Rabu, 25 September 2019

Pendakian Gunung Kembang, Belajar Pentingnya Pendakian Edukatif

Bagi seorang yang hobi mendaki, sudah menjadi hal yang lumrah jika ingin lebih mengeksplore gunung karena keindahannya, karena jalurnya yang gak biasa, menantang, atau ciri khas suatu track yang berbeda dengan jalur lain untuk mencapai puncak di gunung yang sama. Mungkin, saya adalah salah satu orang yang suka mencoba merasakan keindahan gunung-gunung, khususnya di seputaran Jawa Tengah ini. Walaupun belum semua gunung di Jawa Tengah pernah saya daki, tetapi saya sudah merasakan sebagian besar puncak yang ada di kawasan Jawa Tengah ini, dan selalu ingin untuk mencoba merasakan pendakian melalui jalur baru yang berbeda. Merasakan kekhasan tracknya, dan juga keramahan warga beskem di setiap jalur yang berbeda.
Suasana di Puncak Gunung Kembang
Bagi seorang pemula, bahkan sebagian besar pendaki tujuan utama mereka adalah untuk mengeksplore keindahan alam yang ada di wilayah itu. Biasanya sih spot puncak yang menjadi favorit utama, dengan latar pegunungan, awan, atau pemandangan yang berbeda sebagai pengalaman pendakian pertama, atau pendakian  ke sekian kalinya agar kelak bisa diceritakan ke temen atau lewat status yang bisa langsung dibagikan ke kawan lain. Wajar sih, karna itu suatu reward atas usaha kita setelah melakukan pendakian cukup panjang, capek, dan melelahkan yang belum tentu akan bisa terulang kembali.

Sampai sekarang belum banyak gunung yang mempunyai misi untuk  mengedukasi para pendaki, khususnya pemula tentang Tata Cara Mendaki Yang Baik. Bukan melalui tutorial, bukan lewat youtube, atau sekedar ilmu dan materi yang kita serap tanpa mengaplikasikan di ruang yang sebenarnya, tetapi lewat pengalaman langsung dengan pemahaman-pemahaman dan sanksi nyata. Sesekali kalian perlu mencoba pendakian Gunung Kembang Via Blembem agar tahu tata cara pendakian yang edukatif secara langsung dan nyata, sebagai bekal kalian untuk melakukan pendakian selanjutnya.

Pengalaman pendakian via Blembem ini suatu hal yang sangat penting bagi pendaki pemula, karena belum ada satu gunungpun yang saya temui, mempunyai misi pendakian yang cukup edukatif seperti jalur Blembem ini. Mungkin beberapa gunung sudah mengelola pendakian secara professional atau online. Namun, jika pengelolaannya dilakukan secara edukatif, saya yakin belum begitu banyak yang melakukannya. Yang saya tahu, baru Gunung Gede Pangrango yang melarang penggunaan botol air mineral untuk dibawa ke atas. Saya belum tahu gunung lainnya, karena selama melakukan pendakian, belum ada satupun gunung yang saya jumpai melakukan screening logistik secara ketat, termasuk pemahaman mengenai sampah yang akan timbul dari barang bawaan para pendaki.

Berbeda dengan Gunung Kembang ini, yang banyak disebut sebagai anak dari Gunung Sumbing. Di sini kalian akan diajari bagaimana menjaga dan merawat gunung kita agar tetap asri. Saya sendiri sudah setahun yang lalu mendengar tentang kebersihan dan keistimewaan pendakian gunung via Blembem ini. Sebelumnya, satu setengah tahun yang lalu salah satu teman, theslackerhiker pernah mereview gunung ini ketika baru saja dibuka, namun belum seketat saat saya melakukan pendakian kemarin.

Semua penjaga yang berasal dari berbagai komunitas begitu ramah saat menjelaskan secara detail prosedur pendakian lewat beskem yang berada di tengah-tengah kebun teh ini. Sebelum registrasi, kita diwajibkan untuk mencatat semua barang yang mengandung plastik, kaleng, senjata tajam dan beberapa barang lain yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. Kita akan diberikan selembar kertas checklist untuk kita isi secara detail. Kalau perlu jenis logistiknya kita tulis agar nanti saat turun mudah untuk melaporkan kembali. Termasuk pula saat saya membawa sebungkus rokok yang tinggal sepuluh batang, karena saat turun nanti tidak boleh sebatang puntung rokokpun yang tertinggal di atas. Jika ada salah satu yang tertinggal, maka kalian akan kena denda sebesar 1.025.000,- rupiah, atau kalian akan diminta naik ke puncak kembali untuk mencari barang tersebut seperti salah satu pendaki yang kehilangan bungkus sachet kopinya saat saya turun. Denda  sudah terpampang jelas di beberapa sudut agar setiap pedaki bisa membacanya dengan mudah. So, kalian tak bisa mengelak jika ada satu barang yang hilang dari daftar check list mu saat turun nanti.

