Minggu, 01 November 2020

Padat Karya Tunai Desa

Padat karya merupakan program yang sudah dijalankan sejak beberapa tahun yang lalu. Di negara berkembang, skema cash for work banyak dijalankan dalam jangka pendek sebagai instrumen jaring pengaman sosial untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pasca peristiwa darurat seperti bencana atau konflik yang terjadi di negaranya. Di Indonesia, konsep padat karya sudah dijalankan cukup lama. Setiap era menjalankannya dengan ciri khas yang berbeda-beda. Beberapa program diantaranya seperti program IDT pada masa Suharto, JPS di masa Habibie, serta PNPM di masa SBY. 

Dengan berbagai keberhasilan di era sebelumnya, pada tahun 2018 Presiden Jokowi kembali mencanangkan program yang sama.  Kebijakan padat karya tersebut tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin yang terdiri dari empat kriteria sasaran utama. Berbagai kementerian terkait turut dilibatkan termasuk pemerintah daerah di setiap wilayah demi mendorong program-program yang bersifat padat karya, sehingga dapat mengangkat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. 

Kementerian Desa merupakan salah satu otoritas yang diberi tugas oleh presiden untuk menjalankan program padat karya tunai.  Melalui anggaran negara yang bersumber dari Dana Desa, setiap desa diwajibkan mengalokasikan minimal 30 persen anggaran Dana Desa untuk program padat karya tunai yang sudah dimulai sejak tahun 2018 silam. Belakangan, program tersebut dikenal dengan sebutan Padat Karya Tunai Desa  atau yang kerap disingkat dengan istilah PKTD. Meskipun pada awal pelaksanaan hanya difokuskan pada 1.000 desa percontohan, Kemendesa bergerak cepat dengan mewajibkan semua desa untuk menjalankan program padat karya.

Di masa pandemi ini, padat karya merupakan salah satu jaring pengaman sosial yang cukup efektif untuk menambah pendapatan masyarakat miskin, sehingga perekonomian masyarakat bawah tidak semakin terpuruk. Tidak hanya Kemendesa, beberapa kementerian lain turut dilibatkan agar dapat menyerap tenaga kerja secara maksimal. Lalu seperti apa implementasi padat karya selama dua tahun ini? Apakah program tersebut berjalan maskimal, apakah berhasil meningkatkan masyarakat miskin, apakah menyasar target secara tepat dan sesuai dengan harapan awal, atau malah sebaliknya?  

Kamu penasaran? Simak aja isi lengkapnya di dalam buku ini. Berbagai cerita pegalaman dari para pelaku padat karya yang amat ciamik untuk dilewatkan. Sebuah penelitian saya pribadi selama beberapa bulan secara mendalam dengan sekitar 25 aktor yang terlibat langsung di dalamnya. 

Slamat membaca…😃


Kamis, 01 Oktober 2020

tips Persiapan Mendaki di Masa Pandemi

Situasi pandemi seperti saat ini cukup mempersempit ruang gerak manusia di berbagai aktivitas. Bahkan aktivitas outdoor seperti pendakian gunung ikut terkena imbas, sehingga kita semua harus selalu waspada dan menjaga diri. Padahal, mendaki gunung merupakan suatu aktivitas penghilang penat bagi sebagian orang yang hobi mendaki di kala penatnya kesibukan. Beberapa jalur pendakian gunung memilih tutup demi menjaga keamanan, namun tidak sedikit yang memilih untuk tetap beroperasi dengan mewajibkan berbagai aturan yang berbeda dari biasanya.
Pendakian Lawu di Masa Pandemi
Untuk itu, kita harus mencari informasi yang detail sebelum melakukan pendakian baik sebelum berangkat menuju lokasi beskem jalur pendakian, maupun ketika kita sampai di beskem tersebut. Apa saja sih yang perlu dipersiapkan untuk melakukan pendakian di masa pandemi? Apa yang berbeda antara pendakian biasa dengan pendakian di musim pandemi kali ini?
Kali ini saya akan sedikit berbagai pengalama dari beberapa pendakian saya pada saat pandemi. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, hal yang paling utama adalah persiapan sebelum berangkat.

Transportasi
Di beberapa wilayah, fasilitas transportasi umum di masa seperti ini cukup terbatas, bahkan bisa jadi tidak beroperasi sama sekali. Jika menggunakan alat transportasi umum, kita harus mencari informasi terlebih dahulu bagaimana cara kita agar bisa sampai ke beskem. Apakah bus/pesawat/ kereta api tersedia, dan apakah jadwalnya rutin atau hanya di waktu tertentu saja, termasuk persyaratan untuk naik transportasi umum juga harus kita pahami. Apabila menggunakan transportasi pribadi maka lebih mempermudah ruang gerak kita dan jangan segan untuk bertanya ke penduduk setempat ketika kita bingung arah. Jangan selalu mengandalkan google maps, karena jalan di pegunungan agak berbeda dengan jalur di kota.

Informasi Buka Tutup Jalur
Sebenarnya hal yang sepele, tapi kadang masih ada pendaki yang melupakan tahapan ini. Di masa pandemi beberapa gunung memilih untuk tutup, sehingga kita harus tahu terlebih dahulu apakah gunung tersebut buka atau tidak. Sering-seringlah cari informasi baik lewat internet maupun medsos mengenai hal ini. Jangan lupa untuk mencari informasi jalur yang akan kita gunakan, karena di beberapa kasus, bisa saja gunung tersebut buka, namun di beberapa jalur pendakian mengalami penutupan. 
Contohnya adalah ketika saya mendaki gunung Sumbing di akhir Juli, dimana hanya ada satu jalur yang buka, sementara jalur yang lain masih ditutup. Begitu juga ketika mendaki Gunung Sindoro dan Lawu, pada waktu itu tidak semua jalur dibuka. 

