Sabtu, 10 November 2012

Ipere

Ipere, begitulah makanan atau lebih tepatnya makanan pokok orang Papua ini dikenal di daerah Wamena dan sekitarnya. Orang Indonesia Barat, mengenalnya dengan istilah ubi. Namun, di Papua ini ubi biasa disebut dengan berbagai kata, seperti ipere tadi, di daerah Yalengga sini,  Wamena dan sekitarnya, suburu, di daerah Yogosem, Kabupaten Yahukimo, dan sekitarnya, dan masih banyak lagi istilah lainnya, karena di Papua ini terdapat banyak suku dengan bahasa yang berbeda-beda. 
Ipere
Berbeda dengan di daerah Jawa, ubi di sini bentuknya lebih besar, dan yang paling penting, di sini sama sekali tanpa pupuk. Jadi, sudah tentu segar dan sehat, karna masyarakat sini belum mengenal (atau mungkin memang tidak butuh) yang namanya pupuk. Berbagai macam tanaman bisa tumbuh tanpa taburan pupuk, karena wilayah ini memang sudah subur sejak dahulu. 

Sangat disayangkan, jika pemerintah menggembor-gemborkan makanan pokok dengan padi, karena tanaman padi di sini sangat jarang. Jika harus memakan beras, maka bisa dikatakan mereka akan memakan makanan pokok hanya sekali dalam sebulan, yaitu pada saat pembagian raskin. Maklum, harga beras di sini sangat mahal. Beras bulog yang warnanya kuning, harganya sekitar 25.000. Bandingkan saja dengan harga di kota Wamena, yang harganya 15.000, di Jawa dengan harga kurang dari 5.000, dengan di pedalaman Papua seperti Yogosem, yang harganya bisa mencapai 50.000 per kilo. Sangat jauh memang. Itulah, keadaan di Papua yang sangat tergantung dengan wilayah topografinya. Semakin pedalaman wilayahnya, maka akan semakin mahal harganya, karena ongkos kirim baik menggunakan mobil, kapal, jalan kaki, maupun pesawat juga mahal. 

Setiap hari makanan pokok mereka masih sama saja dari dulu, yaitu ubi dengan dedaunan hasil ladang. Di sini, sudah agak mendingan, karena mereka sudah sedikit mengenal bumbu seperti penyedap rasa, bawang, maupun lombok. Bayangkan, waktu saya di Yogosem, yang untuk makan, sehari hari hanyalah ubi dengan sayur daun ubi saja. Untuk menambah rasa, kadang sayur daun ubi diberi sedikit garam. Maklum lah, daerahnya cukup tinggi, di lembah dengan ketinggian hampir 3.000 meter. Jadi, harga garam dan kebutuhan lainnya cukup mahal. 

Rata- rata,mereka  makan 2 kali sehari,yaitu pagi dan sore. Pagi hari, mereka makan sebelum keluar rumah, dan sore hari setelah pulang. Dari yang saya lihat, mereka umumnya hanya bisa mengolah ubi dengan direbus maupun dibakar. tidak ada olahan lain semacam digoreng, ditumbuk, atau dijadikan olahan lain seperti di Jawa. Maklum lah, untuk menggoreng saja, harga minyak goreng cukup mahal. Bagi mereka, jika perut sudah kenyang, maka cukup,tanpa harus menjadi olahan lain. 

Setiap hari, ubi mereka panen dari ladang, baik 1 noken, atau 2 noken. Panenan mereka pasti banyak, karena selain untuk makan sendiri, juga untuk makanan babi mereka yang habisnya malah jauh lebih banyak dari manusia. Seperti halnya manusia, biasanya babi makan setiap pagi dan sore hari. Namun, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tak jarang warga di sini menjual ubi ke kota. Mereka harus naik angkutan dengan biaya 25 ribu sekali jalan. Padahal, sekali bawa, ubi mereka laku sekitar 50-100 ribu saja, tergantung banyaknya ubi yang mereka bawa. Belum lagi untuk jajan mereka di kota. 

Di Wamena sendiri, harga ubi yang sudah digoreng 1.000 perak. Itupun cukup kecil, seperti gorengan di Jawa yang harganya 500 perak. Bayangkan, jika warga dapat mengolah dan menjualnya sendiri, pastinya mereka akan mendapatkan untung yang lumayan bukan..

Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.