Ada beberapa hal yang dilarang, seperti membawa tissue basah. Beberapa gunung sudah menerapkan hal ini. Termasuk saya sendiri yang sudah menghilangkan tissue basah dari daftar bawaan dalam setahun terakhir ini. Pendaki juga dilarang untuk camp di area hutan, dan hanya diperbolehkan camp mulai dari sabana sampai puncak. Itu artinya, kalian harus berjalan sekitar 3 jam terlebih dahulu, baru bisa mendirikan tenda. Di Sabana hanya bisa didirikan sekitar 10 tenda, karena medannya yang relatif terjal. Namun, jika kalian bisa sampai ke puncak yang hanya berjarak setengah jam dari Sabana, kalian akan dapat mendirikan tenda dengan nyaman karena kontur di puncak lumayan datar dan dapat didirikan tenda dengan kapasitas lebih dari 100 buah. Sangat jarang pendaki yang mendirikan tenda selain di puncak, kecuali mereka sangat kelelahan saat perjalanan. Saat ngecamp, kalian dilarang untuk membuat api ungguan karena berpotensi untuk terjadi kebakaran. Begitu juga, dilarang menyalakan kembang api sebagai euphoria seperti yang biasa dilakukan di kota ketika tahun baru. Jika melanggar salah satu item tersebut, denda siap-siap menghampiri anda.

Botol air mineral dilarang keras untuk dibawa naik karena berpotensi untuk tertinggal di atas. Tetapi jangan khawatir, karena disini disediakan jerigen dan botol air minum semacam tumbler dengan stok yang cukup banyak, yang siap menampung air anda ketika naik. Saya memang berniat untuk menyewa jerigen 5 literan dengan biaya 10 ribu rupiah. Tetapi ketika turun, saya masih dapat menukarkan jerigen tersebut dan dengan kembalian 8 ribu rupiah. Artinya, kalian hanya perlu membayar 2 ribu rupiah untuk menyewa jerigen air tersebut. Sama sekali bukan sesuatu hal yang terlihat mahal atau diaggap sebagai mencari keuntungan, karena sudah ada biaya untuk alokasi beskem sebesar 5 ribu rupiah per pendaki. Dengan biaya tersebut, kalian mendapatkan berbagai fasilitas seperti trashbag, plastik, musholla, toilet, bahkan cas gratis di lokasi. Air bersih juga sudah tersedia di samping rumah secara free. Sebagai seorang perokok, saya ambil satu botol bekas yang sudah disiapkan untuk menampung puntung rokok, agar tidak tercecer tanpa biaya.

Penjaga beskem menyarankan saya untuk mengambil trashbag dan juga plastik saat dia mengetahui di carrier saya tidak terdapat trashbag ketika checklist barang bawaan. Saya mengambil 2 buah trashbag gratis untuk saya bagi dengan teman. Bayangin aja, jika kalian membeli trashbag secara eceran, harganya 2-3 ribu, dan disini kalian dapat secara gratis. Memang, pendakian kali ini saya tidak memakai trashbag seperti biasa, karena selain kemarau cuaca cukup cerah ketika saya lihat keadaan cuaca baik di langit atau di aplikasi handphone sebelum berangkat.

Setelah semua logistik dicheck list, kami menuju tempat registrasi dan menyerahkan kartu identitas. Gak mahal sih, karena saya hanya membayar sebesar 25.000 dengan rincian 15 ribu untuk tiket, 5 ribu untuk biaya pengelolaan beskem, serta 5 ribu untuk biaya parkir motor. Bahkan jika kalian ingin lebih cepat, klain bisa naik tayo yang disediakan hinga pos 1 (Kandang Celeng) dengan biaya 20 ribu rupiah. Nanti kalian akan dapat voucher menarik yang dapat ditukarkan di beskem, berupa satu paket teh khas Tambi ini.

Saya sih lebih memilih untuk berjalan kaki, sambil merasakan indahnya pemandangan kebun teh selama satu jam perjalanan ini, walaupun pulangnya memilih untuk naik tayo karna bujukan teman. Setelah pos Kandang Celeng kalian hanya akan menemui hutan belukar dengan track yang cukup terjal sampai ke puncak. Sebagian besar sih mengatakan jika jalur ini cukup sadis, karena jarang sekali bonus untuk kita beristirahat. Namun tenang aja, karena di setiap jalur terdapat tanda agar kita tidak tersesat, termasuk tali di beberapa tanjakan yang cukup membantu pendaki dengan medan yang curam.

Selamat mencoba wisata edukasi, yang baru pertama kali saya rasakan di dalam pendakian gunung ini.
Mari mendaki dengan bijak…

Hal-hal yang dilarang :
membawa tisu basah
mendirikan tenda di hutan
membawa botol air mineral kemasan
membuat api unggun
menyalakan kembang api
meninggalkan sampah anorganik
masuk kawasan tanpa ijin
menebang pohon
membawa senjata tajam lebih dari 20 cm
membawa senjata api
membawa alat musik/speaker
membawa minumn keras
memetik edelweis
jika melanggar, maka denda sebesar 1.025.000,- per item

Jalur :
Beskem- Kandang Celeng     : 1 jam (sekarang tidak melewati istana katak)
Kandang Celeng Pos Liliput : 30 menit
Pos Liliput – Simpang 3        : 15 menit
Simpang 3 – Pos Akar          : 15 menit
Pos akar – Sabana                 : 30 menit
Sabana- Tanjakan Mesra       : 15 menit
Tanjakan Mesra – Puncak     : 15 menit