Kuota Pendakian
Sebagian besar jalur pendakian membatasi jumlah pendaki per harinya. Ada yang hanya memberikan kuota 10 persen, 20 persen, 30, persen, atau 50 persen dari kuota regular. Untuk itu, kita harus paham berapa banyak kuota pendakian yang dibuka. Jangan lupa untuk memperkirakan waktu pendakian kalian. Pada saat weekend tentu jumlah pendaki lebih banyak dari hari biasanya, apalagi pada masa long weekend, pasti akan semakin bertambah banyak. Di Semeru kuota pendakian saat ini dibatasi hanya 20 persen saja, bahkan ketika saya mendaki sumbing, jumlah pendaki per hari maksimal hanya 50 peserta.
Selain itu, tanyakan juga apakah jalur tersebut dibuka untuk semua kalangan. Di Wonosobo, beberapa jalur hanya boleh didaki oleh orang lokal, dalam artian hanya diperbolehkan untuk kalangan warga Jawa Tengah dan Jogja. Namun ada juga yang lumayan longgar seperti di Gunung Lawu.

Persyaratan Pendakian
Kalian harus memahami persyaratan pendakian apa saja yang wajib dijalankan ketika melakukan pendakian. Setiap gunung mempunyai persyaratan yang berbeda-beda. Ketika saya mendaki gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkrik, terdapat beberapa persyaratan yang wajib dipatuhi antara lain, para pedaki wajib membawa alat makan sendiri baik piring, gelas, maupun sendok. Setiap pendaki wajib membawa hand sanitizer demi keamanan diri. Wajib memakai masker serta membawa masker cadangan. Jangan lupa untuk menanyakan berapa jumlah masker yang wajib dibawa. Untuk melakukan pendakian ke Semeru, masker yang wajib dibawa minimal 4 buah. 
Cek apakah perlu surat sehat serta surat jalan dari desa atau tidak. Ketika saya mendaki gunung Lawu, persyaratan di sana cukup longgar tanpa perlu menunjukkan surat sehat. Bahkan pendakian juga relatif tidak dibatasi sehingga banyak pendaki dari daerah lain yang memilih untuk mendaki gunung ini. Beberapa wilayah bahkan mewajibkan rapid tes bagi para pendaki sesuai arahan dari pemerintah setempat. Pastikan bahwa kalian dalam keadaan sehat. Jika tiba-tiba demam, sebaiknya kalian mengurungkan niat untuk mendaki. Untuk itu, kalian harus rajin berolahraga dan jangan lupa untuk minum vitamin dan suplemen kesehatan.
Sebagian besar gunung mewajibkan pendaki mengisi tenda hanya 50 persen dari kapasitas yang ada. Jadi, jika kalian membawa tenda kapasitas 4 orang maka hanya bisa digunakan untuk 2 orang saja. Begitu juga jika misalnya rombongan kalian 3 orang, maka jangan hanya membawa tenda dengan kapasitas 4 orang, tetapi harus melebihi.

Pembatasan Waktu Pendakian
Waktu saya mendaki sumbing, kita hanya dibatasi maksimal satu malam untuk menginap di tenda dengan total maksimal pendakian 2 hari 1 malam. Begitu juga untuk jumlah pendaki yang ingin menginap di beskem juga dibatasi, maksimal 50 orang per malam. Hal yang sama juga terjadi di Semeru, para pendaki hanya diperbolehkan melakukan pendakian 2D1N. Jika kalian suka mendaki di malam hari, cek kembali apakah diperbolehkan atau tidak, karena pengalaman saya mendaki Sumbing hanya diperbolehkan melakukan pendakian dari pagi hingga sore hari, dan maksimal untuk pendakian jam 5 sore. 
Pendakian di masa pandemi ini sebisa mungkin kalian meminimalisir pertukaran alat sesama rombongan. Usahakan untuk membawa dan memakai alat pribadi sendiri. Jika terpaksa bertukar, maka usahakan untuk menyemprot alat tersebut dengan disinfektan. Selain itu akan lebih nyaman jika kita mencari jalur yang relatif sepi agar meminimalisisr kontak fisik dengan pendaki lain. Yang terpenting, jangan lupa untuk selalu menjaga jarak agar kita tetap aman dan terhindar dari virus corona. Semoga kita selalu menjaga diri agar tetap sehat dan bisa beraktivitas dengan baik.

Rabu, 16 September 2020

Tips Naik Pesawat di Masa Pandemi

 

Naik pesawat bukanlah suatu hal yang mesti ditakutkan bagi kita semua. Gak jauh beda ama naik kapal, mobil, dan lainnya. Bagi yang baru pertama kali, naik pesawat bisa saja menjadi hal yang ditakutkan karena merasa canggung entah takut ketinggian, masih awam dengan prosedur cara naik pesawat, atau bingung bagaimana nanti begitu sampai di tujuan. Mungkin seperti itulah pengalaman yang saya rasakan ketika pertama kali naik pesawat, ketika harus berangkat sendirian di dalam penerbangan yang untuk pertama kalinya. Berbagai pikiran timbul di kepala entah cara check in, bagaimana mengurus bagasi, dan berbagai administrasi lainnya. 

Hilir-Mudik Para Penumpang di Bandara NYIA

Namun bukan itu yang akan saya bahas di sini. Kali ini saya akan berbagi cerita dan berbagi tips naik pesawat di masa pandemi. Karena tidak sedikit orang yang takut adanya kerumunan, takut bersentuhan, bahkan takut keluar rumah dengan adanya corona yang menyebar di berbagai negara di dunia. Saya turut hal tersebut ketika pertama kali akan naik pesawat di masa pandemi ini. Untuk itu, saya akan berbagi pengalaman karena saya yakin banyak yang megalami hal serupa. Bahkan pengalaman ini lebih menakutkan bagi saya dibandingkan pengalama pertama naik pesawat. Bukan pada saat keberangkatan ke lokasi tujuan, namun ketakutan pada masa persiapan menjelang penerbangan.

Ada beberapa hal yang harus kalian persiapkan apabila ingin naik pesawat pada masa pandemi. Pertama, cari informasi persyaratan yang harus dipenuhi di lokasi tujuan. Umumnya sebagian besar bandara hanya mempersyaratkan bukti rapid tes yang menunjukkan bahwa kalian sehat dan non reaktif melalui hasil rapid. Namun ada juga bandara yang mewajibkan pengunjung melakukan tes swab. Jika hal itu diwajibkan, maka mau tak mau kalian harus melakukan tes swab karena jika hanya sekedar tes rapid persyaratan tersebut otomatis akan ditolak dan kalian perjalanan kalian menjadi terkendala. Teman saya pernah mengalami hal ini ketika akan melakukan penerbangan ke wilayah Papua. Untuk tiba di tujuan, para pengunjung wajib menyertakan bukti tes swab karena pada saat itu kasus di sana relatif tinggi. Begitu juga pengalaman teman lain yang harus melakukan swab tes ketika melakukan perjalanan ke Aceh.

