilah keberkahan. Tuhan mengabulkan salah satu impianku, untuk pergi mengunjungi tempat-tempat di Indonesia. Keberangkatanku ke papua ini menggunakan salah satu maskapai kelas ekonomi (express air). Ada beberapa tempat yang harus saya singgahi untuk sampai ke Jayapura. Dari Jogja menuju ke Jayapura, saya harus transit di Surabaya, kemudian di Makassar, Sorong, dan terakhir di Manokwari, sebelum sampai di bandara Sentani, Jayapura.

Senin, 04 Juni 2012

Yogosem

Yogosem - Merupakan sebuah desa kecil, dengan mayoritas suku Hupla, dan sebagian kecil suku Jali. Bahasa sehari-hari mereka pun juga bahasa Hupla. Tetapi, mereka juga bisa berbahasa Jali,  karena di sini merupakan perbatasan antara suku Hupla dengan suku Jali. Lerak Kampung Yogosem berada di koordinat S: 04° 14' 50.6", dan E: 139° 10' 08.1" (4 Derajat, 14 menit, 50.6 Lintang Selatan dan 139 Derajat, 10 Menit, 8,1 Detik Bujur Timur) dengan ketinggian hampir 3.000 meter di atas permukaan laut.