Rabu, 28 Agustus 2019

Wisata Curup, Menikmati Pesona Alam Way Kanan Lampung


Melakukan perjalanan ke Way Kanan, sebuah kabupaten di Provinsi Lampung yang berbatasan dengan Sumatera Selatan ini gak afdol kalau kita gak mengunjungi objek wisata andalan di sini. Kabupaten dengan kontur perbukitan ini mempunyai banyak curup atau air terjun dengan beragam ketinggian yang masih asri, dari yang paling mudah dijangkau hingga dengan medan terjal dan harus berjalan kaki untuk menyusurinya. Tetapi sebagian besar curup di sini sudah relatif terjangkau, khususnya bagi para wisatawan yang ingin melihat keindahan alamnya. Saya hanya menyempatkan untuk mengunjungi tiga curup pada kesempatan perjalanan kali ini, untuk melihat pesona alam yang terkenal dengan julukan ‘negeri 1001 air terjun’ di bumi Lampung ini.

Curup Kereta
Lokasinya masih di Blambangan Umpu yang menjadi ibukota Kabupaten Way Kanan, sekitar tujuh kilometer dari jalan utama. Dari Simpang Negeri Agung, kalian ambil arah ke Kasui Pasar lalu belok kanan sebelum memasuki Kecamatan Kasui, tepatnya di kampung Gistang. Untuk menuju ke Curup Kereta yang terletak di Kampung Rembang Jaya, Kecamatan Blambangan Umpu ini tidak terlalu sulit karena akses jalan sudah beraspal. Hanya sekitar satu kilometer sebelum tiba di lokasi saja yang masih berupa jalan keras. Namun kita dapat parkir kendaraan sampai ke pintu masuk lokasi wisata, dengan areal lahan yang sangat luas ini. Tidak sampai lima menit jalan kaki dari tempat parkir, kita sudah bisa sampai air terjun yang sudah dikelola dengan bagus ini.
potone adheb
Pemandangan Curup Kereta di Siang Hari
Bentuk curup kereta tidak terlalu tinggi seperti curup biasanya, tetapi melebar dengan ketinggian hanya sekitar 5 meter saja. Ada sekitar 5 aliran air yang berjajar di sepanjang lereng dengan lebar sekitar 20 meter itu. Beberapa anak terlihat bermain air, karena cukup aman dengan kondisi air yang tidak terlalu dalam. Bahkan sebagian terjun bebas dari atas curup yang tidak terlalu tinggi, membuat saya ingin cepat-cepat ikutan mandi.

Jika lelah, kalian bisa beristirahat di shelter yang sengaja dibuat untuk tempat isrirahat para wisatawan. Ada cukup banyak shelter di sini, dengan semilir angin yang sepoi-sepoi saat siang tiba, membuat saya tertidur sementara itu. Ada juga spot foto, bagi kalian yang ingin berfoto dari pohon dengan latar indahnya curup ini. Berbagai fasilitas juga disediakan di area wisata ini seperti flying fox, camping ground, serta beberapa permainan outbond yang lumayan banyak.

Curup Gangsa
Untuk menuju ke sini, kita masih melalui jalan yang sama seperti saat menuju ke Curup Kereta tadi. Dari Blambangan Umpu, kita lurus saja menuju ke Kecamatan Kasui mengikuti jalan aspal. Dari Kasui, masih lanjut menuju Dusun Tanjung Raya, Desa KotaWay di ujung kecamatan ini. Jalan di sini sudah bagus, tetapi ketika dari kecamatan Kasui kita harus melewati beberapa aspal yang sudah rusak terlebih dahulu.
potone adheb
Pemandangan Curup Gangsa dari Sungai
Begitu sampai dan parkir kendaraan, kita akan melihat air terjun yang menjulang tinggi, karena letak parkir berada di bagian atas. Dari situ, kita harus menuruni anak tangga yang cukup banyak dan berkelok-kelok untuk menuju lokasi air terjun. Tetapi jangan takut, karena selama perjalanan ada banyak spot instagramable yang bisa kita manfaatkan untuk berfoto, seperti tulisan-tulisan atau gubug yang tersedia di beberapa tempat untuk istirahat sambil berfoto ria. Bahkan ada juga top selfie dari bambu, khsus buat kalian yang ingin berfoto dengan latar air terjun.

Semburan air cukup deras, ketika saya mencoba mendekati curup dengan ketinggian hampir 50 meter ini. Sungguh luar biasa pesonanya dengan hamparan bebatuan besar yang timbul di sepanjang aliran sungai selebar sekitar 20 meter ini. Di sini, beberapa pengunjung sedang menikmati air sambil mandi dan duduk di bebatuan ketika saya mendekat. Di sebelah kiri terdapat jembatan bambu berwarna kuning dengan anyaman yang cukup menawan untuk tempat berfoto. Namun, kalian harus membayar dua ribu rupiah untuk menyeberanginya. Cukup lama berjalan-jalan, saya istirahat sebentar di gubug dekat jembatan bambu, sambil menikmati gemericik air dari Curup Gangsa yang menjulang tinggi di depan sana.

Air terjun Curup Gangsa bersumber dari patahan Sungai Way Tangkas yang mengalir dari Bukit Punggur melalui beberapa desa di Kasui seperti Tanjung Kurung dan Lebak Peniangan, tepatnya berada di bawah kaki Bukit Dusun Tanjung Raya. Konon, nama ‘Gangsa’ berasal dari legenda masyarakat setempat yang berarti gemerincing air terjun ini bagaikan suara seruling Gangsa, seruling bambu yang biasa digunakan oleh masyarakat pada masa lalu.