Di beberapa bandara terdapat fasilitas tes rapid di tempat, namun lebih baik jika kalian mempersiapkan rapid tes beberapa hari sebelum keberangkatan. Biaya rapid tes cukup variatif tergantung lokasi dan kebutuhan. Namun untuk persyaratan penerbangan kalian sebaiknya tidak sekedar menunjukkan bukti hasil rapid semata, tetapi juga disertai surat keterangan dari dokter setempat yang menyatakan bahwa hasil rapid kalian non reaktif/ negatif. Jika ingin lebih aman sebaiknya melakukan tes di lokasi yang kredibel dan terkenal. Pastikan nama, tanggal tes, serta identitas kalian sesuai agar tidak ada permasalahan. Di Jakarta petugas akan menanyakan secara detail bukti persyaratan yang dibutuhkan. Bahkan petugas tidak segan-segan untuk menelpon lokasi tempat tes kalian untuk memastikan bahwa lokasi tes benar-benat valid. Jangan lupa cek masa aktif hasil tes kalian karena kebijakan bisa saja berubah. Apakah bukti tes tersebut hanya bisa digunakan untuk 3 hari, 1 minggu, atau lebih. Terakhir pemerintah memberi kelonggaran jika hasil rapid tes dapat digunakan hingga 2 minggu untuk penerbangan, sehingga tidak masalah jika kalian melakukan rapid tes jauh hari sebelum keberangkatan. Jika harus melakkan swab tes, periksalah jauh-hari sebelum keberangkatan dengan menyesuaikan perkiraan tanggal keberangkatan. Swab tes berbeda dengan rapid, dan hasilnya baru keluar sekitar 3 hari bahkan lebih, tergantung daerah kalian masing-masing. Untuk itu, kalian jangan melakukan swab mendekati hari keberangkatan.

Pastikan kondisi tubuh kalian dalam keadaan sehat. Ini merupakan bagian yang paling saya takutkan. Meski selama ini terlihat sehat, saya selalu khawatir apabila kondisi tubuh saya tiba-tiba panas menjelang tes rapid. Makanya, persiapkan mental kalian dan jangan lupa untuk menjaga kesehatan agar tetap fit sebelum melakukan pengecekan baik olahraga teratur, minum suplemen vitamin, dan kegiatan lain yang dapat menunjang kesehatan kalian.

Jika kalian bepergian untuk urusan tugas, maka persiapkan surat tugas kalian sebagai bukti ketika akan melakukan penerbangan. Surat ini sangat penting dan cukup membantu kalian di masa pandemi ini demi memperlancar urusan administrasi dan persyaratan lain, sehingga kalian tidak terlalu banyak dicecar pertanyaan. Jelaskan pula tujuan kalian serta berbagai hal penting yang dapat membantu kelancaran dalam pengecekan berkas. Persiapkan APD yang dibutuhkan, yang sekiranya sesuai dan biasa kalian bawa seperti masker, faceshield, atau hand sanitizer. Jika perlu, kalian bisa membawa keperluan lain seperti antiseptik, sarung tangan, bahkan alcohol. Cek juga maskapai penerbangan kalian, apakah bisa memesan tempat duduk yang sosial distancing atau tidak. Ada beberapa maskapai yang menyediakan fasilitas tersebut sehingga kursi di samping kalian dapat dikosongkan seperti pengalaman saya ketika bepergian ke luar Jawa. Namun apabila fasilitas ini tidak tersedia, kalian harus menjaga diri, minimalisir sentuhan, dan kalau bisa, tahan bersin atau batuk selama di pesawat.

Sebaiknya kalian tiba di bandara 3 jam sebelum keberangkatan agar lebih nyaman, karena di jam-jam sibuk pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama baik untuk pengecekan dokumen maupun antrian dalam proses check in. Jangan malu untuk menanyakan porsedur check in di bandara, karena setiap bandara mempunyai kebijakan yang berbeda beda. Pengalaman saya ketika di Jogja, begitu masuk rungan bandara langsung menuju lokasi pengecekan dokumen rapid, lalu masuk ke dalam lagi untuk proses check in dengan alur yang tertata. Kemudian baru mengisi data eHAC setelah kita memperoleh nomor kursi tempat duduk. Namun ketika di Pontianak, saya harus mengisi eHAC dan pemeriksaan dokumen, baru bisa check in. Jika tidak sesuai alur, maka petugas tidak mau memprosesnya. 

Sebaiknya kalian mendownload registrasi aplikasi eHAC sebelum keberangkatan, karena tidak sedikit yang bermasalah ketika melakukan registrasi, dan harus dilakukan beberapa kali. Beberapa data yang harus diisi seperti nomor tempat duduk, alamat awal dan alamat tujuan, tujuan keberangkatan, dan beberapa hal terkait data diri. Petugas akan melakukan pengecekan data kalian di bandara terakhir sebelum keluar melalui scan barcode, dan jika kalian belum mengisi, maka kalian harus mengisi data secara manual di bandara tujuan, sehingga cek dengan teliti apakah data yang kalian isi sudah benar-benar terkirim. Persiapkan juga paket data yang terjangkau di berbagai wilayah, karena di beberapa bandara hanya terdapat sinyal tertentu. 

Semoga kalian semua sehat, dapat bepergian seperti sedia kala dengan aman, sehat, dan terhindar dari corona, dan semoga pandemi ini segera berakhir agar kita bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. 

