Selasa, 20 November 2012

IMENO

Imeno - Desa imeno (S 02° 37ʹ 206ʺ E140°10ʹ 677ʺ), dulunya adalah desa Imsar, sebuah desa, dengan 3 wilayah yaitu, Imeno, Sarmai Atas, dan Sarmai Bawah, di bawah Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Papua. Namun, sekitar tahun 1990-an, ada pemekaran di desa ini, menjadi 3 kampung. Yaitu Sarmai Atas, Sarmai Bawah, dan Kampung Imeno. kemudian, seiring berjalannya waktu, Sarmai Atas dan Sarmai Bawah berada di bawah Distrik Namblong, karena adanya pemekaran distrik.

adheb gallery
Kampung Imeno, Kabupaten Jayapur
 Sedangkan Imeno sendiri tetap berada di bawah Distrik Nimboran. Sampai sekarang, kampung Imeno masih menggunakan nama Imsar sebagai nama kampungnya secara administratif, karena desa ini merupakan desa induk, walaupun di wilayah sekitar orang menyebutnya kampung Imeno. Masyarakat di kampung ini sudah lumayan maju. mereka kebanyakan sudah melek dengan kehidupan luar, dan sangat baik dengan pendatang. Listrik sudah ada di sini sejak 7 tahun yang lalu, dan mereka rata-rata punya tv parabola maupun hp sejak 5-7 tahun yang lalu. di sini ada beberapa suku dan marga, dimana setiap marga pasti punya kuburan masing-masing. Udara di sini sangat bersahabat, karena tidak begitu dingin, dan tidak begitu panas seperti di Jayapura. Sesuai dengan keadaan daerah di Jawa.
            Untuk penghasilan utama, hampir semua masyarakat di desa ini mempunyai kebun kakao sebagai mata pencaharian pokok. Kebun kakao di sini sangat melimpah. Selain kakao, penghasilan sampingan di desa ini ada juga, seperti pinang, kelapa, maupun sagu yang  lumayan banyak juga di desa ini. Hampir semua warga Imeno beragama Kristen Protestasn GKI.
            Sumber daya alam yang ada di sini antara lain rotan, batu-batuan, kayu, baik untuk membangun rumah maupun untuk kayu bakar, mata air, maupun madu hutan. Madu hutan cukup banyak, namun sangat jarang masyarakat desa sini yang mau mencarinya untuk menambah penghasilan.
            Selain hutan (kebun) yang ditanami warga, di sini juga terdapat hutan yang masih rimba, yang berbatasan dengan distrik sebelah. Biasanya, mereka berburu di hutan ini. Ada banyak binatang buruan di sini. Kuskus biasa mereka buru di malam hari, karena kuskus biasa keluar di malam hari. Sedangkan babi hutan di sini cukup banyak, dan biasa mereka buru di siang hari. Selain kuskus dan babi hutan, masih banyak binatang liar di hutan ini, seperti burung kasuari, burung mambruk, burung cendrawasih, maupun yang lainnya.
            Masyarakat di sini, kebanyakan paham akan hak dan kewajibannya untuk melestarikan alam, seperti mereka membuat ladang yang jauh dari sungai, agar tidak menyebabkan erosi sungai, tidak membuang sampah ke sungai, namun dibakar, atau menebang pohon hanya jika ada keperluan saja, baik untuk buat rumah maupun yang lain. tidak untuk dijual. Masyarakat percaya, jika mereka menebang pohon terlalu liar, maka sumber air di desa tersebut menjadi berkurang, karena berkurangnya pohon di hutan. Pun begitu, jika mereka menebang pohon tidak di wilayahnya/ di wilayah orang, pasti mereka akan meminta ijin kepada yang punya terlebih dahulu. Mereka tidak akan menebangnya jika tidak mendapat izin dari si empunya, agar tidak terjadi perselisihan. Pernah dahulu ada sengketa tanah, karena hal semacam ini, kemudian diselesaikan hingga sampai ke distrik, karena desa tidak bisa menyelesaikan perselisihan antar personal tersebut. Selain itu, kebetulan juga tanah yang dipersengketakan juga berada di perbatasan antar distrik, sehingga pihak distrik juga harus turun tangan, agar tidak ada permasalahan lagi di kemudian hari. Pun begitu, tetap saja masih ada sebagian kecil warga yang melakukan perburuhan semacam burung yang sudah hampir punah, maupun mencari ikan menggunakan obat (semacam potas), karena di sini tidak ada sanksi yang tegas bagi pelanggaran seperti itu. Menurut Kepala Desa Imeno, Bapak Abraham, beberapa flora maupun fauna yang hampir punah di desa ini antara lain pohon sagu yang semakin sedikit, pohon matoa, pohon mangga telur, pohon sukun, burung cendrawasih, burung mambruk, burung kasuari, maupun kangguru. Sebenarnya, dari desa berencana untuk membuat hutan lindung, agar hutan tetap terjaga dengan baik, namun sampai sekarang belum juga berjalan.
            Untuk peternakan, di kampung ini ada prternakan babi, sapi, maupun ayam, ada juga sebagian yang beternak ikan. Jika kita bandingkan dengan daerah di pegunungan, sangat berbeda jauh, karena di sini mereka sudah lebih maju dan terbuka dengan masyarakat luar. Mereka sudah mengenal berkebun seperti kopi, pinang, dan lainnya yang bisa mereka jual dan lebih bisa memanajemen keuangan mereka. Tetapi, kebanyakan orang di daerah sini lebih suka pendatang dari tempat lain daripada pendatang dari daerah seperti Wamena. Pendatang dari daerah Wamena sering membuat rusuh di sini, sehingga keberadaannya sering tidak disukai oleh warga.

Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.