Curup Putri Malu
Pada awalnya saya tidak begitu tertarik untuk menuju curup yang harus ditempuh dengan medan yang cukup susah ini. Namun salah satu teman malah tertarik begitu mendengar lokasinya yang masih asri dan terpencil, dengan akses yang lumayan susah ditempuh untuk menuju ke lokasi. Akibat ketertarikan dan rasa penasarannya, saya jadi ikut  terbawa untuk mengunjungi curup yang menurut saya paling asri dan alami, menjadi surga tersembunyi di pelosok wilayah kabupaten ini.
potone adheb
Keindahan Curup Putri Malu
Wajar saja, wisata ini termasuk ke dalam wisata alternatif karena lokasinya yang cukup pelosok. Terletak di kampung Juku Batu, Kecamatan Banjit, curup ini sangat jauh dari pemukiman warga. Dari Baradatu saya mengambil arah ke Kecamatan Banjit, lalu menuju ke Kampung Juku Batu. Ketika melewati gapura masuk, alangkah terkejutnya saat bertanya ke warga, karena jarak yang harus ditempuh masih sekitar delapan kilometer lagi dengan jalan pegunungan naik-turun. Dengan nekat saya tetap melanjutkan perjalanan melewati bukit-bukit tajam nan curam dengan rasa was-was. Beruntung, karena perjalanan kami waktu itu di musim kemarau, sehingga jalan yang kami lalui hanya berdebu tanpa harus terpeleset licinnya jalan ketika musim hujan tiba.

Setengah jam perjalanan dari gapura, kita sampai di rumah paling ujung. Di sana kami menitipkan kendaraan dan harus berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju curug karena jembatan terakhir sedang diperbaiki. Di sini ada banyak rumah yang terlihat hanya sebagai pondok mereka ketika menggarap kebun. Biasanya terdapat tempat parkir yang terletak di ujung jalan sebelum tiba di area curup, ketika jembatan bisa dilalui. Kali ini kami harus jalan kaki turun ke sungai terlebih dahulu, dan kembali lagi ke jalan utama karena perbaikan jembatan yang sama sekali tidak bisa kami lewati.

Sebelum sampai ke curup, kami menjumpai beberapa gubug cukup besar yang terbuat dari potongan kayu dari sekitar lokasi. Cukup kreatif memang, karena warga menggunakan bahan lokal dikala akses menuju ke luar cukup susah. Begitu sampai ke curup, saya disuguhi oleh pemandangan yang sangat indah. Air terjun yang cukup tinggi menjulang di depan mata, dengan deburan air yang menunjam ke bawah. Gemuruh air terdengar begitu keras menumpahkan isinya ke bawah, membuat suasana semakin alami dengan pemandangan hijau penuh tumbuhan di sekeliling curup yang terletak di dalam pegunungan ini. Lengkungan air terjun ini bentuknya menyerupai punggung manusia yang sedang mandi, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai air terjun putri malu.



Minggu, 05 Mei 2019

Oh.. Abdi Bangsaku, Kasihanilah Muridmu.. ‘Cerita Kehidupan di Borneo Barat’

Semburat mentari sudah mulai menampakkan diri sejak pagi tadi, dan kini teriknya cukup menyengatkan badan saat kita berlama-lama di bawah sinarnya. Cuaca Borneo beberapa hari ini cukup panas akibat dilewati oleh garis khatulistiwa yang membelah bumi jadi dua bagian. Ah, mungkin titik ekuinoks sedang terjadi di belahan Bumi Borneo bagian barat sekarang ini.
adheb photo
Keceriaan Siswa SD pelosok di Kalimantan
Waktu menunjukkan jam setengah delapan pagi, keceriaan anak-anak SD sudah mulai ramai terlihat memenuhi sekolah di pelosok desa yang terletak cukup jauh dari ibukota kabupaten. Mereka berbondong-bondong datang untuk mencari ilmu demi bekal masa depan yang lebih baik. Seperti asa setiap orang tua dari kita dan mereka. Tentunya, pendidikan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan agar kehidupan dewasa mereka bisa lebih maju, lebih baik, dengan menyerap semua pelajaran yang diajarkan di sekolah dari kecil. Itulah harapan tak terbantahkan dari semua orang bagi generasi penerusnya.