Selamat bepergian kawan…




Rabu, 19 Agustus 2020

Wisuda di Masa Pandemi (unfogottable moment), Sebuah Wisuda yang Gak Disengaja

Wisuda merupakan sebuah impian bagi setiap mahasiswa. Setelah menyelesaikan perkuliahan selama rentang waktu tertentu, para mahasiswa akan menunggu momen pucak kebahagiaan, moment selebrasi, sebuah perayaan atau syukuran secara resmi yang dilepas oleh rektor sebagai tanda bahwa dia sudah menyelesaikan masa studinya. Prosesi tersebut dapat dilakukan di mana saja, entah di gedung fakultas, universitas, auditorium, bahkan menyewa hotel untuk menggelar hajatan bagi sebuah momen kebahagiaan para mahasiswa. 

Begitu pula bagi para wisudawan/wisudawati yang akan mengikuti prosesi acara ‘sakral’ ini, tentunya sudah mempersiapkan segala kebutuhan dari mengundang keluarga terdekat untuk menghadiri prosesi acara yang biasanya diwakili oleh kedua orang tua, meskipun bagi mahasiswa dari luar kota kadang juga membawa saudara lain yang menunggu di luar gedung. Maklum, tiket masuk ruangan seringkali hanya terbatas untuk dua orang saja. Membawa pacar, istri, suami, atau teman dekat tentu menjadi hal yang ditunggu-tunggu di acara seperti ini. Bahkan tak jarang para wisudawan sudah memesan fotografer untuk berfoto bersama pasca wisuda di fotobooth yang banyak ditawarkan di luar gedung berjajar-jajar. Tak lupa, toga, samir, selendang, atau baju kebesaran lain sudah dipersiapkan jauh hari untuk dipakai di hari terbaik ini. Para wisudawati akan bangun pagi-pagi, kalau perlu sebelum subuh untuk mempersiapkan rias dan make up yang kadang juga harus antri berjam-jam. Sungguh luar biasa…..

Dresscode wisuda yang biasa-biasa saja

Namun gimana buat kalian yang wisuda di tahun 2020 ini? wisuda virtual atau daring yang hanya bisa bertatap muka secara online? Jangan berkecil hati kawan… Dengan wisuda online kalian bisa lebih menghemat ongkos karena tidak perlu menyewa make up. Cukup make up sendiri di rumah, tak perlu pergi ke gedung dan berdesak-desakan mencari keluarga pasca wisuda. Jalan di sekitaran juga tidak macet kok. Semua pasti ada hikmahnya. Kalian cukup wisuda dari rumah, duduk rapi di depan laptop atau hp, jangan lupa untuk mempersiapkan paket internet karena untuk gabung di wisuda virtual butuh kuota yang gak sedikit. Kalau perlu, siapkan kopi biar semakin cess pleng, bisa wisuda sambil ngopi, asal jangan sampai terlihat di kamera pas nyerupt kopinya, oke??

Saya sendiri gak pernah membayangkan akan wisuda online. Siapa sih yang gak ingin ikut prosesi wisuda seperti biasa, ‘berpesta’ dan bersyukur atas pencapaian kita? Namun apa daya di tahun ini sedang ada musibah, sebuah pandemi yang mengharuskan kita untuk saling menjaga diri, menjaga jarak, agar terhindar dari virus corona yang menyebar di seluruh dunia. Di sini, saya ingin sedikit cerita pengalama wisuda yang tak terlupakan. Bukan karena tidak bisa ikut wisuda seperti biasa, bukan karena harus wisuda secara virtual, namun lebih dari itu. Saya baru tahu jadwal wisuda saya secara gak sengaja dan hanya bisa melihat dari youtube tanpa bisa ikut langsug prosesinya. Sungguh malang nasib saya…. Namun saya memberikan disclaimer bahwa cerita ini saya bagikan karena sesuatu yang unforgettable moment dan jangan menyalahkan saya atau pihak kampus. Cukup dengarkan ceritanya sebagai sebuah momen yang tak terlupakan. Siapa tahu kalian juga punya momen yang lebih parah dari saya.. hahaaa

Jadi ketika mulai ada corona dan semua kegiatan wajib dilakukan secara WFH, saya sedang membuat tugas akhir dan mulai bimbingan dengan dosen. Beruntung, penelitian lapangan saya sudah selesai sehingga hanya fokus dari bab 2 sampai selesai. Meskipun suatu hal yang tak biasa bagi saya dan mungkin juga bagi semua mahasiswa, saya tetap berusaha bimbingan secara online. Singkat cerita, akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas akhir dalam 3 bulan (meskipun jika dengan persiapan butuh lebih dari 6 bulan). Dilanjut dengan ujian dan tidak terlalu memerlukan perijinan yang ribet, karena saya bisa mengurusnya secara online baik melalui WA atau login melalui akun mahasiswa. Ujian secara online membuat saya lebih rileks dan gak setegang ujian langsung. Beruntung, saya sendiri sudah ckup terbiasa memakai aplikasi meeting online, sehingga tidak begitu mengalami kendala. Bahkan suasananya cukup cair yag dilakuka di rumah masing-masing, mungkin saja kalian akan merasakan hal yang sama.

Selesai ujian, saya mempersiapkan persyaratan wisuda setelah menyelesaikan sedikit revisi. Batas akhir pendaftaran yudisium biasanya sebulan, bahkan kadang dua bulan sebelum wisuda. Persiapan wisuda pada masa saya merupakan pertama kalinya dengan berbagai aturan yang serba online. Jangankan saya, pihak kampus sendiri masih dalam tahap persiapan dan perancangan metode online, sehingga relatif ribet dengan berbagai pihak yang harus dihubungi. Mulai dari pembayaran wisuda, pengurusan administrasi baik pihak jurusan, fakultas, pendaftaran di universitas, pengurusan bebas pustaka di fakultas, universitas, bahkan bebas pustaka di luar kampus. Belum lagi di masing-masing bagian, saya harus menghubungi petugas masing-masing dengan jobdes yang berbeda-beda. Namun sekali lagi, ini tahapan awal ya, jadi cukup wajar bagi saya jika relatif ribet karena belum menemukan metode yang saling terkoneksi. 

Meskipun semua serba online, ternyata pengurusan bebas pustaka di fakultas harus secara ofline, padahal di fakultas lain sudah bisa daring. Atau harus menitipkan persyaratan seperti pengumpulan tugas ahir ke teman untuk datang langsung ke kampus apabila tidak mau mengurus sendiri. Jadi, mau gak mau saya harus datang ke kampus untuk menyelesaikan satu persyaratan ini, sementara yang lain sudah diurus secara online.

