Selasa, 19 Desember 2017

UGM VS UNY Kuat-Kuatan Berdiam Diri Terhadap Kemacetan Di Simpang Selokan

UGM VS UNY Kuat-Kuatan Berdiam Diri Terhadap Kemacetan Di Simpang Selokan - Ketika aku kuliah di sini, hampir tiap mahasiswa memujinya dengan kota yang nyaman, ramah, sejuk, dan selalu ngangenin. Bahkan, bagi mereka yang pernah kuliah di sini, pasti akan mengatakan jika Jogja adalah kota yang ramah untuk ditinggali, selalu kangen buat datang ke tempat ini lagi setelah pulang kampung, bahkan tidak sedikit yang akhirnya tinggal di kota gudeg ini selepas kuliah entah untuk mencari nafkah ataupun sebagai tujuan tinggal yang mereka pilih. 

Namun, beberapa tahun terakhir banyak yang bilang kalau mereka resah dengan kemacetan yang terjadi di jalan-jalan utama kota ini. Bahkan belakangan banyak yang enggan buat keluar di kala weekend. Kemacetan hampir di setiap ruas jalan utama menjadi momok tersendiri saat weekend tiba, apalagi ketika ada tanggal merah sebelum atau sesudah hari libur yang memperpanjang weekend, dan secara otomatis akan memperpanjang hari kemacetan di Jogja tercinta ini. Tak heran, kaum millennial jaman now lebih memilih membeli kebutuhan mereka lewat aplikasi online, yang hanya dengan sentuhan jempol saja, barang atau makanan jadi sudah bisa sampai di rumah tanpa harus berjibaku dengan kemacetan di Jogja ini.
Begitu juga dengan saya, yang sudah 10 tahun tinggal di kota yang sudah saya anggap tempat tinggal sendiri ini. Sama seperti yang lain, kadang saya juga enggan jika harus keluar rumah di hari libur, apalagi dikala siang atau sore hari melewati jalur utama yang selalu macet. Jika bisa memilih, seringkali saya keluar rumah menghindari hari libur. Atau, jika di hari libur, saya lebih suka bepergian pagi hari, atau malam hari sekalian, agar tidak terjebak antre kemacetan yang harus diterobos demi ke suatu tempat tujuan.
Namun, belakangan saya agak resah dengan adanya kemacetan di Jalan Selokan Mataram dekat UGM, dimana jalan tersebut merupakan jalan yang sering saya lewati menuju ke berbagai tempat. Maklum lah, kos saya yang berdekatan dengan UGM membuat saya harus melewati jalan tersebut untuk keluar lokasi, walaupun kadangkala bisa memutar melewati jalan tikus yang sering bisa saya lalui untuk menuju ke daerah lain. Tak bisa dipungkiri, jika jalan ini mau tak mau, acapkali saya juga harus melalui jalan ini daripada harus jauh-jauh memutar melewati jalan tikus, karena jalan ini merupakan salah satu jalan utama yang cukup strategis buat ke berbagai lokasi di deket UGM maupun UNY, bahakan untuk ke daerah lain yang harus melewatinya.
Tidak seperti Jalan Selokan Mataram di daerah Babarsari yang cukup lama terjadi penumpukan kendaraan karena sempitnya jalan yang harus dilewati kendaraan, 2 tahun belakangan Jalan Selokan Mataram di seputaran UGM dan UNY selalu macet di kala jam-jam sibuk, khususnya siang hingga sore hari. Bukan disebabkan oleh jalannya yang kurang lebar, karena menurut saya jalan ini sudah cukup lebar dengan 2 jalur. Namun yang paling terasa adalah ketika ada pengalihan arus sebagai salah satu kebijakan kampus UGM, untuk meminimalisir kendaraan umum agar tidak melewati area dalam kampus.
Sejak jalur melewati daerah lembah UGM ditutup untuk umum, dan arus kendaraan dialihkan melalui polsek Bulaksumur, melewati persimpangan sebelah barat Teknik UNY, jalan di persimpangan antara UGM dan UNY tersebut semakin hari semakin macet. Hal ini dikarenakan kendaraan dari arah Sagan menuju ke arah Deresan, Klebengan, dan sekitarnya harus melewati jalur tersebut, jika tak ingin memutar melalui Perempatan Mirota Kampus yang selalu macet.
Belum Lagi, mereka harus memutar terlebih dahulu lewat selatan Bundaran UGM, atau memutar melalui Gejayan jika tujuannya di sebelah timur. Otomatis, jalur ini merupakan salah satu alternatif yang paling dekat untuk, walaupun sama-sama tidak begitu efektif untuk dilalui.
Sebagai jalan utama di lingkungan kampus, kadang kala ada petugas kampus yang bersedia mengatur arus lalu lintas jika ada kegiatan di kampus yang bersangkutan. Atau petugas jaga dari pihak kepolisian yang selalu mengatur lalu lintas, walaupun hanya di jam tertentu saja. Tetapi di saat jam sibuk di siang hari, atau bahkan di sore hari, seringkali tidak ada petugas yang menjaga persimpangan yang selalu bikin macet ini.
Bukan karena persimpangan yang sempit, tetapi yang menyebabkan kemacetan ini adalah tidak adanya rambu lalu lintas atau petugas pengatur lalu lintas yang senantiasa menertibkan para pengendara jalan. Alhasil, seringkali pengemudi mobil turun dan mengatur arus lalu lintas setelah mobilnya cukup lama terjebak kemacetan, agar mobilnya bisa keluar dari jebakan kemacetan, karena banyak yang selalu ingin menang sendiri tanpa adanya koordoinasi. Namun setelah mobilnya keluar, mereka melanjutkan perjalanannya lagi menuju tujuan. Begitulah yang selalu terjadi, tidak banyak pengemudi yang merelakan diri membuka kemacetan agar kendaraannya bisa keluar dari kemacetan.
Kadang kala, ada juga warga yang rela mengatur lalu lintas setelah melihat kemacetan panjang yang tak kunjung usai, dan mereka yang bisa keluar dari kemacetan akan memberikan uang receh mereka sebagai bentuk terima kasih atas bantuan tersebut. Saya sendiri tidak begitu tahu, apakah warga setempat atau bukan. Tetapi, saya salut kepada mereka, yang memang bertujuan mulia untuk mengurai kemacetan. Tidak seperti pak ogah yang memang ingin mencari penghasilan dengan ikut membantu menyeberangkan kendaraan di jalan raya.
Pertanyaan saya, sampai kapan pihak elit terkait akan berdiam diri atas kemacetan yang terjadi cukup lama ini? Khusnudzon saja, mungkin pihak kampus UNY tidak begitu memperdulikan walaupun kemacetan ini terjadi di area kampusnya, karena menganggap UGM lah yang harus bertanggung jawab, sebagai imbas dari kebijakan penutupan jalan melalui lembah UGM, sehingga masih berdiam diri atas fenomena ini. Ataukah pihak UGM yang juga lepas tangan, karena menganggap jika ini merupakan jalan umum dan bukan jalan kampus, sehingga pemerintah setempat-lah yang harus turun tangan menyelesaikan permasalahan kemacetan jalan umum ini.
Kadangkala, ketika melewati jalan ini saat kemacetan parah, saya berhenti sejenak untuk melihat pak ogah yang dengan rela hati mengurai kemacetan tanpa menyadongkan kotak untuk meminta sumbangan bagi mereka yang melewatinya, sambil berpikir, sampai kapan mereka akan berdiam diri membiarkan ini terjadi (dan diakui, memang saya hanya melihat suasana, dan belum tergerak untuk membantu mengurai kemacetan itu).
Menurut Wiliiam N. Dunn, lewat buku terjemahannya yang diterbitkan oleh Gajahmada University Press menyebutkan bahwa kebijakan publik adalah pola ketergantungan yang kompleks dari pilihan-pilihan kolektif yang saling tergantung, termasuk keputusan-keputusan untuk tidak bertindak, yang dibuat oleh badan atau kantor pemerintah. Secara sederhana dapat didefinisikan bahwa kebijakan publik adalah apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh pengambil keputusan.
Namun apakah para elit akan mengambil keputusan untuk tidak melakukan sesuatu atas kejadian ini? Dalam jangka panjang mungkin perlu dirumuskan suatu solusi yang bisa memecahkan permasalahan ini, seperti kasus Jalan Selokan Mataram dari arah Gejayan menuju ke Babarsari misalnya, yang direncanakan untuk diperlebar agar mengurangi kemacetan. Tentunya ini membutuhkan waktu yang tidak singkat, karena butuh proses, baik dari sisi perencanaan, anggaran maupun proses pengerjaan yang tidak sebentar.
Bagi saya kemacetan yang terjadi di jalan Selokan Mataran seputaran UGM-UNY ini merupakan sesuatu yang urgen, dan harus secepatnya dicarikan solusi oleh pihak terkait, baik oleh UGM, UNY, maupun pemda setempat (dalam hal ini Dishub Sleman yang mempunyai wewenang), baik dengan cara membuat rekayasa arus lalu lintas baru, pemberian rambu-rambu, ataupun menempatkan petugas yang bisa menjaga persimpangan setiap saat secara bergantian agar kemacetan bisa terkurangi. Kolaborasi ketiganya sangat diperlukan dalam waktu dekat ini, sambil mencari solusi yang tepat untuk jangka panjang atau menyelaraskan dengan roadmap lalu lintas yang mungkin akan direncanakan ke depan.
Jika elit terkait sadar dan tergerak akan hal ini, maka masyarakat khususnya mahasiswa UGM maupun UNY yang melewati jalan ini tidak akan kelamaan melewati jalur ini dan bisa mengurangi bahan bakar yang terbuang sia-sia saat menunggu kemacetan di Jalan Selokan Mataram ini. Begitu juga saya, bisa nyaman menuju suatu tempat melewati jalan ini…