Setengah jam kemudian semua guru sudah berada di sekolah, karena kegiatan belajar mengajar baru dimulai ketika jam delapan teng. Di kabupaten ini, hampir semua sekolah di pelosok desa baru memulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) pukul delapan pagi walaupun ada beberapa sekolah yang sudah memulai sebelumnya, tetapi hal seperti ini sulit untuk ditemui. Alasan geografis, lokasi guru yang jauh dari sekolah, cuaca, akses menuju sekolah, termasuk kondisi perekonomian keluarga (tepatnya kurangnya perhatian orang tua terhadap anak) membuat beberapa siswa harus membantu kegiatan orang tua sebelum mereka berangkat ke sekolah. Karena itulah, di kabupaten ini masih tetap memberlakukan kegiatan KBM selama 6 hari, bukan 5 hari seperti di beberapa daerah lain.
Ah… memoriku sedikit mengingat kembali, flasback suasana setahun yang lalu ketika aku mengunjungi lokasi yang sama…
----------------------------------------------------------------------
Di tempat yang sama seperti setahun lalu itu, mataku masih saja melihat keadaan sekeliling sekolah yang masih sama. Nyaris tanpa ada beda. Tidak ada perubahan dengan keadaan sekolah yang terlihat bersih dan lumayan terawat dibanding beberapa sekolah lainnya. Biasanya, di sore hari halaman sekolah dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menjemur padinya. Sama seperti tahun lalu, saya datang disaat musim ngetam tiba, dimana warga sibuk mengetam  padinya yang hanya bisa tumbuh sekali dalam setahun. Mereka menyebutnya dengan padi gunung. Senang rasanya bisa berjumpa kembali dengan beberapa abdi bangsa di sana yang masih semangat membagikan ilmu kepada anak didik dengan gigih. Beberapa guru di sini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Banten, Aceh dan sudah berpuluh-puluh tahun menjadi warga setempat sebagai pilihan jalan hidupnya.

Pak Wanari, merupakan seorang kepala sekolah yang open minded dan sangat terbuka kepada semua orang. Dia selalu berprinsip bahwa untuk dapat dipercaya oleh masyarakat, maka keterbukaan adalah hal yang utama tanpa harus ditutup-tutupi di dalam segala hal. Itulah kenapa beliau masih saja dipercaya untuk memimpin sekolah sampai sekarang, setelah kepala sekolah lama yang berasal dari Jogja pensiun beberapa tahun lalu. Beliau meneruskan tongkat kepengurusan ini tanpa pamrih, meskipun jabatannya hanya sebagai plt tanpa dapat tunjangan kepala sekolah yang seharusnya diterima. Maklum, golongannya belum menenuhi syarat untuk diangkat menjadi kepala sekokah, karna waktu itu dia melamar pns dengan ijasah SMA, walaupun sebenarnya dia sudah punya ijasah S1.

Dikala hampir semua sekolah meliburkan KBM di hari Sabtu ketika ada pertemuan KKG yang rutin diselenggarakan tiap 2 minggu sekali, beliau mempunyai kebijakan lain. Di sekolahnya, siswa diharuskan masuk walapun hanya bisa belajar dari jam delapan sampai setengah sepuluh. Setelah itu semua guru baru berangkat mengikuti kegiatan KKG. Biasanya baru dimulai jam sepuluh pagi, jika tidak molor agak siang. Dia tidak ingin siswanya kehilangan hak belajar mereka. Bayangkan saja, siswa di sini dan berbagai kecamatan lain harus kehilangan waktu belajar dua kali setiap bulan karena adanya KKG. Bukan karena kegiatannya, tetapi kebijakan kepala sekolah yang meliburkan siswa di waktu KKG membuat siswa dengan senang kehilangan hak mereka untuk memperoleh ilmu di sekolah. Lokasi KKG yang jauh atuapun rumah para guru yang jauh, membuat mereka memutuskan untuk meliburkan siswa setiap kegiatan KKG tiba. Ah, saya jadi bisa main ke sekolahan, melihat kegiatan dan belajar bersama dengan para siswa di Sabtu ini yang tetap masuk setengah hari.

Pernah suatu ketika saya melihat langsung Pak Wanari menegur aparat desa yang datang ke sekolah untuk menemui salah satu guru ketika masih mengajar, karena ternyata mereka datang bukan untuk urusan sekolah melainkan urusan desa yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Beliau menegur dengan santun tanpa menyinggung perasaan. Seperti guru-guru yang lain, hampir semua guru di sini mempunyai pekerjaan sampingan di luar mengajar seperti mengurus lahan karet atau sawit. Di luar kegiatan sekolah, Pak Wanari mempunyai toko kelontong yang terletak di pusat desa dan selalu ramai setiap harinya dengan perbagai stok perabot rumah tagga  lengkap termasuk pakaian sehari-hari. Ia menghabiskan waktu menjaga toko ketika tidak mengurus kegiatan sekolah. Sesekali, beliau bercocok tanam menanam sayur di pinggiran kebun sawitnya yang lumayan luas.

Ada juga Pak Jojon, guru penyabar yang selalu menerima tugas tanpa pamrih. Dua tahun terakhir beliau ditunjuk sebagai wali kelas 6, sebagai ujung tombak kelulusan dan juga pertaruhan baik-buruk sekolah di mata dinas. Jika ada siswa yang tidak naik kelas, otomatis wali kelas 6 harus menanggung malu, disamping kepala sekolah yang juga ikut andil dalam hubungan kriteria kegagalan suatu sekolah. Pak Jojon pernah bercerita bahwa sebenarnya lebih mudah mengajar kelas rendah, apalagi kelas menengah yang sudah punya modal membaca dan mengenal huruf, sehingga cukup mengajar seperti biasa tanpa harus capek-capek memberikan les tambahan sepulang sekolah, agar siswa lulus seratus persen. Namun, apapun yang ditugaskan oleh beliau harus dijunjung dengan iklas, suka rela, demi pendidikan di desanya yang lebih baik lagi. Kepala sekolah merasa bahwa beliaulah satu satunya guru yang paling dipercaya untuk membimbing dan meningkatkan pengetahuan siswa dengan maksimal. Selain mengajar, beliau juga diberi tugas tambahan mengurusi anggaran sekolah dari dana BOS, karena dia guru yang bisa menggunakan komputer dibanding guru PNS lain yang sudah sepuh. di luar sekolah beliau juga sebagai ketua KKG rayon ini, sehingga setiap pertemuan KKG, dialah yang merancang serta menjadwalkan kegiatan setiap bulannya.