Setelah semua beres, saya tinggal menunggu jadwal wisuda yang telah ada di kalender akademik. Di jadwal tertulis jika wisuda saya seharusnya tanggal 5 Agustus, sehingga saya selalu update berita baik melalui teman atau poertal kampus untuk mencari info wisuda online. Hingga menjelang wisuda saya masih belum dapat info apakah wisuda sesuai jadwal atau diundur. Saya berkesimpulan jika wisuda diundur, karena wisuda gelobang sebelumnya ikut mundur akibat pandemic. So, waktu itu saya milih naik Gunung Lawu bersama temen-temen lewat jalur Cemoro Kandang. Saya nge-camp di pos 4, dan kebetulan di sini sinyal internet cukup lancar. Hari-H pun masih saya pantau jadwal wisuda saya, dan belum juga menemukan informasi sama sekali. Bahkan saat saya Tanya ke bagian administrasi di fakultas, dijawab jika wisuda tetap sesuai jadwal, meskipun saya tidak tahu bagaimana saya bisa ikut. Demi mendapatkan informasi, saya masih menyempatkan diri mencari info di atas gunung, effort yang lar biasa.. (sambil menyemangati diri). Esok hari, masih saja saya pantau jadwal wisuda dan masih belum ada info sama sekali. Fix, mungkin wisudanya diundur bulan depan, dua bulan lagi, atau entah kapan. Setelah itu, saya hanya sekali menengok kampus login ke akun mahasiswa, berharap ada info wisuda. 

Hingga suatu ketika, pada tanggal 19 agustus saya pergi ke kota untuk suatu urusan. Selesai urusan, saya mampir ke minimarket dan tiba-tiba ada notif live di hp saya. Saya memang sudah lama subscribe channel kampus, sehingga selalu ada notif apabila pihak kampus update video lewat youtube. Untuk internetan saya memang harus keluar rumah karena sinyal di desa agak susah, makanya saya tidak setiap hari buka internet. Begitu ada notif, langsung saja saya buka dan ternyata sedang ada live wisuda. Awalnya saya gak begitu ‘ngeh’, dan saya pikir itu wisuda kemarin, tapi kemudian saya baru sadar jika saat itu tayangan secara live, apalagi ada judul wisuda gelombang 4 yang ternyata itu jadwal wisuda saya. Kaget bukan main.. langsung saja ku-googling cari berita jadwal wisuda. Eh, ternyata informasi tersebut diupload di portal universitas seminggu yang lalu, sementara jadwal pendaftaran untuk ikut wisuda sudah ditutup kemarin. Langsung saya kontak temen yang wisuda bareng, eh,, ternyata dia juga gak tau, dan kamipun ketawa karena ini semua. Di saat pandemi, mahasiswa banyak yang di kampung, dan pemberitaan hanya melalui web yang jarang dibuka oleh para mahasisiswa, tentu hal yang disayangkan. Pihak kampus tidak aktif memberi info kepada mahasiswa yang sedang banyak berada di desa. Yah, mau gimana lagi.

Saya hanya bisa duduk di kursi, mengikuti prosesi wisuda virtual yang hanya tinggal 15 menit itu. Sambil ketawa-tawa melihat kebahagiaan para peserta. Ada yang memakai toga, samir, dengan hem putih dan dasi. Saya menonton streaming dengan kaos biasa, duduk menikmati siaran youtube dengan sebungkus rokok dan sebotol minuman yang baru dibeli tadi.

Ah… sebuah wisuda yang gak disengaja…


Karena wisuda adalah hal yang bias, dan kita harus tetap berkarya…


Jumat, 17 Juli 2020

Teknik Navigasi Darat (Bag 5) Menentukan Arah Tanpa Kompas dan Memperkirakan Cuaca

1.  Menentukan Arah Tanpa Kompas
Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mementukan suatu arah tanpa mempergunakan kompas yaitu :
Dengan tanda-tanda alam, misalnya 
  • Kuburan orang Islam, biasanya membujur dari utara ke selatan, dengan batu nisan berada di sebelah utara.
  • Masjid selalu menghadap ke kiblat/ barat laut
  • Matahari terbit dari timur, dan terbenam di sebelah barat
  • Sebagian pohon yang berlumut, menunjukkan arah timur, karena terik sinar matahari belum terlalu panas.

Dengan tanda bintang 
  • Semua benda langit berjalan dari arah timur ke barat
  • Perhatikan rasi bintang salib (gubug penceng), perpanjangan garis diagonal yang memotong secara horizontal dari tempat kedudukan kita adalah sebelah selatan.

Memeperkirakan Cuaca
Tanda alam
  • Jika hari terang/cerah
  • Sebelum matahari terbenam, maka langit berwarna merah
  • Di pagi hari terdapat embun dan kabut
  • Di malam hari, bulan dan bintang bercahaya

Jika cuaca hujan/ kurang baik
  • Awan gelap dan bergantung rendah
  • Matahari tenggelam berwarna pucat
  • Di pagi hari biasanya terdapat pelangi
  • Di pagi hari udara terasa panas dan kering

Jika akan terjadi badai
  • Terdapat hujan sebelum angin
  • Matahari terbit dari balik awan
  • Awan bergerak dengan garis-garis yang jelas
  • Terjadinya pertukaran cuaca
  • Terdapat banyak angin sebelum hujan, dan tidak jadi hujan
  • Pagi hari udara terasa panas dan kering

Tanda dengan binatang
  • Jika akan terjadi hujan, biasanya burung terbang rendah, semut-semut tetap berada di dalam sarangnya, dan di malam hari, cacing menimbun tanah berbutir, dan apabila hujannya lama, maka akan keluar dari lubangnya.
  • Jika terjadi pergantian cuaca, maka semut akan keluar dari sarangnya, dan mondar-mandir, cacing tetap berada di dalam lubang, dan kelelawar terbang hingga senja. 




