Rabu, 01 Mei 2013

Situs Budaya “Watu Dhukun” (Batu Purbakala)

Watu Dhukun - Situs Watu Dhukun merupakan sebuah batu besar berusia lebih dari 1.000 tahun yang terletak di Kawasan Hutan KPH Madiun Bagian Hutan Ponorogo Barat, BKPH Sumoroto, RPH Pagerukir. Tepatnya di Dusun Pagerukir Desa Pagerukir Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo di ketinggian 265 Meter Dari Permukaan Laut seluas 0,003 hektar. Sejak dulu, tempat tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai tempat keramat / danyangan bagi warga desa sekitar. 
  
adheb's collections
Situs Budaya Watu Dhukun
Penemuan batu purbakala tersebut berawal saat masyarakat sekitar sedang melakukan pembersihan rutin dan mengetahui adanya 2 batu pahatan berbentuk tulisan Pallawi / Jawa Kuno yang sampai saat ini belum diketahui arti dari tulisan tersebut.

Karena merasa ikut memeiliki, kepala desa dan masyarakat setempat berusaha mencari tahu keberadaan batu tersebut juga melakukan pembersihan dan pembongkaran tanah serta perawatan berupa pemberian pagar pembatas dan pembersihan atap untuk menjaga keaslian dan keamanan lokasi benda purbakala tersebut. Selain itu, di sebelah barat batu purbakala tersebut juga terdapat sumber mata air (sendang) yang dipergunakan untuk air bersih dan irigasi pertanian. 

Menurut beberapa orang pemerhati budaya / sejarah bahwa tatanan batu tersebut menyerupai punden berundak manusia purba sebagai tempat pemujaan dewa. Hal itu terlihat dari adanya batu yang mirip peti, batu tertata menyerupai tangga. Diperkirakan, batu besar dengan ketinggian satu meter tersebut adalah peninggalan era Kerajaan Mataram Hindu yang dipergunakan sebagai pembatas wilayah kerajaan Mataram Hindu saat itu. Bangunan tersebut dibuat pada era kepemimpinan Mpu Sendok, sekitar abad ke 9 hingga 10 Masehi.

Ada juga beberapa orang yang berpendapat bahwa kedua batu yang berbentuk mangkara dan linggajati (altar) tersebut diduga kuat merupakan peninggalan dari Kerajaan Medang, semasa Raja Dharmawangsa yang merupakan kerajaan penting di Jawa Timur, yang pernah menguasai Kerajaan Sriwijaya di Palembang tahun 992 Masehi, jauh sebelum Singosari dan Majapahit berdiri. Dan peninggalan tersebut merupakan peninggalan Dharmawangsa ketika menyingkir ke Ponorogo karena bertempur melawan Kerajaan Kahuripan Medang di Sidoharjo dekat kota Surabaya.

Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.