Dengan adanya tunjangan khusus ini, beliau merasa sangat bersyukur, karena secara tidak langsung pemerintah ikut memperhatikan guru guru yang ada di remot area ini. Sekarang ini, jika ditotal dalam sebulan rata rata dia memperoleh pendapatan belasan juta dari gaji yang ia terima sebagai seorang guru. Belum lagi usaha lain seperti kebun sawit serta penggilingan padi yang ia kelola di rumah. Namun rumah yang ia tempati bukanlah rumah pribadi, melainkan rumah dinas sekolahan yang sudah ia diami selama beberapa tahun. Selama ini, ia fokus untuk menyekolahkan anak anaknya sampai kuliah. Anak bungsunya masih kelas satu SMA di Pontianak, sementara dua kakaknya sudah selesai kuliah. Suatu saat dia ingin membangun rumah kecil kecilan, sebagai bekal pensiun nanti, karena setelah pensiun, otomatis dia akan mengembalikan rumah milik negara yang masih dia tempati sekarang ini.

Ada dua keinginan besar yang ingin beliau wujudkan beberapa tahun ke depan setelah pemilu ini, karena saat ini dia juga masih sibuk mengurusi pemilu sebagai ketua KPPS di daerahnya. Di usianya yang hampir kepala lima, dia masih ingin meningkatkan golongannya menjadi 4B. Saya sendiri belum pernah menemui golongan seperti itu bercokol di sekolah SD yang pernah saya kunjungi. Persyaratan yang cukup menyulitkan seperti tugas bikin karya ilmiah, membuat guru guru nyaman berada di level 4A di usianya yang tinggal pensiun beberapa tahun lagi. Penguasaan teknologi, seperti kurang familiar dengan laptop atau computer membuat guru-guru senior terlalu gagap untuk menyelesaikan tugas memakai komputer yang masih grotal gratul ini.

Keinginan beliau yang satunya adalah lanjut kuliah S2. Apresiasi yang luar biasa dari dalam hati saya melihat kegigihan guru di pelosok seperti ini, yang masih mempunyai ambisi untuk mencari ilmu lebih luas lagi. Dari berdua cerita sampai larut malam waktu itu, saya yakin keinginannya bukanlah sekedar untuk meningkatkan pangkat atau golongan, mengingat usia dan golongannya sudah termasuk taraf yang mapan dan aman.
Ah… sangat betah rasanya berada di rumah beliau yang sangat sederhana nan menenteramkan, dengan hidangan masakan khas Melayu bikinan istrinya yang cukup terasa bumbunya.

Tetapi gak semua guru mempunyai pemikiran yang cemerlang seperti mereka. Pak Broug misalnya, yang berasal dari ujung barat Indonesia. Beliau sudah cukup puas dengan rutinitas mengajar sehari hari dan langsung mengerjakan urusan pribadi lainnya setelah pulang sekolah. Di usianya yang menjelang pensiun ini, beliau lebih memilih mengurusi usaha dan kebunnya setiap sore, sebagai warisan bagi anak cucunya kelak. Ada juga Pak Hani yang berasal dari Pulau Jawa bagian barat. Hingga saat ini, beliau selalu merasa serba kekurangan untuk membiayai dua anaknya yang sedang kuliah. Gaji dan tunjangan sebesar belasan juta tiap bulan terasa sangat kecil untuk kehidupan sehari-hari keluarganya. Padahal, dia juga rajin mengurus pekerjaan sampingannya ketika tidak mengajar. Rumah tingkatnnyapun terlihat lebih besar dan bagus dibandingkan beberapa rumah di sekitar kanan kirinya. Saat terjadi tsunami di akhir tahun lalu, beliau sedang pulang kampung seminggu untuk urusan pribadinya. Beruntung, dia selamat karna berada agak jauh dari lokasi. Ah, ternyata manusia tempatnya rakus...

Sebagian besar siswa SD ini berasal dari dusun setempat yang mayoritas penduduknya warga Melayu. Tempat ini merupakan satu-satunya dusun yang dihuni oleh orang Melayu, sementara dusun lainnya berasal dari warga lokal. Seperti di daerah Jawa, budaya Gemeinchaft cukup kentara di perkampungan yang lumayan padat ini. Hubungan kekerabatan inilah yang membuat mereka merasa harus sungguh-sungguh dalam mendidik siswa, karena yang mereka didik tidak lain adalah saudara sendiri. Di luar sekolahan, kepala desa cukup memperhatikan pendidikan di desanya. Beliau cukup inovatif dan masih muda. Wajar saja, di akhir tahun kemarin dia terpilih lagi untuk mengawal desa selama satu periode ke depan.