SalamAspalGronjal

Senin, 20 November 2017

Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah, sebuah resensi buku M.Quraish Shihab


adheb
Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah
A.    Pakaian
Sandang atau pakaian adalah suatu kebutuhan pokok. Semua manusia, kapan dan dimanapun, maju atau terbelakang beranggapan bahwa pakaian merupakan suatu kebutuhan, dan mereka pasti akan membutuhkannya, paling tidak kertika musim dingin. Tetapi di sisi lain, pakaian merupakan suatu keindahan. Orang Papua misalnya, memakai koteka, karena koteka dianggap indah. Orang berupaya menampilkan keindahan melalui apa yang dilakukan dan dipakainya. Pakaian juga bisa memberikan dampak psikologis bagi para pemakainya. Misalkan, hakim mengenakan pakaian kebesarannya agar terlihat berwibawa, atau seseorang yang sengaja memakai sorban agar terlihat agamis/ islami.
Pakaian adalah produk budaya, sekaligus tuntunan agama dan moral, sehingga lahirlah pakaian tradisioal, nasional, dan lain sebagainya. Tuntunan agama pun lahir dari budaya masyarakat, karena agama sangat mempertimbangkan kondisi masyarakat, dan menjadikan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilainya sebagai salah satu pertimbangan hukum.
Memakai pakaian tertutup bukanlah monopoli di masyarakat Arab. Menurut Murtadha Muthahari (filosof besar Iran) pakaian penutup telah dikenal di kalangan Sassan Iran, karena tuntutannya lebih keras daripada yang diajarkan oleh Islam. Ada pula pakar yang mengatakan bahwa orang Arab meniru Persia yang beragama Zardasyt, yang menilai bahwa wanita adalah makhluk yang tidak suci, sehingga harus menutupi mulut dan hidung agar nafas mereka tidak mengotori api suci sesembahan.
Ada beberapa pakar yang mengatakan alasan seseorang memakai pakain penutup antara lain karena kerahiban (ingin lebih baik) alasan keamanan, atau ekonomi. Namun, itu semua hal tersebut tidak sesuai dengan pandangan Islam.
Dalam An-Nahl ayat 81, dijelaskan bahwa fungsi Al-Quran adalah untuk menjaga dari hawa panas/ dingin, dan membentengi diri dari hal-hal yang akan mengganggunya. Dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dijelaskan bahwa fungi pakaian adalah sebagai pembeda antara sifat seseorang dengan lainnya. Dalam Al-Qur’an surat Al A’raf ayat 26, dijelaskan bahwa pakaian berfungi sebagai penutup aurat dan sebagai hiasan.
Menurut pandangan pakar hukum Islam, aurat adalah bagian dari tubuh manusia yang pada prinsipnya tidak boleh terlihat, kecuali dalam keadaan mendesak/ darurat. Aurat perlu ditutupi agar hal–hal yang bersifat rawan bisa dihindari, karena dalam agama tidak diperintahkan untuk membunuh nafsu, tetapi untuk mengendalikan nafsu.
Dalam suatu riwayat, Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa kaki perempuan bukanlah suatu aurat, karena pada waktu itu disana banyak wanita desa yang berjalan kaki tanpa alas, sehingga akan menyulitkan jika harus dijadikan aurat. Abu Yusuf berpendapat bahwa kedua tangan bukanlah aurat, karena menutupi keduanya akan melahirkan kesulitan. Dalam Al-Qur’an sendiri tidak dijelaskan secara rinci batas batasan aurat
B.    Al-Qur’an dan Batas Aurat Wanita
Secara garis besar dalam konteks pembicaraan tentang aurat wanita ada2 kelompok besar ulama di masa lampau. Ada kelompok yang mengecualikan wajah dan telapak tangan. Karena agama memberi kelonggaran kepada pria untuk melihat wajah dan telapak tangan wanita. Tetapi bebeda dengan kelompok satunya yang menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita tanpa terkecuali adalah aurat.
Pakar tafsir Al-Biqa’i menyebutkan makna dari jilbab adalah baju yang longgar atau kerudung penutup kepala wanita, atau pakaian yang menutupi baju dan kerudungnya, atau semua pakaian yang menutupi wanita. Terkait pakaian wanita, semua ulama setuju bahwa wanita yang sudah tua tidak berdosa jika menanggalkan pakaian mereka, asalkan tidak menampakkan perhiasannya yang membuat birahi pria (dadanya).sesuai dengan An-Nur ayat 60.
C.    As-Sunnah dan batasan Aurat Wanita
Ada dua kelompok dalam menyatakan tentang aurat. Kelompok pertama yang menyatakan bahwa seluruh badan wanita adalah aurat misalnya hadis T-Tirmidzi “Wanita adalah aurat, maka apabila dia keluar rumah, setan tampil membelalat matanya dan bermaksud buruk terhadapnya”.
Adapun yang mengecualikan wajah dan telapak tangan, seperti yang diriwayatkan oleh “Aisyah ra, ketika putri Abu Bakar menemui Rasulullah dengan mengenakan pakaian tipis (transparan), maka Rasulullah berpaling enggan melihatnya dan bersabda ”Hai Asma’, sesungguhnya perempuan jika telah haid, tidak lagi wajar terlihat darinya kecuali ini dan ini” (sambil menunjuk wajah dan kedua telapak tangan beliau).
D.    Pandangan Kontemporer
Salah satu cendekiawan terkenal di masa kontemporer adalah Qasim amin dari mesir, dengan bukunya yang berjudul pembebasan perempuan. Dalam pandangan Qasim Amin, tidak ada satu ketetapan agama yang mewajibkan pakaian khusus (hijab/jilbab) sebagaimana yang dikenal selama ini dalam masyarakat Islam. Pakain yang dikenal itu menurutnya lahir akibat adat istiadat di mesir yang dianggap baik, kemudian ditiru dan dinilai sebagai tuntuna agama.
Secara garis besar, cendekiawan muslim terbagi 2 terkait pernyataannya tentang aurat. Kelompok pertama mengemukakan pendapatnya tanpa dalil keagamaan, ataupun, kalau ada sangatlah lemah. Misalnya, pandangan Muhammad Syahrur yang menyatakan bahwa pakaian tertutup merupakan salah satu bentuk perbudakan dan lahir ketika lelaki menguasai dan memperbudak manusia. Hijab yang bersifat material (pakaian tertutup) atau yang bersifat immaterial telah menutupi keterlibatan perempuan dalam dalam kehidupan, politik, agama, dan akhlak.
Kelompok kedua mengemukakan pendapat mereka atas dasar kaidah kaidah yang diakui oleh ulama terdahulu, tetapi ketika sampai pada penerapanya dalam meahami pesan ayat atau hadis, mereka mendapat bantahan dari ulama terdahulu juga.
Al-Quran yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi, sedangkan hadis yang merupakan rujukan utama tidak bisa meyakinkan berbagai pihak karena dinilai lemah oleh kelompok yang berbeda. Seandainya ada hukum yang pasti yang bersumber dari Al-Qur’an atau hadis, tentu tidak aka nada perbedaan pendapat tentang pakaian wanita serta batasan-batasannya.

