Jumat, 23 Mei 2014

Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan

Kemuliaan Seorang Bidan Yang Terganjal Oleh Aturan - Terik matahari sudah mulai menyengat, aktivitas warga sudah mulai terlihat sejak tadi pagi. Maklum, jam sudah menunjukkan pukul 9 Waktu Papua. Biasanya, Hari Jumat seperti ini umumnya digunakan untuk agenda kebersihan, karena biasanya warga sudah tidak asing dengan istilah jumat bersih. Di pintu gerbang masuk area Puskesmas sana, Bapak Willem Tabuni, Kepala Puskesmas Asologaima sudah mulai sibuk bersama beberapa warga membersihkan jalan, karena Jum’at depan akan ada banyak pejabat yang datang, baik dari Dinas Kesehatan maupun dari Pemerintah Kabupaten setempat. Akan ada hajatan besar disini, yaitu dengan diresmikannya bangunan baru yang terletak persis di sebelah bangunan yang ada sekarang.
adheb's doc
Pasien sedang menunggu di teras Puskesmas
Seminggu lagi bangunan tersebut resmi dijadikan sebagai puskesmas rawat jalan, sementara puskesmas yang dipakai sekarang akan menjadi rawat inap. Bersamaan dengan itu pula, maka 2 bangunan rumah baru di belakang puskesmas yang telah dibangun selama 4 bulan ini juga secara resmi bisa ditempati oleh dokter, sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh datang dari kota Wamena setiap hari. Dengan menetapnya dokter di puskesmas ini, otomatis Puskesmas Asologaima, yang merupakan puskesmas rawat inap ini bisa langsung menangani pasien kapan saja. Ke depan, bangunan-bangunan couple di sekitar puskesmas ini juga akan direhab, agar lebih banyak petugas puskesmas yang tinggal, dan bisa standby 24 jam.

Pagi itu saya duduk sendirian di puskesmas ini sambil mendengarkan musik. Setengah jam sudah saya berada di sini, menunggu petugas puskesmas, namun belum ada satupun petugas yang terlihat. tak berapa lama, datang ibu-ibu membawa anaknya untuk berobat. Ada 3 orang ibu-ibu yang membawa seorang anaknya. Namun ada seorang ibu yang juga membawa segepok noken di kepalanya. sambil menunggu petugas puskesmas, saya berbincang-bincang dengan ibu tersebut terkait noken, barang yang multifungsi bagi warga sini. saat iseng-iseng mengamati, ternyata di dalam noken yang dipanggulnya ada bayi mungil yang baru berusia beberapa bulan. Jika hanya sekilas saja, maka kita tidak akan tahu jika di dalam noken tersebut ada seorang bayi, karena bayi di dalam noken di sini jarang menangis. Di sela-sela kami mengobrol, ada juga 2-3 orang warga yang mau berobat, dan langsung pergi lagi, setelah tahu kalau puskesmas belum buka.

Lama kami mengobrol, hingga jam 10 baru ada seorang petugas yang datang menyalami kami, dan sekaligus membuka pintu puskesmas agar kami bisa masuk. dia adalah Mama Regina, bidan di puskesmas ini yang tinggal di salah satu rumah dinas puskesmas, terletak sekitar 20 meter di depan puskesmas ini. Setelah membuka pintu-pintu ruangan, ibu bidan datang ke kami, dan menyampaikan maaf terlebih dahulu. Aduh, maaf sekali ibu, petugas loket belum juga datang jadi,, saya belum bisa melayani ibu-ibu. Kemudian ibu bidan bercengkerama dengan kami, sesekali bercanda dengan anak kecil yang sedang bermain berlarian kesana-kemari.

30 menit sudah berlalu, ibu bidan mulai gelisah. Akhirnya, dia pulang ke rumah, ambil hp dan mencari tempat sinyal dan menelpon petugas loket yang bertugas hari ini. Petugas loket tersebut tinggal di Wamena. Biasanya jam 10 sudah tiba. Setelah tidak ada jawaban, beliau kembali datang ke kami, dan meminta kami menunggu. “Tunggu sebentar e… 30 menit lagi, siapa tau dorang datang”, sambil meminta maaf kepada kami. 30 menit berikutnya juga sudah berlalu, akhirnya dengan menyerah beliau meminta maaf kepada kami, dan meminta agar besok Senin kembali datang ke puskesmas. Maklum, di papan pengumuman, puskesmas buka sampai hari Jumat saja, dari pukul 08-12 wpb.

Sangat disayangkan, ketulusan hati seorang bidan, yang telah membaktikan dirinya 17 lebih ini tidak bisa melayani pasien puskesmas di saat jam pelayanan. Jika prosedur berobat tersebut, yang harus melalui berbagai tahapan dipangkas, maka akan ada berapa banyak pasien yang bisa tertolong setiap tahunnya, tanpa harus berbelit-belit mulai dari daftar sampai pasien mendapatkan obat. Semoga kemuliaanmu untuk mengabdikan diri di daerah terpencil takkan pudar, walau banyak masalah menantimu.

Baca Juga Yang Ini, Seru Loo!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan pembaca berkomentar dengan santun untuk memberikan saran dan masukan kepada kami, terimakasih.