Teknik Navigasi Darat (Bag 2) Mengenal Peta

Secara singkat, peta adalah gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan di bidang datar dengan skala tertentu. Definisi lain, menyebutkan bahwa peta adalah penggambaran dua dimensi pada bidang datar dari sebagian atau seluruh permukaan bumi yang dilihat secara tegak lurus dari atas dan diperkecil atau diperbesar dengan skala dan metode tertentu. 
Contoh Peta permukaan Gunung Merapi
Peta telah digunakan sejak bangsa Babylonia sekitar tahun 2300 SM. Ketika itu peta digunakan oleh pemerintah untuk kegunaan pajak tanah. Ilmu khusus yang mempelajari tentang seluk-beluk perpetaan dinamakan kartografi. Sedangkan orang yang menguasai teknik pembuatan peta atau menguasai ilmu perpetaan disebut kartograf atau kartografer. Di Indonesia badan khusus yang berwenang membuat dan mengeluarkan sumber peta nasional adalah BAKOSURTANAL (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional).

Peta merupakan penyajian data dan informasi permukaan fisik bumi yang penggunaannya ditujukan untuk memudahkan para pemakai dalam menelusuri suatu obyek. Pada peta, dapat diperoleh analisa kondisi medan seperti jalan setapak, gunung, lembah, jurang, sungai, desa, dan sebagainya tanpa harus berada pada lokasi yang kita amati. Tujuan dari adanya peta tersebut adalah untuk menyajikan gambar dari bentuk-bentuk permukaan bumi agar memungkinkan untuk dianalisa maupun diukur.  Peta sendiri, kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan dan penggunaannya. Untuk keperluan navigasi darat, umumnya dipakai peta topografi.

Adapun fungsi peta antara lain adalah :
1.Menunjukkan posisi atau lokasi dari suatu daerah/wilayah yang terdapat di permukaan bumi.
2.Memperlihatkan ukuran, bentuk, jarak, dan luas suatu wilayah di permukaan bumi.
3.Memperlihatkan atau menggambarkan bentuk-bentuk permukaan bumi.
4.Menyajikan data tentang potensi suatu daerah.
5.Komunikasi informasi ruang.
6.Membantu suatu pekerjaan, misalnya untuk konstruksi jalan, navigasi atau perencanaan.
7.Analisis data spesial, misalnya perhitungan volume.
8.Membantu pembuatan suatu disain, misalnya disain jalan.
9.Sebagai penunjuk jalan bagi orang yang melakukan travelling.
dan lain sebagainya.

Ada berbagai macam peta, tergantung kebutuhuan kita. Ditinjau dari jenisnya, terdiri dari peta foto dan peta garis. Peta Foto ialah peta yang dihasilkan dari mozaik foto udara atau ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda. Peta Garis ialah peta yang menyajikan detail alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan.

Ditinjau dari informasinya, terdiri dari peta umum dan khusus. Peta Umum/Peta Ikhtisar adalah peta yang menggambarkan segala sesuatu yang ada dalam suatu daerah. Di dalam peta umum terdapat antara lain sungai, sawah, tempat pemukiman, jalur jalan raya, jalur jalan kereta api, dan sebagainya. Sedangkan Peta Khusus/Peta Tematik adalah peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan tertentu di permukaan bumi saja. Contoh peta tematik antara lain : peta kepadatan penduduk, peta kriminalitas, peta irigasi, peta transportasi, peta tanah dan lain-lain.

Jika dilihat dari skalanya, maka ada 3 macam  peta, yaitu peta teknis, yang menyajikan gambaran proyeksi permukaan fisik bumi untuk keperluan teknis tertentu, seperti peta jaringan kereta api, jaringan jalan raya, dan sebagainya. Peta ini berskala besar, antara 1:10.000, maupun kurang dari itu. Peta topografi, menyajikan gambaran proyeksi sebagian dari permukaan bumi, dan sering digunakan pecinta alam untuk kegiatan penjelajahan. Berskala sedang, antara 1: 25.000 hingga 1: 250.000. Peta geografik, menyajikan gambaran proyeksi seluruh permukaan bumi. Biasanya dituangkan dalam atlas. Skalanya 1: 250.000 atau lebih. 

Skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak sesungguhnya dengan satuan atau tehnik tertentu. Semakin kecil angka  dibelakang tanda maka makin besar skala peta tersebut. Begitu juga sebaliknya, semakin besar  angka  dibelakang tanda maka makin kecil  skala peta tersebut.Semakin besar skala suatu  peta, maka akan semakin spesifik dan jelas informasi yang akan kita dapatkan. 

Ada tiga macam jenis skala pada peta, yaitu : 
Skala Angka atau Skala Numeric
yaitu skala yang menunjukkan perbandingan antara jarak di peta dan jarak yang sebenarnya di lapangan, yang dinyatakan degan angka pecahan. Contohnya seperti 1 : 1.000 yang berarti 1 cm di peta sama dengan 1.000 cm jarak aslinya di dunia nyata.

Skala satuan, biasnya disebut skala Inci (Verbal Scale)
yaitu skala yang menunjukkan jarak inci di peta sesuai dengan sejumlah mil di lapangan.Misalnya 1 inchi to 5 miles dengan arti 1 inch di peta adalah sama dengan 5 mil pada jarak sebenarnya. 1 inci = 4 mil, artinya 1 inci di dalam peta = 4 mil di lapangan. Contoh negara yang menggunakan sistem ini adalah Amerika.

Skala Garis atau Skala Grafis 
yaitu skala yang ditunjukkan dengan garis lurus, yang dibagi-bagi dalam bagian yang sama setiap bagian menunjukkan satuan panjang yang sama pula.
skala garis
Macam-macam arti warna pada peta
Warna Laut
hijau             : 0 - 200 meter dpl / ketinggian.
kuning          : 200 - 500 meter dpl / ketinggian.
coklat muda : 500 - 1500 meter dpl / ketinggian.
coklat           : 1500 - 4000 meter dpl / ketinggian.
coklat berbintik hitam : 4000 - 6000 meter dpl / ketinggian.
coklat kehitam-hitaman : 6000 meter dpl lebih / ketinggian.
Warna Darat
biru pucat : 0 - 200 meter / kedalaman.
biru muda : 200 - 1000 meter / kedalaman.
biru           : 1000 - 4000 meter / kedalaman.
biru tua     : 4000 - 6000 meter / kedalaman.
biru tua berbintik merah : 6000 meter lebih / kedalaman.