Rabu, 04 Oktober 2017

“Ekspedisi 100 Hari di Puncak Gunung Merbabu” ngobrol-ngobrol langsung dengan mereka

“Ekspedisi 100 Hari di Puncak Gunung Merbabu” ngobrol-ngobrol langsung dengan mereka - Setelah cukup lama gak merasakan jalur yang paling sering saya daki sewaktu SMA, kini kembali merasakan jalur ini lagi. Terakhir pendakian, sekitar tahun 2013, dan itupun cuma camping di pos 2. Sewaktu SMA, jalur Wekas ini adalah satu satunya jalur yang pernah saya daki, walaupun ada jalur lain di sebelah utara sana. Mungkin karena jalurnya yang relatif mudah dan ada air di pos 2, sehingga tiap kali teman mengajak naik ke Merbabu, jalur inilah yang selalu dipakai.
adheb's poto
Puncak Kenteng Songo
Perjalanan Merbabu via Wekas kali ini, kita ingin mengetahui, dan ngobrol langsung terkait kegiatan para pendaki yang sedang menjalani Ekspedisi 100 hari di Gunung Merbabu ini. Tentu saja, tujuan kami adalah langsung ke puncak dan mewawancarai mereka yang sedang menjalaninya,  Yaitu Mas Raka, yang berasal dari Salatiga sekaligus ketua tim ekspedisi ini, dan juga mas Dani, yang berasal dari Semarang. Walaupun salah seorang anggota mengundurkan diri karena suatu hal, mereka berdua tetap kompak untuk meneruskannya sampai 100 hari, yang jatuh sekitar tanggal 28 Oktober ini. Bahkan saat ketemu, mereka masih terlihat sehat bugar dan sering bercanda, tanpa ada niatan untuk berhenti di tengah jalan.
Beberapa kegiatan yang mereka lakukan selama 100 hari ini antara lain restorasi, konservasi, dan sosialisasi tentang Kenteng Songo, termasuk teknik pendakian, dan juga masalah sampah di Gunung Merbabu ini. Untuk restorasi Kenteng Songo, sejauh ini dalam tahapan pengumpulan batu, terutama yang jatuh ke bawah, di arah jalur utara. Terakhir, mereka menemukan 1 lumpang lagi di area Kenteng Songo yang terpisah, pecah menjadi 2 bagian. Penemuan ini secara tidak sengaja, karena sebenarnya hanya mengumpulkan batu dari bawah, tetapi saat itu menemukan 1 batu lagi di hari ke 70, sehingga total batu sekarang ada 7 buah lebih setengah.
Terkait pengalaman, banyak hal-hal unik yang telah mereka alami selama tinggal di puncak Kenteng Songo ini, Bahkan katanya, orang yang tidak biasa bermimpi pun bisa bermimpi ketika berada di sini. Seperti itulah sindromnya di Puncak Kenteng Songo ini. Mungkin awal-awal belum bermimpi, tetapi di beberapa hari berikutnya dia akan mengalami mimpi berhubungan dengan emosi individu mereka, yang banyak keluar di dalam mimpi. Selain itu, apa yang diucapkan, banyak terjadinya. Untuk itu, kita harus berhati hati dalam mengucapkan sesuatu hal, termasuk tidak boleh menyombongkan diri selama gunung ini.
Seperti saat mereka berkeinginan untuk ganti menu makan. Saat ingin ganti makan ayam, selang sehari datang 3 porsi ayam, lalu saat bercerita tentang turis, akhirnya datang juga besoknya, turis naik sendiri, tanpa porter. Cerita tentang tenda pun, selang sehari ada yang ngasih. Termasuk saat bicara tentang watu lumpang ini, saat bercerita semoga menemukan batu lagi, akhirnya menemukan juga 1 batu lumpang lagi. Semua terjadi tanpa sengaja. Tetapi jangan sampai berbicara tentang hal hal yang negatif, takutnya itupun bisa terjadi nantinya. Hal hal seperti ini yang bikin betah dan nyaman selama mereka menjalani ekspedisi 100 hari ini.
Adapun keinginan atau pesan mereka untuk para pendaki Gunung Merbabu . Pertama, harapannya para pendaki jangan sampai merusak pohon atau akarnya, walaupun sudah mati. Seperti jika membutuhkan pasak, tetapi karena kekurangan, sehingga menebang pohon. Hal ini kurang bagus, lalu trecking pole yang seharusnya bawa dari rumah, tetapi masih ada juga yang mengambil di tengah jalan saat ada pohon yang bisa digunakan. Terkait masalah sampah, masih banyak yang membuang sampah di gunung. Saat menggunakan tisu basah atau botol air mineral misalnya, masih banyak yang tidak masuk ke plastik sampah sendiri, tetapi tertinggal di gunung.
Masalah safety pun sangat penting buat para pendaki. Jangan sampai kita mengacuhkan safety selama pendakian Gunung Merbabu ini. Initnya, terkait kode etik dalam pendakian gunung. Kita harus lebih melestarikan alam, dengan tidak membuang sampah sembarangan dan memasukkan ke trashbag, dan masuk ke tas kita lagi, itu sudah cukup bagus. Pokoknya, apa yang kita bawa naik, sebaiknya juga bisa kita bawa turun. Hal ringan seperti ini sebetulnya harus diperhatikan. Penting juga untuk sering bertegur sapa, walaupun tidak kenal, minimal kita bisa bertegur sapa dengan sesama pendaki lain.
Ada juga, peraturan tidak tertulis yang khusus diterapkan di Gunung Merbabu ini, seperi tidak boleh memindahkan batu sebagai pengganti apapun, atau memindahkan batu dimanapun, di Gunung Merbabu ini. Memindahkan saja tidak boleh, apalagi sampai mengotorinya. Hal seperti ini yang jarang dipahami oleh para pendaki Gunung Merbabu ini.
Itulah, sekelumit cerita yang saya dapat ketika ngobrol dengan mereka sewaktu pendakian kemarin. Walaupun tidak banyak, tetapi minimal bisa berbagi dengan kalian, sesama pendaki, agar kita semakin bijak dan tertib saat mendaki gunung. Karena bagaimanapun juga sebagai orang yang suka mendaki gunung, kita harus ikut andil dalam melestarikan alam ini, agar gunung kita tetap lestari. Semoga ada hal menarik lagi yang bisa dibagi buat kita kemudian, sukses selalu…