Sebenarnya pemerintah cukup perhatian pada guru-guru di pelosok daerah, dengan memberikan tunjangan tambahan. Harapanya, guru di perkotaan tertarik untuk mengajar ke pelosok sehinggga distribusi guru tidak hanya terpusat di perkotaan saja, tetapi ikut menyebar dan membawa perbaikan di desa desa. Program pengawasanpun juga diberikan mengikuti kebijakan yang ada, agar uang yang digelontorkan dengan jumlah yang tidak sedikit ini benar-benar terlihat manfaatnya. Salah satunya dengan pengawasan langsung oleh masyarakat desa setempat agar para guru rajin mengajar, disiplin, dan paling gak, dia rajin hadir, dan tidak makan gaji buta saja. Tetapi adanya tambahan tunjangan ini tidak serta merta menambah keaktifan guru untuk rajin datang ke sekolah seprti di SD Pak Wanari tadi. Masih banyak abdi negara yang nyaman dengan kehidupan sekarang, nyaman dengan metode pengajaran lama, dan susah move on meninggalkan kebiasaan.

Salah satu kepala sekolah di Jalompe, dimana kesejahteraan para guru akan meningkat dengan penambahan tunjangan khusus di tahun ini, dengan tegas menolak adanya program pengawasan sebagai imbas penambahan tunjangan.“Kalau pemerintah ingin meningkatkan pendapatan kami, itu sudah seharusnya, karna kami dari dulu banting tulang menghidupkan sekolah ini agar anak anak desa bisa sekolah, bisa pintar. Tetapi, jika dengan adanya tunjangan kami harus masuk pagi dan pulang siang, mending pemerintah tidak usah memberi yang muluk-muluk deh. Dua Puluh tahun lebih saya bersusah payah menghidupkan sekolah ini, dari dulu sendirian, dan sampai sekarang sekolah ini cuma diberi beberapa guru PNS saja, mana perhatian pemerintah? Sudah bertahun tahun sekolah saya sangat minim perhatian dari pemerintah”.

Sebenarnya beliau sedikit trauma dengan sekolah sebelah, yang sudah mendapat tunjangan tetapi terjadi konflik antara guru dengan warga setempat karena tidak mau diberikan pengawasan. Teringat sehari sebelumnya ketika saya datang ke sekolah ini jam 9 pagi kurang beberapa menit. Para siswa masih asik bermain, dan hanya ada 2 guru yang sudah datang bersiap siap menunggu jam 9. Secara formal, KBM memang dimulai jam 8 pagi, namun biasanya pak guru masuk jam 9 setiap harinya. Pengakuan semua murid sama ketika saya tanya, kenapa belum diajar guru. Ah,, jawaban polos para siswa memang tidak bisa dibohongi. Mereka masuk jam 9 dan pulang jam 10 setiap harinya.  Kadangkala jika gurunya betah, bisa pulang sampai jam stengah 11 atau jam 11 untuk kelas atas. Sementara kepala sekolah jarang hadir karena lebih sering tinggal di Ngabang menempati rumah pribadinya. Sesekali beliau datang ke sekolah menengok rumah dinas di samping kantor guru, yang ditempati oleh anaknya. Anaknyalah yang diberi tugas untuk mengurusi segala urusan di sekolahnya, walaupun tidak ada SK secara resmi. Banyak warga yang segan dengan beliau. Sejak tahun 86 dia sudah mengajar di sekolah ini dan nyaman dengan keadaan sehari-hari, sehingga beberapa kali menolak ketika akan dipindahtugaskan ke sekolah lain, termasuk dipindahkan ke dinas.

Pak Jaly, salah satu orang tua siswa bercerita kepada saya jika beberapa anak terpaksa tidak naik kelas karena ada permasalahan pribadi antara orang tuanya dengan kepala sekolah, termasuk dirinya. “Lebih baik kami diam dan cuek urusan sekolah, daripada anak-anak kami yang terkena imbas, bahkan sampai 2 kali tidak dinaikkan kelas. Padahal nilainya tidak kalah dengan teman kelas lain” katanya. Hidup di sini berpuluh puluh-tahun, membuat kepala sekolah mempunyai lahan yang cukup banyak, baik sawit, karet maupun kebun lain. Ketua komitepun sebenarnya sudah malas menjabat, karena partisipasinya di sekolah hanya sebatas tanda tangan tiap triwulan tanpa ia tahu lebih. Ia lebih suka berhenti jadi komite karena punya tanggungjawab moral yang besar sperti ketika dimintai tandatangan BOS yang tidak pernah ia tahu nilainya.

Di sekolah lain, masih dalam kecamatan yang sama, seorang guru memprotes keras adanya program seperti ini. Guru ini memperoleh beasiswa dari pemda, hingga bisa kuliah di Jawa sampai tahapan sarjana. Dua tahun terakhir dia ditugaskan untuk mengajar di sekolah ini dengan statusnya sebagai guru garda depan. Dia ingin, agar pengawasan seperti ini segera dihentikan, karena terlalu banyak prrmasalahan yang terjadi di sekolah. "Program ini terlalu banyak masalah, terlalu banyak konflik, makanya harus secepatnya dihentikan. Tetapi tunjangan untuk guru-guru harus tetap berjalan sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada guru, karena selama ini para guru mempunyai pendapatan yang tidak layak, sementara tugas yang diembannya cukup besar”, ucapnya sambil mencontohkan salah satu sekolah tadi yang sedang berkonflik dengan warga setempat. Tanpa beliau tahu, ketika berbincang dengan beberapa siswa dan orang tua, banyak yang mengatakan jika guru ini jarang hadir di sekolah. Rumahnya berada di Pontianak, dan masih sering berada di sana, sehingga hanya beberapa kali saja dalam seminggu dia datang ke sekolah.