Untuk keperluan bernavigasi darat, seperti yang sering dipakai oleh para pecinta alam, umumnya menggunakan peta topografi, sesuai dengan daerah yang ingin dijelajahi. 
Secara bahasa, topografi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata. Yaitu "topos", yang berarti tempat dan "grafos" yang berarti gambar. Peta topografi memetakan tempat permukaan bumi yang reliefnya diwakili oleh garis kontur yang setiap garis kontur mewakili ketinggian tertentu, sehingga dengan garis kontur ini kita bisa melakukan orientasi medan (ormed). 

Pada peta topografi, disertai pula berbagai keterangan untuk mengetahui lebih jelas tentang daerah permukaan bumi yang dipetakan diantaranya yaitu :
Judul Peta
Judul peta terdapat pada bagian atas tengah peta, menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta bersangkutan. Lokasi berbeda maka judulnya akan berbeda pula. Biasanya berada dibagian tengah atas suatu peta.
Nomor Peta
sebagai nomor registrasi  dari badan pembuat, nomor peta juga berguna sebagai petunjuk bila kita memerlukan daerah lain di sekitar daerah yang terpetakan. Biasanya di bagian bawah disertakan juga indeks nomor yang mencantumkan nomor-nomor peta yang ada di sekeliling peta tersebut. Biasanya dicantumkan di sebelah kanan atas peta
Keterangan Peta
Keterangan Peta Merupakan informasi dari pembuatan peta tersebut, sepeti tahun pembuatannya, nama instansi pembuat, sistem proyeksinya, dan tujuan /keperluan dari pembuatan peta tersebut. Semakin baru tahun pembuatannya, maka data yang disajikan akan semakin akurat.
Skala peta
Skala peta adalah jarak anatara di peta dengan medan yang sebenarnya. Skala peta dapat berupa skala angka, satuan, maupun garis.
Legenda Peta
Legenda Peta Yaitu informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta. Legenda ini memuat arti dari simbol yang dipakai didalam peta, seperti riangulasi, Jalan, Jalan setapak, Sungai, Desa, Pemukiman dan lain-lain. 
Arah Peta 
Yang perlu diperhatikan dalam sebuah peta adalah arah utara peta. Cara paling mudah yaitu dengan memperhatikan arah huruf-huruf tulisan yang ada pada peta. Arah atas tulisan adalah arah utara peta. Pada bagian bawah peta biasanya juga terdapat penunjuk arah utara peta, utara sebenarnya dan utara magnetis. Utara sebenarnya menunjukkan arah kutub utara bumi. Utara Magnetis menunjukan kutub utara magnetis bumi. 

Kutub utara magnetis bumi letaknya tidak bertepatan dengan kutub utara bumi, kira-kira di sebelah utara Kanada di Jasirah Boothia. Karena pengaruh rotasi bumi,  letak kutub magnetis bumi bergeser dari tahun ke tahun. Utara Magnetis adalah arah utara yang ditunjukkan oleh jarum magnetis kompas. Untuk keperluan praktis, utara peta, utara sebenarnya dan utara magnetis dapat dianggap sama. Untuk keperluan yang lebih teliti perlu dipertimbangkan adanya peta Ikhtilaf Magnetis, Ikhtilaf Peta Magnetis dan Variasi Magnetis.

Utara sebenarnya (TN) :  Mengarah pada kutub Utara dan sesungguhnya menggambarkan garis lintang bola dunia (Globe), dalam perjalanan tidak perlu diperhatikan.
Utara Peta (GN) : Sebagai Garis Vertikal pada peta, merupakan proyeksi garis lintang dan bujur dunia pada bidang datar (Peta).
Utara Magnetis (MN) : Arah yang ditunjuk oleh Jarum Kompas, tidak tepat ke arah Kutub Utara, tetapi ke Jazirah Boothia di Utara Kanada.
mengenal utara peta

  • Deklinasi Peta adalah beda sudut antara sebenarnya dengan utara peta. Ini terjadi karena perataan jarak paralel garis bujur peta bumi menjadi garis koordinat vertikal yang digambarkan pada peta. 
  • Deklinasi Magnetis adalah selisih beda sudut utara sebenarnya dengan utara magnetis.
  • Deklinasi Peta magnetis adalah elisih besarnya sudut utara peta dengan utara magnetis bumi.
  • Variasi Magnetis adalah perubahan/pergeseran letak kutub magnetis bumi pertahun. 

Koordinat Peta
Koordinat Peta adalah kedudukan suatu titik pada peta. Koordinat ditentukan dengan garis yang saling berpotongan tegak lurus. Dalam menyatakannya cara membaca koordinat dengan menyatakan suatu kedudukan titik pada bidang atau terhadap dua garis bilangan. Titik koordinat merupakan nilai bilangan yang menyatakan kedudukan dari titik tersebut pada sistem koordinat yang digunakan. Koordinat terbentuk dari garis yang mendatar (horisontal) dan garis yang tegak (vertikal) yang saling berpotongan. 

Sistem koordinat yang resmi dipakai ada 2 yaitu:
koordinat geografis (geographical coordinate)
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur yang tegak lurus terhadap garis khatulistiwa dan garis lintang yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat ini dinyatakan dengan suatu derajat, menit, dan detik. Garis bujur 0 derajat berada di kota Greenwich, London. Misalnya, titik A (106°45’52,55”).

koordinat grid (gridal coordinate)
Dalam koordinat grid ini kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Di Indonesia misalnya titik acuan NOL ini ada di sebelah barat Jakarta  ( 60LU-98BT ). Untuk menyatakannya, dikenal berbagai sistem koordinat, baik sistem 4 angka, 6 angka, maupun 8 angka. Semakin tinggi angka yang dipakai, maka semakin tinggi pula kadar akurasi yang dihasilkan. Misalnya, titik A= 23,34 ME : 55,71 MN.

Ada juga sistem koordinat lokal, yang dibuat  tergantung dari keperluan dan jarak antara garis-garis yang berpotongan datar dan tegak lurus. Biasanya berjarak 1 cm. Koordinat ini tidak bisa dipakai pada daerah yang luas dan kegiatan yang besar.