Kamis, 20 April 2017

Merbabu Via Timboa

Merbabu Via Timboa - Merbabu, salah satu gunung yang sering didaki, tidak hanya oleh mereka yang hobi berpetualang mendaki gunung, tetapi sangat cocok juga bagi pemula yang ingin mendaki gunung. Maklum saja, trek yang cukup sedang dengan ketinggian 3141 Mdpl adalah gunung yang relatif ideal buat pendaki. Tidak sependek Gunung Andong atau Prau, dan juga tidak terlalu tinggi seperti Semeru, menjadikan gunung ini cukup diminati dan ramai pengunjung khususnya di hari libur.
Seperti hanya saat saya mendaki gunung yang sama ini, via Suwanting sebelum booming dulu. Kali ini saya akan sedikit mereview pendakian Merbabu lewat jalur berbeda, yang patut kalian coba. Pendakian Merbabu dari sebelah timur, melalui Timboa, yang terletak di Desa Ngadirojo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.
adhebs
Pemandangan di Pos 4
Dari Jogja, kami mampir dulu ke beskem Primapala, yang terletak di pinggir jalan , di kampung Karang. Lalu kami diantar oleh mereka menuju ke beskem Timboa. Kami beristirahat di rumah Mas Mujiono, atau yang biasa dipanggil Mas Gadek. Melihat dari petanya, Jalur Timboa ini hanya menyusuri satu punggungan saja, tanpa harus menyeberang ke punggungan sebelah. Jadi, cukup mudah dlama menandainya Selama perjalanan kita.
Sebenarnya ini adalah jalur lama, karena merupakan jalur ritual yang ramai di bulan-buan tertentu, seperti malam 1 Syuro. Kemudian 4 tahun terakhir, jalur ini mulai dibuat, tidak hanya untuk para pengunjung yang ingin napak tilas ataupun ziarah, tetapi juga untuk mereka yang ingin mendaki Gunung Merbabu ini melalui jalur yang berbeda. Bahkan, setiap tanggal 17 Agustus warga sekitar juga mengadakan acara pengibaran bendera melalui jalur ini. Berhubung ukuran bendera yang cukup besar, yaitu 90X120 meter, maka pengibaran bendera tidak dilakukan di puncak, melainkan di seputaran Lemah Dhuwur.
 Oke, langsung saja ke perjalanannya. Setelah melapor dan registrasi, kami persiapan untuk pendakian. Dari rumah Mas Gadek, yang juga biasa digunakan untuk menampung hasil pertanian masyarakat, kami berjalan menuju ke gapura pendakian sekitar 500 meter dengan jalan cor yang cukup melelahkan. Lalu melanjutkan perjalanan menuju ke pos 1 dengan jarak tempuh sekitar 2 jam. Melalui jalur yang lumayan melelahkan ini, kita disuguhi oleh pemandangan kebun warga, selama lebih dari 2/3 perjalanan. Selebihnya, mulai ada pepohonan hingga sampai di pos 1. Namun sebelum itu, ada juga tempat camp, di Encuring Bacing.
Seperti namanya, Simpangan. Di Pos1 ini kalian harus belok ke kiri naik, untuk menuju puncak, Sedangkan kalau lurus, maka kalian akan menuju ke air terjun. Jika di atas hujan, disini kita bisa melihat air terjun yang sangat indah, dengan beberapa tingkat.
Dari pos 1 ke pos 2 lama perjalanan sekitar 30 menit. Menurutku, inilah jalur yang paling enak, diantara pos-pos yang lain. Yang jelas, selain karena trek nya yang tidak terlalu jauh, juga karena jalan yang kita lalui cukup nyaman. Dengan tanah yang tidak licin, dan diteduhi oleh pepohonan, membuat suasana perjalanan kita terasa sejuk, tidak kepanasan. Hanya sedikit saja jalur yang terjal. Selebihnya, landai nan bonus.
Keluar dari pos 2, kita sudah tidak dipayungi lagi oleh rindang pohon di atas kita, dan akan melewati padang rumput nan luas, dengan trek yang lumayan panjang, sekitar 2 jam perjalanan. Hati hati, karena jalan cukup licin tertutup rumput semak semak, dan sebelah kiri ada jurang yang cukup dalam. Perjalanan kali ini juga lumayan melelahkan, dengan jalur yang agak terjal. Kondisi tanah yang tidak terlalu sering dilalui, membuat jalur yang banyak tertutup oleh rumput ini terasa licin dengan adanya lumut di beberapa titik jalur pendakian.
Sampai di pos 3, terdapat area camping yang cukup luas, dan kita juga bisa melihat puncak watu tulis di atas sana, sebelum melewati jembatan Sirod. Biasanya, para pendaki mendirikan tenda di sini sambil menikmati suasana sunset di sekitar tenda.
Menuju ke Pos 4, kita akan melewati semak semak dengan beberapa pohon, selama 30 menit. Dengan adanya beberapa pohon, maka perjalanan menjadi tidak terlalu melelahkan. Bagi kalian yang ingin melakukan pendakian selama 2 hari, menurut saya pos 4 ini adalah tempat yang paling rekomended untuk mendirikan tenda.
Tidak hanya pemandangan sunset dan sunrise yang sangat indah, dengan beberapa gunung di sebelah timur yang terlihat jelas, tetapi juga pemandangan kota Salatiga dan Boyolali yang kelap kelip di malam hari, dengan jalur penghubung yang terlihat jelas oleh lampu-lampu jalanan. Bahkan jika cuaca bagus, maka kita akan disuguhi oleh pemandangan langit yang indah, diterangi cahaya bulan yang menawan.
Selanjutnya adalah perjalanan menuju ke pos 5 selama 2 jam perjalanan. Keluar dari pos 4 tidak terlalu lama, kita akan melewati padang rumput yang luas. Jalur ke pos 5 ini mirip sekali dengan perjalanan dari pos 2 menuju pos 3, dengan padang rumput di sepanjang perjalanan, dengan jalur yang lumayan terjal. Bedanya, jika tadi di samping kita terdapat jurang, kalau di jalur ini kita selalu melihat bukit di depan kit, menuju ke titik di atas sana.
Beruntung, karena jalur dibuat zig-zag, membuat perjalanan yang kita lalui tidak terasa begitu berat, walaupun cukup terjal. Jika kalian tidak sabar, kalian bisa saja memotong lurus ke atas, karena ada juga trek lurus, walaupun tidak terlihat jelas. Jika sudah melihat ada batu di tanah sepanjang jalur yang kita lalui, berarti itu menandakan kalau kita sudah hampir sampai di pos 5.
Dari pos 5 ke Watu Tulis kita melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai di puncak bukit. Tidak sampai 30 menit, kita akan sampai di pos 6. Di sana, kita bisa melihat puncak Syarif di depan kita, sementara di sebelah kanan terdapat jurang. Melanjutkan perjalalanan sebentar, kita akan melewati jembatan Sirod.
Buat kalian yang pernah mendaki Gunung Raung, jembatan Sirod ini sama seperti jembatan Sirotol Mustaqim di Gunung Raung, dengan jalan setapak selebar tidak ada satu meter dan jurang di sebalah kanan dan kiri jalan. Bedanya, jika di Raung jembatan Sirotol Mustaqim nya sangat panjang, di sini panjang Jembatan Sirod hanya sekitar 3-5 meter saja, sehingga tidak begitu menakutkan. Cukup mudah untuk dilalui.
Jika sudah sampai sini, maka perjalanan 30 menit berikutnya sampai puncak Syarif sangatlah tidak terasa. Karena, pemandangan yang ada sepanjang perjalanan menambah tenaga kita untuk menikmati setiap jengkal langkah kaki. Tidak hanya puncak Syarif, Puncak Menara atau Puncak Kenteng Songo. Bahkan jalur persimpangan di bawah pun terlihat jelas dari sini, termasuk Puncak Merapi di sebelah kiri jalur.
Dan akhir dari perjalanan ini adalah Puncak Syarif, sebagai pertemuan dari beberapa jalur lainnya. Dari sini, kalian bisa melanjutkan perjalanan menuju Puncak Kenteng Songo, Menara, ataupun turun lewat jalur yang berbeda.
Selamat mencoba…