Di kecamatan sebelahnya yang menjadi ibukota kecamatan di Kabupaten ini, saya bertemu dengan seorang kepala sekolah dengan pemikiran dan cara kerja yang sudah terbuka. Setahun menjabat sebagai kepala sekolah di SD yang harus ditempuh selama 2 jam dari kota ini, beliau berkeinginan untuk memperbaiki manajemen di sekolahan. Selama ini cukup amburadul tanpa ada sistem yang tertata rapi. Namun, satu tahun menjabat sebagai kepala sekolah ternyata tidak bisa meyakinkan para guru, karena ada 2 guru senior yang tidak mau diatur oleh kepala sekolah sekalipun, dan sering memprovokasi guru lain agar ikut mendukung pendapatnya. Pertama kali saya ke sana, dua guru yang tinggal di rumah dinas ini tidak masuk dan sedang berada di kota kabupaten entah untuk urusan apa, sementara para siswa hanya sekedar masuk tanpa apa pembelajaran akibat ditinggal gurunya untuk keperluan pribadi. “Mungkin mereka lebih mementingkan gaji, daripada sekedar kebiasaan mengajar yang hanya menjadi rutinitas harian saja. Hal seperti ini sudah sering terjadi”, kata guru honor yang masih rajin masuk mengajar para siswa setiap harinya. Sampai sekarang, kepsek hanya pasrah dan menunggu mereka yang satu dua tahun lagi pensiun tanpa bisa berbuat banyak.

Di polosok desa lainnya, dengan pusat kecamatannya yang sekaligus menjadi ibukota kabupaten ini, ternyata kondisinya tidak jauh berbeda. Ada salah satu sekolah yang hanya ada satu guru PNS yang standby mengajar, ditemani oleh semua guru honor yang rajin masuk setiap harinya. Sementara guru PNS lain jarang hadir ke sekolah, termasuk juga kepala sekolah. Ah,, hal yang mirip lagi-lagi kutemui. Kepala sekolah yang hanya datang beberapa kali dalam seminggu, bahkan ada juga PNS yang hanya pernah datang dalam hitungan jari selama tahun ajaran ini, kata beberapa guru yang takut jika info ini diketahui oleh atasannya dan memilih untuk diam. Jam sepuluh, orang tua sudah menunggu di depan halaman sekolah untuk menjemput anak-anak mereka, sebagai alasan para guru bahwa kegiatan KBM sudah harus diselesaikan. Memang benar, jika anak-anak rumahnya cukup jauh dari sekolah sehingga banyak yang dijemput, tetapi kebiasaan pulang lebih awal adalah hal buruk yang selalu diulang-ulang setiap harinya. Sementara mereka mempunyai jatah jam mengajar yang sudah ditentukan oleh dinas setiap minggunya.

Sudah kuhapal, setiap guru dan kepala sekolah yang malas selalu saja memprotes kedatangan kami karna tidak diberitahukan sebelumnya. Mereka beralasan hanya untuk menutupi ketidakdisiplinan guru bahkan dia sendiri agar terlihat rajin dan lengkap ketika kami datang. Tapi itulah makud kedatangan kami, agar kami bisa tahu keadaan yang sebenarnya di lapangan, seberapa semangat para guru bersedia mengajar dan membagikan ilmu kepada anak anak cemerlang di pelosok nengri ini. Apalah saya, hanya seorang petugas suruhan yang punya semangat tinggi untuk melihat suasana pendidikan di pelosok negri, memastikan agar mereka mendapatkan hak belajar dengan baik tanpa korupsi waktu yang mungkin sudah merajalela tanpa dirasa, tanpa dimengerti, termaklumi, bahkan mungkin sudah menjadi adat, budaya, dan tradisi. Jika saja, orang dinas rajin blusukan ke sekolah sekolah secara langsung dan menegur setiap guru yang rajin mangkir mengajar, tentunya mereka akan berubah sedikit demi sedikit. minimal mereka malu ketika ada sidak dari dinas, dan sedang asyik di rumah, sementara para siswa sudah menunggu ilmunya di ruang kelas.

Ternyata, tunjangan terpencil yang digelontorkan pemerintah lebih dari dua trilyun  per tahun ini belum signifikan untuk meningkatkan kesadaran guru agar lebih giat lagi dalam mengajar. Semua kembali lagi ke pemerintah, apakah akan tetap memberikan tunjangan tanpa merubah kedisiplinan guru, yang tentunya hanya mensejahterakan ekonomi guru semata, atau membuat model pengawasan yang tentunya membutuhkan biaya yang besar pula. Tetapi, pilihan tengah, yaitu dengan pengawasan dengan minim, tidak hanya dari bentuk kegiatan, tetapi juga anggaran, bukanlah hal yang terbaik, dan hasilnya tidak jauh berbeda dengan sekolah tanpa pengawasan.





'nama dan lokasi sengaja disamarkan layaknya bunga desa dalam novel nusantara, kecuali keadaan yang benar adanya tanpa rekayasa'.