Kamis, 04 Oktober 2012

Sang Hafidz dari Timur

Sang Hafidz dari Timur - Sebuah novel karangan perdana dari Munawir Borut dari Ambon, yang mengisahkan tentang keluarga kecil penghafal Al-Qur'an. Sebenarnya aku tidak berniat membacanya. Namun hanya iseng-iseng saja aku pijem buku teman, yang kebetulan ada di kamar pada saat aku akan pergi ke Salatiga untuk pengisi waktu luang.

Novel ini bercerita tentang keluarga kecil penghafal Qur'an. Ada Zha'ir, Adib, Ummi, dan Abi mereka, Muhammad Djafar Syahban. Walaupun mereka dari keluarga tak punya, namun ummi selalu menyemangati dan mengawasi anak-anaknya membaca A-Qur'an. Begitu juga abi yang selalu mendampingi umi untuk sekedar mendengarkan setoran hafalan mereka. Bahkan, tidak jarang abi merelakan tidak brangkat kerja hanya untuk mendengarkan setoran hafalan mereka.

Zha'ir dan Adib adalah 2 bersaudara yang selalu berlomba-lomba dalam menghafal Al-Quran. Walaupun kadang mereka saling meledek layaknya anak kecil, namun sejatinya mereka sangat akur, dan Adib sering diminta untuk menyimak hafalan adiknya, sebelum Zhair menyetor ke ummi. 

Ummi selalu menyemangati mereka agar selalu menghafal Al-Qur'an. Itu adalah cita-cita umi. Walaupun masih muda, namun umi mempunyai penyakit yang cukup berbahaya, hingga suatu ketika ia tak sadarkan diri dan harus dibawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan pada abi ,jika ummi terkena penyakit kanker darah,dan umurnya sudah tidak lama lagi. Setelah sembuh dari koma nya selama bebarapa hari, akhirnya ummi sudah bisa pulang . 

Suatu ketika, saat di sekolah Adib diminta untuk menunjukkan tempat impiannya kelak, sebagaimana teman sekelasnya. Setelah beberapa lama mencari di peta, akhirnya ia menunjukkan tempat impiannya. Betapa kagetnya Pak ustadz, karena tempat yang ditunjuk adalah Arab Saudi. Adib pun berkata bahwa ia tidak salah tunjuk. Suatu saat, ia berkeinginan untuk pergi ke tempat impiannya, Mekkah. Begitu juga dengan adikknya, Zhair, yang berkeinginan untuk pergi ke palestina. Namun itu semua harus dengan kesungguhan, dan dipersiapkan dari sekarang. Ia mempersiapannya dengan menghafal Al-Qur'an terus menerus.

Sepulang dari rumah sakit, umi tetap saja mendampingi putranya menghafal Al-Quran. Hingga suatu ketika, Adib diminta untuk menghafal surat Yaa Siin dulu. Padahal, biasanya Surat Yaa Siin dihapal belakangan, setelah surat-surat yang lain. Namun ia menuruti saja perintah umminya. Sekian lama ia menghafal, hingga suatu ketika tiba gilirannya untuk setoran hafalan di depan umi dan abi. Namun, hafalan kali ini tidak sendiri-sendiri seperti biasa. Adib dan Zhair menghafal surat Yaa Sin bersama-sama sekaligus. mereka menghafal surat Yaa Siin sambil sesekali berhenti. Pada awal hafalan, sesekali abi dan ummi meneteskan air mata, mengingat arti beberapa ayat yang mereka baca. Cukup lama mereka menghafal, hingga tak terasa selesai juga hafalan tersebut, selesai menghafal, ia melihat umi sudah di pangkuan abi, dengan tetesan air mata abi, dia mengira abi menangis karena mendengar hafalan kami, dan meresapi artinya. Kami menggoyang-goyang tubuh ummi dan membangunkannya. Namun tetap saja ummi tidak bangun. Akhirnya aku sadar, Aku mengatakan kepada Zhair yang masih kecil dan belum mengerti, kalau ummi sudah tiada. Ia sudah pergi jauh ke taman surga sana.

Selepas kepergian Ummi, Adib dan Zhair meneruskan hafalan, agar dapat menghafal Al-Qur'an sesuai dengan cita-cita umi. kemudian Adib pindah ke pondok di Jakarta, karena diminta oleh guru sekolahnya dulu, yang sekarang sudah tinggal di sana. 

Akhirnya, Adib bisa menghafalkan Al-Qur'an secara penuh di sana, dan cita-citanya untuk pergi ke Arab Saudi pun terpenuhi dengan beasiswa yang ia dapat. Tak hanya itu saja, bahkan ia juga menuliskan kisahnya menghafal Al-Qur'an sebagai kenangannya,walau tidak jadi diterbitkan.

Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.