Keterangan dari catatan kami :
Pintu Gerbang Jalur Timboa (1514)
S 07 25.535
E 110 27.803
Encuring Bacing 1848
S 07 25.802
E 110 27.803
Pos 1. Simpangan (1971)
S 07 25.936
E 110 27.413
Pos 2. Pamong Seger (2109)
S 07 26.086
E 110 27.338
Pos 3. Mainan (2430)
S 07 26.381
E 110 27.213
Pos 4. Ki Hajar Sampurna (2614)
S 07 26.512
E 110 27.002
Pos 5. Watu Tumpang (2899)
S 07 26.689
E 110 26.800
Jembatan Sirod (3070)
S 07 26.819
E 110 26.632
Puncak Syarif (3124)
S 07 26.985
E 110 26.563

Sabtu, 28 Januari 2017

Wisata Majalengka 2017

Wisata Majalengka 2017 - Tinggal di Majalengka untuk kedua kali, membuat saya berkeinginan untuk menulis kembali objek wisata yang ada di sini. Majalengka yang terdapat banyak wisata ini, mungkin belum begitu diketahui oleh khalayak, tentang daerah potensi wisata yang merata hampir di setiap kecamatan di penjuru kabupaten ini. Untuk itu, saya tulis kembali obyek wisata yang saya kunjungi, karena seperti anda juga mungkin, tidak semua objek wisata saya kunjungi, mengingat bukan suatu hal yang menarik bagi saya, atau barangkali saya yang memang belum mengenal dan kurang begitu paham objek wisata yang lainnya.
potone adheb
MAJALENGKA
1.    Bendungan Rentang
Terletak di Dusun Rentang, Desa Panongan, Kecamatan Jatitujuh ini merupakan salah satu bendungan terbesar di Majalengka bagian utara. Dibangun sekitar tahun 1911, dan dibangun kembali sekitar tahun 1982 ini bisa kita kunjungi untuk sekedar menghabiskan waktu menikmati sore, sambil memandangi pemandangan di sekitar bendungan ini.
Kita bisa berjalan jalan di sekitar bendungan ini, ataupun bersantai di pinggir bendungan bersama kawan. Di hari libur, seringkali ramai oleh warga yang ingin menikmati susasana di area bendungan ini.
Bendungan Rentang
2.    Curug Awul
Terletak di Blok Citayam, Desa Cibodas, Kecamatan Majalengka ini tidak begitu banyak diketahui oleh masyarakat luas. Selain karena letaknya yang agak di dalam, juga tingginya yang hanya sekitar 5 meter saja membuat daerah yang tidak begitu dirawat ini masih terlihat alami.
Curug Awul
3.    Curug Sempong
Terletak di Cisempong, sekitar 9 kilometer dari Kota Majalengka. Untuk menuju ke sana, dari arah kota naik ke selatan di Gunung Panten. Setelah melewati tiket masuk dan membayar 5 ribu rupiah, lalu belok kiri turun menyusuri jalan.
Curug ini lumayan bagus, tetapi saat saya ke sana, tidak ada penunjuk jalan menuju ke arah curug ini, dan harus bertanya ke warga, dengan jalan setapak yang masih alami, belum diperbaiki oleh pihak setempat.
Curug Sempong
4.    Wisata Paralayang Gunung Panten
Masih di desa yang sama, masih lurus saja dari pintu masuk, kita akan menemui area untuk paralayang. Jika kalian ingin menlihat indahnya kota Majalengka dengan susunan rumah-rumah warga yang berpusat di kota, tidak salah jika kalian menuju ke sini. 
potone adheb
Landing seteah melayang di udara
Di sini, kalian bisa beristirahat sambil melihat pemandangan kota dari atas. Jangan takut jika lapar, karena warung makan maupun minum ada di sini. Di hari Sabtu-Minggu, biasanya ramai oleh para pemain paralayang yang berlatih untuk terbang menaiki paralayang, menjadi daya Tarik tersendiri bagi wisatawan untuk melihatnya. Oleh karena itu, di hari itu biasanya ramai dikunjungi.
adheb's photo
Santai di Area Paralayang Gunung Panten
5.    Cadas Gantung
Terletak di Desa Mirat, Kecamatan Leuwimunding, merupakan salah satu objek wisata yang sangat ramai beberapa tahun terakhir ini. Objek wisata yang sudah digarap dengan baik ini, mempunyai daya Tarik tersendiri, sehingga sampai sekarang masih ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Tidak hanya lokal Majalengka, tetapi juga dari berbagai kota di sekitar sini.
potone adheb
Salah Satu Gardu Pandang Cadas Gantung
Berjalan kaki ke atas, kita akan disuguhi oleh pemandangan batu cadas besar berbagai ukuran, lalu di paling ujung, kita bisa melihat pemandangan indah dari atas. Sangat bagus untuk berfoto dengan latar hutan, ataupun kota jauh di bawah sana.
adheb's photo
Panorama Cadas Gantung 
6.    Curug Tonjong
Terletak di Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh, sudah mulai dibuka kembali sejak tahun 2015 lalu. Bahkan, kini jembatan di tengah curugpun sudah diperbaiki, dari yang sebelumnya berupa jembatan bambu, kini menjadi jembatan kayu agak permanen. Jalan menuju curug inipun kini sudah diaspal bagus.
adheb's photo
Jembatan bambu sebelum diganti menjadi jembatan kayu
adheb's photo
Jembatan kayu pengganti  jembatan bambu
Sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga, sambil menikmati hidangan di gubung-gubung sekeliling curug yang disediakan oleh penjual. Jika ingin sekedar ke puncak, kalian bisa lurus saja melalui jalan setapak. Kalian akan sampai di puncak di atas.
7.    Situ Janawi
Berada di Desa Payung, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan situ lainnya yang berada di Kabupaten Majalengka ini. Tapi tidak tahu kenapa, ingin sekali rasanya saya mengunjungi tempat ini mulai dari pertama kali datang ke kota ini, walaupun baru bisa terealisasi di hari terakir saya berada di sini.
Tidak ada yang spesial di situ ini, hanya saja, jika kita berfoto di salah satu jembatan bambu yang berada di pojokan, maka hasilnya terlihat sperti cermin. Terlihat sangat indah, apalagi saat hujan rintik tiba, membuat hasil jepretan terlihat sejuk nan damai.

