Kamis, 02 Januari 2014

Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia)


Singgah ke Kampung RKI (Rumah Kayu Indonesia) - Semilir angin sore serasa menembus tulang-tulang punggung, setelah baru saja mengangkut logistik untuk persiapan perjalanan sebulan ke depan. Lumayan banyak, dan yang pasti melelahkan. Setelah sebelumnya melakukan perjalanan dari Babo, langsung angkut2 barang untuk dinaikkan ke jeti dari ketinting yang kami tumpangi. Ketinting penuh dengan barang yang kami bawa, walau jumlah personil kami hanya 9 orang. Haha, jangan dilihat dari personilnya, tetapi itu adalah logistik kami selama sebulan lebih ke depan, ditambah kertas-kertas kuesioner pendataan yang lumayan banyak.
adheb's foto
Sore di Jety RKI
Jika melihat ke sebelah utara, terpampang laut dan pulau di depan yang cukup indah, di sebelah timur terpampang langit berwarna merah kebiruan, dengan awan yang bergerombol dan khas gerombolan awan disini berbaur dengan kilatan cahaya yang mirip seperti petir saat hujan di jawa, jarang terlihat jika kita memandang gerombolan awan di jogja. Maklum di sini tidak ada musim seperti di Jawa, yang ada musim penghujan atau kemarau. Di sini musim serba tidak jelas. Kadang terang, dan suatu ketika juga bisa terjadi hujan.

Melongok ke sebelah timur, ada pabrik udang, menjulang tinggi tanpa ada saingannya di sekitar situ. Di sebelah kiri saya, terlihat banyak kapal-kapal sedang bersandar, satu dua orang menjalankan long boot untuk menuju daerah lain. Dan di belakang, tentunya terlihat rumah-rumah warga yang sangat khas, karena semuanya terbuat dari kayu.
adheb's foto
Kondisi Jalan di RKI
Ya, disinilah aku berada saat ini. Jeti di kampung Sidomakmur, Distrik Wimro, Kabupaten Teluk Bintuni. Namun, orang menyebutnnya dengan Kampung RKI atau Rumah Kayu Indonesia. Gak tau kenapa dinamakan seperti ini. Tetapi yang jelas di sini semua bangunan hanya menggunakan bahan dari kayu. Begitu juga dengan jalan-jalan di sini. Semuanya beralaskan kayu di atas air dan di atas tanah. Jangan pikir ini di Papua, terus orangnya hitam keriting. Di RKI ini, mayoritasnya adalah para pendatang, baik dari Sulawesi, NTB, Kalimantan, Bima, Maluku, dan yang paling banyak adalah dari Jawa. Lebih dari setengah penduduk berasal dari Jawa, baik Sunda, Gresik, Tuban, Surabaya, Brebes, Banyuwangi, dan Probolinggo yang paling banyak. Makanya, jika kalian berbahasa jawa di sini, maka pastinya banyak yang tahu. 

Di sini, warganya banyak yang mencari udang, karena di sini adalah wilayah udang. Surga udang ada di daerah seputaran sini. Suatu ketika ada yang bercanda di sini, saat saya datang. Mas, di sini semua bisa, semua ada, namun cuman satu yang tidak. Di sini air yang susah. Memang, di sini warga mengandalkan dari air hujan. Namun, untuk makanan dan jajanan sehari hari, di sini malah lebih murah daripada di Babo. Tak tahu kenapa, tapi mungkin karena penduduknya banyak yang dari Jawa, singgah mereka tidak mengambil margin cukup banyak dala berjualan, tidak seperti orang-orang Papua biasanya. Tiba di sini, saya beli  es dawet, harganya hanya 3 ribu rupiah, begitu pula saat beli pop ice.

Air di sini cukup berharga, di saat tidak ada air hujan, mereka membeli air kolam, untuk dimasukkan ke drum drum simpanan mereka. mereka membayar jasa per drum sekitar 10 ribu rupiah. Jika di rumah hanya terdapat 2 atau 3 drum, maka mereka bisa mengisi 2 sampai tiga kali isi seminggu. Dikalikan saja jika setiap isi satu drum seharga sepuluh ribu. Namun tetap saja air dari kolam tersebut, yang asalnya juga dari air hujan hanya sebatas digunakan untuk mandi dan mencuci, karena airnya keruh, sedangkan untuk minum sehari-hari tetap saja mereka menyisihkan dari air hujan.
adheb's foto
Kolam Penampungan Air
Sebenarnya, di sini nama kampungnya adalah Sido Makmur. Zaman dahulu bernama Wimro, lalu sekitar tahun 1991 menjadi Trans Wimro, karena banyak pendatang yang berasal dari daerah lain, khususnya dari Jawa yang pindah ke sini. Para transmigran tersebut sekarang rata rata sudah mempunyai sertifikat tanah dan juga ladangnya. Bahkan sekarang tanah ataupun rumah mereka banyak yang disewakan untuk sesama pendatang yang datang belakanan. Karena hanya mereka yang ikut program ransmigrasi saja yang dapat tanah dari pemerintah. Namun, sampai sekarang tidak ada pajak PBB seperti tanah di Jawa pada umumnya

Hingga sekitar tahun 1993, mereka menamakan desa ini Sido Makmur, dengan harapan, warga di sini selalu makmur dan lebih sejahtera di masa yang akan datang. Namun, penamaan ini hanya sebatas secara kultural saja, dan hanya diakui secara de jure oleh masyarakat di Bintuni sini. Sekitar tahun 2010, Desa Sidomakmur secara resmi berdiri, dan diakui sampai Provinsi Papua Barat, mekar dari Wimro yang mempunyai wilayah di sebelah timur. Tidak tahu kenapa, di pusat nama Sido Makmur belum ada, hanya tercatat nama Wimro saja. Orang-orang di sini biasa berkata bahwa desa adanya desa ini hanya Tuhan lah yang mengetahui. Padahal, wilayah desa ini luasnya 10 ribu hektar, dengan sekitar 720 lebih warga yang mendiaminya.


Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.