Siang di Situ Janawi (hari terakhir perjalanan)
8.    Taman Nasional Sadarehe
Terletak di Desa Payung, Kecamatan Majalengka, kita bisa menikmati panorama kebun teh di kaki Gunung Ciremai ini. Kita bisa bersantai menikmati pepohonan nan hijau disini, sambil melihat pemandangan pemukiman warga di sebelah barat dan selatan, terlihat jauh dan kecil di bawah awan.
adheb's photo
Melihat Pemandangan di Seputaran Sadarehe
9.    Curug Cipeuteuy
Berlokasi di Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, area lokasi di Curug Cipeuteuy ini sudah dikelola dengan bagus. Tidak hanya menikmati indahnya curug saja, tetapi kita juga bisa menikmati suasana di sekitar curug yang sudah dikelola dengan baik ini.
adheb's photo
Wisata ke Curug Cipeuteuy
Di sini, kita bisa bersantai di gubug-gubug, ataupun menikmati sejuknya pohon pinus di sekelilingnya bersama kerabat keluarga. Apalagi di hari libur, curug ini amai dikunjungi oleh para wisatawan.
10.    Curug Baligo
Terletak di Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, merupakan salah satu curug tertinggi di Kecamatan Sindangwangi ini. Kita bisa melalui jalan setapak untuk menuju ke curug ini, walaupun agak jauh, sekitar setengah kilometer. Namun kita akan disuguhi oleh pemandangan indah nan sejuk.
Curug Baligo
11.    Telaga Nila
Telaga Biru nan indah ini terletak di Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi. Walaupun terlihat biru dan jernih, namun sebetulnya telaga ini sangat dalam. Warna biru ini terjadi karena adanya pohon di sekitar telaga ini, dan juga air telaga yang jernih ini, membuat waranya terlihat hijau agak kebiruan, kata warga saat saya bertanya.
Kataya di musim kemarau, air telaga ini malah bertambah banyak dan juga warnanya lebih jernih daripada saat musim penghujan tiba. Tidak perlu berjalan jauh untuk menuju ke sini, karena letaknya di pinggir jalan, di dekat parkir sepeda.
adheb's photo
Santai di Talaga Biru
12.    Telaga Herang
Tidak jauh dari telaga biru ini, ada juga telaga yang sangat jernih dengan berbagai ikan di dalamnya. Sangat cocok buat wisatawan yang ingi melepas lelah, bersantai di telaga sambil melihat ikan ikan yang berenang di dalamnya.
adheb's photo
Talaga Herang
Jernihnya air di Talaga Herang
Banyak juga yang mandi di air telaga yang sangat jernih ini. Dengan area yang sangat luas, kita bisa mandi dengan puas di talaga bersama ikan ikan hias yang banyak terdapat disini.
13.    Taman Wisata Bukit Alam Hejo
Berlokasi di kaki Gunung Ciremai, tepatnya di sebelah barat gunung, di Desa Pasirayu, Kecamatan Sindang, kita bisa menjumpai area wisata sekaligus edukasi di area sekitar 3,5 hektar ini. Berbagai jenis permainan ada di sini, seperti kolam renang, outbond, dan lainnya, bisa dijadikan referensi untuk wisata keluarga bersama anak-anak tercinta.
Bukit Alam Hejo
14.    Hutan Pinus dan Bumi Perkemahan Cipanten
Terletak di Desa Argalingga, desa sebelum Argamukti, belok kiri sekitar 100 meter persimpangan menuju Argamukti, kita akan melihat hutan pinus yang sekarang dikelola oleh BTNGC (Balai Taman Nasional Gunung Ciremai). Kita bisa menikmati sejuknya udara di hutan pinus seluas sekitar 1,5 hektar ini sambil berkemah, karena memang di sini adalah area Camping Ground dengan berbagai fasilitas yang ada.
adheb's photo
Hutan Pinus Argalingga
15.    Curug Muara Jaya
Terletak di Desa Argamukti Kecamatan Argapura, curug ini dikenal warga dengan sebutan Curug Apuy, karena yang mengelola curug ini adalah masyarakat Kampung Apuy. Untuk sampai ke curug, kita harus menuruni anak tangga yang cukup panjang dan berkelok kelok. Namun, ada pegangan tangan yang bisa kita gunakan untuk berjaga jaga, dari atas sampai ujung bawah. Curug ini terletak di aliran sungai Muara Jaya, di Lereng Gunung Ciremai.
Jika sampai ke curug, maka kita akan merasakan segarnya air curug yang mempunyai ketinggian sekitar 73 meter ini. Saat menuruni tangga, terdapat 2 cabang dimana yang ke kanan menuju curug, dan yang ke kiri menuju ke camping ground dengan pemandangan bukit besar di depan kita. Tempat ini sangat cocok digunakan untuk camping, karena terletak di pinggir sungai, dan di sebelah selatan terlihat bukit atau gunung kecil yang sangat indah.
adheb's photo
Curug Muara Jaya
adheb's photo
Camping Ground di Area Wisata Curug Muara Jaya
Jika sebelumnya tangga di sini berwarna merah, akhir tahun ini semua pagar besi sudah dicat dengan warna biru. Sayangnya, walaupun harganya umum seperti tempat wisata lain, namun jika dibandigkan dengan objek wisata di sekitaran Argapura ini, tiket masuknya relatif mahal untuk kalangan menengah ke bawah.
16.    Curug Sawer
Masih satu tempat dengan Curug Muara Jaya, Curug Sawer dengan pemandangan sejuk nan asri  ini juga sebaiknya kita kunjungi. Curug yang cukup indah ini sangat sayang jika kita lewatkan jika kita lewatkan begitu saja.
Curug Sawer
17.    Goa Lalay
Terletak di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura, bisa kita jangkau hanya sekitar 20 menit perjalanan dari Maja. Lewat samping terminal, lurus saja ke atas, arah Argapura, kita akan menjumpai desa Sukadana. Selain Goa Lalay, kita akan melihat indahnya curug Embun Pelangi, atau disebut juga Curug Ibun yang indah ketika terkena sinar matahari.
Seperti di Pangandaran yang terkenal dengan Green Canyonnya, di sini kita juga akan menikmati indahnya Green Canyon ala Majalengka, dengan panorama sayatan tebing batu cadas yang mengapit sungai Cilongkrang ini. Namun sayang, untuk kali ini saya tidak bisa datang ke sana karena sedang ditutup karena adanya korban jiwa yang terseret arus beberapa bulan yang lalu.
Goa Lalay
18.    Terasering Panyaweuyan
Masih di desa yang sama, desa Argamukti, dari Kampung Apuy naik lagi sekitar 1 kilometer, kita akan menjumpai terasering yang cukup ghe-hits, yaitu terasering panyaweuyan. Bagi para pecinta fotografi, terasering luas nan hijau ini akan menjadi syurga tersendiri, dengan landscape yang sangat indah nan luas, membuat wisatawan enggan untuk beranjak dari tempat ini.
Kontur dataran tinggi perbukitan yang ditanami berbagai jenis sayuran ini sangat indah saat musim tanam, karena semua akan berwarna hijau. Sambil menikmati kopi, tak terasa jika waktu berjalan begitu lambat ketika kita berada di tengah-tengah area kebun ini. Tidak hanya di sini, bahkan kita bisa menikmatinya dari beberapa desa di sekitar sini, seperti dari desa Cibunut, ataupun desa Tejamulya yang berada di sebelah selatan Argamukti. Dengan keindahan alam yang tak kalah hebatnya, karena masih dalam satu areal perkebunan.
adheb's photo
Ngopi sambil menikmati suasana Panyaweuyan
19.    Panorama Cikebo
Terletak di sebelah selatan Maja. Tidak jauh dari pusat kota Maja, sekitar 1 kilometer ke selatan, kita bisa bersantai di pinggir jalan raya sambil menikmati jagung bakar. Tidak hanya itu saja, namun panorama gunung ciremai yang sangat indah di sebelah timur, itulah yang menjadi daya Tarik di sini, sambil menikmati kopi panas bersama dengan jagung bakar pedas, aduhai, nikmatnya.
adheb's photo
Menikmati Jagung Bakar di Cikebo, Maja
20.    Curug Puntang
Berlokasi di Desa Cengal, Kecamatan Maja, Curug ini masih sangat alami. Perjalanan sekitar 30 menit dari Maja menuju Desa Cengal,  saya agak putus asa, karena beberapa kali saya bertanya ke warga, mereka malah tidak begitu tahu tentang curug ini. Hingga akhirnya saya diberitahu jalan menuju ke curug ini.
adheb's photo
Menikmati Sejuknya Curug Puntang
Setelah memarkir kendaraan, saya masih harus jalan kaki sekitar 2 kilometer lagi. Sebenarnya tidak masalah, tetapi yang membuat saya kesusahan adalah tidak adanya petunjuk arah, karena adanya beberapa jalan setapak yang bercabang. Beruntung sedang musim tanam, sehingga saya beberapa kali bertemu dengan warga yang menunjukkan lokasi curug ini. Setelah melewati sawah berterasering, akhirnya sampailah saya di curug ini.Kelalahan terbayar sudah, dengan melihat pemandangan curug yang masih alami ini.
21.    Situ Sangiang
Terletak di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, kita akan disuguhi telaga yang cukup indah dan luas. Disini kita bisa menikmati telaga baik dari pinggir, dari atas pohon, karena juga terdapat papan di atas pohon untuk menikmati talaga, ataupun dari dermaga bambu dengan latar telaga sangiang. kita juga bisa melihat beberapa ekor monyet yang berkeliaran di sekitar situ ini. Jika ingin memberi makan ikan, sapkan saja roti, dan mereka akan dating bergerombol banyak. Asik sekali rasanya.
adheb's photo
Telaga Sangiang
adheb's photo
Dermaga Ikan di Talaga Sangiang
adheb's photo
Memberi Makan Ikan di Talaga Sangiang
Tidak hanya itu saja, di lokasi objek wisata dengan total luas sekitar 104 hektar ini juga terdapat berbagai macam arena outbond, baik dengan tali, papan, ataupun berseluncur dari atas pohon. Masih banyak pohon-pohon besar yang tumbuh dan memang dijaga di lokasi ini.
adheb's photo
Ada Juga Lokasi Untuk Berbagai Macam Outbond
Jika kalian suka berziarah, maka di lokasi ini juga terdapat makam Sunan Parung yang dipercaya sebagai salah satu raja dari kerajaan Talaga Manggung, dan selalu ramai didatangi para peziarah dari berbagai tempat.
22.    Puncak Sawiyah
Masih di Desa yang sama, yaitu Desa Sanging, sekitar 3 kilometer dari kantor desa ke aras timur, kita akan menjumpai panorama puncak yang sangat sedap dipandang mata. Ya, puncak Sawiyah, tidak kalah dengan Panyaweuyan, bahkan bisa dibilang lebih hijau, karena dataran punggungan terasering di sini lurus memanjang, membuat panorama terlihat indah.
adheb's photo
Parkir di Puncak Sawiyah

adheb's photo
Puncak Sawiyah
Berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Ciremai, karena saya lihat, perkebunan warga di sini cukup tinggi, sampai ke perbatasan TNGC dengan ketinggian diatas 1.300 mdpl. Lebih tinggi daripada Panyaweuan yang hanya sekitar 1.200 mdpl.
23.    Curug Cilutung
Berada di desa Talaga Kulon, Kecamatan Talaga. Dari alun alun ke barat, dan belok kiri saat ada perempatan, lurus saja sampai ujung, kita akan tiba di curug yang sangat deras debit airnya ini. Walaupun jalan menuju ke sini masih banyak berlubang, namun sekarang curug ini sudah mulai dikelola dengan baik oleh warga setempat.
adheb's photo
Curug Cilutung

adheb's photo
Biasa Disebut Juga Dengan Talaga Emas
Jika hujan tiba, debit air di curug ini sangat deras dan berwarna kuning kecoklatan, sehingga banyak yang menyebutnya dengan Talaga Emas. Tapi harus berhati hati bagi kalian yang akan berfoto di sini, karena cukup licin dan terjal.
Menghadap ke arah selatan, kita juga akan disuguhi oleh panorama persawahan yang sangat indah. Tidak jauh dari tempat itu juga terdapat bekas PLTU yang dulu pernah digunakan, namun kini sudah tidak begitu terawatt dengan baik.
24.    Bukit Jomblo
Terletak di Blok Ciinjuk, Desa Cipulus, Kecamatan Cikijing ini merupakan salah satu objek wisata yang baru ngetrend. Dengan ketinggian yang hampir sama dengan Puncak Sawiyah, namun disini ada hal yang paling aneh. Yaitu ada satu pohon yang terletak di tengah tengah terasering, yang menjadi ikon tempat ini, yaitu pohon jomblo.
adheb's photo
Pohon Jomblo
adheb's photo
Panorama di Bukit Jomblo
Selain itu, disini juga terdapat arena wisata lain yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati indahnya panorama bukit jomblo. Jika ingin camping sambil menunggu sunrise, bisa saja, karena juga terdapat camping ground yang memang disediakan bagi kalian yang tidak ingin jauh-jauh camping sampai ke puncak gunung.
25.    Curug Cibali
Terletak di Desa Kondangmekar, Kecamatan Cingambul. Curug ini merupakan curug alami yang masih jarang didatangi oleh para wisatawan. Untuk menuju ke sini, dari Persimpangan Cikijing lurus terus ke  arah Ciamis, kemudian belok kiri di gapura desa Kondangmekar. Setelah parkir, kita masih harus jalan kaki menyusuri sungia kecil cukup jauh. Itulah sebabnya, mungkin jarang wisatawan yang datang ke curug ini.
adheb's photo
Curug Cibali
26.    Curug Campaga
Terletak di desa Campaga, Kecamatan Talaga, dengan warna bebatuan yang hitam nan coklat karena terkena air. Kita tidak terlalu sulit untuk menuju ke curug ini, seperti beberapa curug yang lainnya.

27.    Curug Cipeureus
Dari bawah, terlihat sangat tinggi, sekitar 12 meter,  walaupun debit air tidak begitu banyak. Terletak di Desa Sukamenak, Kecamatan Bantarujeg. Dari Kantor desa masih turun ke bawah lagi sekitar 4 kilo melalui jalan cor, lalu belok kanan di samping masjid, hingga di ujug jalan. Kita bisa memarkir kendaraan di rumah warga tersebut, dan berjalan kaki sekitar 1 kilometer menuju ke curug ini. Jalannya hanya tingal lurus saja, mengikuti jalan setapak warga tanpa kebingungan. Hanya saja, setelah ita melihat Curug ini dari atas, maka kita harus melalui jalan basah nan terjal untuk bisa sampai ke bawah curug, di pinggir sungai ini.
adheb's photo
Curug Cipeureus
Jalannya lumayan jelek, melalui kebun warga, walaupun tidak terlalu jauh untuk sampai pas di bawah grojogan air terjun ini. Tetapi, tetap saja kita harus berhati-hati menuruninya. Melihat ke atas, terlihat ada satu pipa panjang sekitar 50 meter, sebagai aliran air yang dipasang warga untuk mengalirkan air langsung ke kebun warga, dari hulu air terjun tersebut.
28.    Taman Dinosaurus
Taman Wisata Dinosaurus Buana Puri ini terletak di Desa Margajaya, Kecamatan Lemah Sugih. Cocok untuk bersantai bersama keluarga dan anak anak, karena terdapat beberapa patung di areal ini. Beberapa tahun belakangan kurang begitu terawat, sehingga terlihat seperti seadanya. Namun, ada info kalau tahun ini akan sedikit diperbaiki, dengan pengelola yang berbeda.
adheb's photo
Taman Wisata Dinosaurus
29.    Curug Citerus
Disebut Juga Curug Tapak Kuda, terletak di Desa Sadawangi, Kecamatan Lemah Sugih. Dari Balai Desa, naik sekitar 1 kilometer ke atas, kemudian numpang parkir di rumah warga, dilanjut jalan kaki menyusuri aliran sungai sekitar seperempat jam kita akan sampai di curug yang cukup indah dan deras airnya ini.
adheb's photo
Curug Citerus
Tidak terlalu susah untuk menuju ke curug ini, cukup dengan menyusuri tanggul sungai saja. Tetapi jalannya masih belum dibuat dengan baik oleh warga maupun pemerintah setempat.
30.    Kebun Teh Cipasung.
Berada di Kecamatan Lemah Sugih paling selatan. Di Desa Cipasung, yang berbatasan dengan Tasik ini, terdapat area perkebunan teh yang dikelola oleh koperasi Buana Mukti. Luasnya sekitar 58 hektar dengan ketinggian sekitar 1.000 mdpl. Di bulan Januari- Februari, biasanya musim kabut disini. Dua kali kesana di bulan tersebut, saya harus melewati kabut yang sangat tebal saat pulang. Padahal, masih jam 2 siang.
Pemandangan kebun teh yang lumayan bagus akan kita temui setelah tiba di area perkebunan ini, dengan hamparan kebun teh yang berwarna hijaun, walaupun arealnya tidak terlalu luas. Yang bikin ngangenin adalah ngopi di warung kopi, yang tersedia di areal kebun teh ini, sambil memandang hijaunya kebun teh bersama dengan udara sejuk disini.
Namun, saya ada sedikit kekecewaan saat saya kesana, karena tiket masuk yang tertulis 2.500 rupiah (kalau tidak salah, karena tertutup oleh tinta dengan tulisan 8.000) harus dibayar mahal seharga 8.000 dengan coretan pulpen dari orang yang tak bertanggungjawab. Saya sendiri tidak tahu, apakah yang mencoret adalah oknum penjaga disitu, ataukah dari desa setempat.
adheb's photo
Menikmati Kopi Sambil Melihat Perkebunan Teh di Cipasung
Belum lagi, ada tarikan parkir setelah tarikan karcis tersebut, sebesar 3 ribu rupiah, walaupun saya sama sekali tidak memarkir motor. Hal seperti inilah yang tidak etis, yng bisa menimbulkan permasalahan, karena jalan di lokasi kebun the masih becek, apalagi musim hujan tiba, sangat becek sekali. Belum lagi, jalan nanjak menuju warung masih bebatuan kasar dan harus berhati-hati sekali.

adheb's photo
Monumen Sindangkasih Majalengka
adheb's photo
Nongkrong di Tol Cipali 171
adheb's photo
Majalengka
adheb's photo
Antri Menyeberangi Jembatan Kuning
potone adheb
Siang di Jembatan Gantung Gunung Larang, Bantarujeg
Mungkin cuma itu yang bisa saya datangi, sesuai dengan mut dan wisata yang saya suka, walaupun sebenarnya masih banyak lagi wisata di Majalengka ini.