Garis Kontur adalah garis khayal berbelok-belok, yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian sama dari permukaan air laut.  Adapun sifat-sifat garis kontur secara umum antara lain :
  • Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.
  • Garis kontur yang lebih rendah mengelilingi garis ontur yang lebih tinggi
  • Garis kontur tidak pernah berpotongan
  • Kontur yang rapat menunjukkan medan yang curam, sedangkan kontur yang renggang menunjukkan daerah yang landai.
  • Pada daerah yang landai, maka garis konturnya saling berjauhan, sedangkan pada daerah yang rapat garis konturnya akan saling berdekatan.
  • Pada kerapatan tertentu, biasanya diberi indeks kontur/ garis kontur tebal (biasanya setiap 10 kontur)
  • Garis kontur yang berbentuk huruf “U” menandakan punggungan gunung, dimana ujungnya menjauhi puncak.
  • Garis kontur yang berbentuk huruf “V” terbalik menandakan lembah, dimana ujung yang melengkung mendekati arah .puncak.

garis kontur


Selasa, 05 Mei 2020

Teknik Navigasi Darat (Bag 4) Teknik Peta dan Kompas

1. Orientasi Peta / Medan
Orientasi Medan pada adalah menyamakan kedudukan (apa yang digambarkan) di peta, dengan kondisi medan yang sebenarnya. cara ini sangat membantu dalam ilmu navigasi sehingga kita dapat menentukan posisi kita dengan tanpa membidik kompas. Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bukit, sungai, tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam  yang terlihat dan mencocokkan dengan gambar kontur yang ada dipeta. Untuk  keperluan praktis , utara magnetis dianggap sejajar dengan utara sebenarnya, tanpa memperlitungkan adanya deklinasi. 
ormed
Langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu :
  • Cari tempat yang terbuka, agar terlihat tanda medan yang jelas
  • Letakkan peta di bidang datar
  • Samakan antara utara peta dengan utara kompas, dengan cara meletakkan kompas diatas peta dan sejajarkan antara arah utara peta dengan utara magnetis/utara kompas, dengan demikian, letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.
  • Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekeliling anda dan temukan tanda medan tersebut dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan yang ada.
  • Ingat tanda medan itu, bentuk dan tempatnya dimedan sebenarnya maupun dipeta, ingat-ingat tanda medan yang khas dari setiap tanda medan.

2. Resection
Resection adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan bentang alam  yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak setiap tanda medan harus selalu dibidik.

Langkah-langkah resection :
  • Lakukan orientasi peta/medan
  • Cari tanda medan yang mudah dikenali di medan sebenarnya dan di peta, minimal 2 buah titik
  • Bidik tanda medan tersebut dengan  kompas, dan perhatikan derajat yang dihasilkan dari bidikan tersebut, back azimuthkan hasil dari bidikan tadi
  • Lakukan untuk 2 tanda medan atau lebih, agar hasil yang kita dapatkan lebih akurat
  • Pindahkan hasil tersebut ke sudut peta
  • Tarik garis lurus 2 atau lebih objek tersebut dengan protactor
  • Perpotongan 2 garis tersebut akan menghasilkan posisi dimana kita berada
  • Untuk melakukan pengecekan kita gunakan orientasi medan dengan peta

 3. Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Teknik intersection ini digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat di lapangan, pada teknik ini kita harus yakin dahulu posisi kita di peta. 

Langkah-langkah intersection adalah :
  • Lakukan orientasi peta/medan
  • Tentukan posisi kita di peta
  • Bidik obyek sasaran kita
  • Pindahkan sudut kompas ke sudut peta
  • Bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut di peta, ulangi langkah di atas
  • Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut/ lebih yang didapat adalah posisi obyek sasaran di peta.

4. Plotting Peta
Plotting Peta adalah menggambar garis, titik, atau tanda tertentu ke dalam peta. 
Misalnya :
  • Lembah atau sungai kita gambar dengan garis warna biru
  • Jalan setapak kita gambar dengan garis warna kuning
  • Punggungan, kita gambar dengan garis warna hijau
  • Lintasan perjalanan, kita gambar dengan garis warna merah
  • Garis resection, kita gambar dengan pensil
Namun, plotting peta ini, di tempat saya  tidak semuanya dipakai.
Yang sering dipakai adalah :
  • Lintasan perjalanan, sebelum melakukan perjalanan kita melakukan plotting lintasan perjalanan yang akan kita lalui, dengan garis putus-putus. 
  • Garis bidikan, biasanya setelah kita melakukan bidikan, baik resection, maupun intersection, kita menggarisnya menggunakan pensil.
  • Realisasi perjalanan yang dilakukan setelah kita tiba di tempat tujuan, yaitu garis lintasan realisasi perjalanan sebenarnya yang kita tempuh, karena dalam melakukan perjalanan kita tidak selalu sama dengan plotting lintasan perjalanan yang kita buat, karena adanya berbagai rintangan yang ada selama perjananan yang tidak kita ketahui. Realisasi perjalanan ini dibuat dengan garis lurus, dari titik sebelumnya menuju titik terakhir kita. 
Fungsi dari plotting peta yaitu :
  • Sebagai perencanaan perjalanan dari titik awal, hingga titik akhir
  • Untuk mempermudah dalam memahami medan
  • Agar posisi kita bias terkontrol sewaktu-waktu.
  • Agar kita mengetahui dan memahami hambatan-hambatan kita di dalam melakukan perjalanan.

5. Analisa Perjalanan
Analisa perjalanan perlu dilakukan agar kita dapat membayangkan kira-kira medan apa yang akan kita lalui, dengan mempelajari peta yang akan dipakai. Yang perlu di analisa adalah jarak, waktu dan tanda medan.

Jarak   
Jarak diperkirakan dengan mempelajari dan menganalisa peta, yang perlu diperhatikan adalah jarak yang sebenarnya yang kita tempuh bukanlah jarak horizontal.  Kita dapat memperkirakan jarak (dan kondisi medan) lintasan yang akan ditempuh dengan memproyeksikan lintasan, kemudian mengalihkannya dengan skala untuk  memperoleh jarak sebenarnya. Untuk lintasan yang lurus, maka bisa menggunakan penggaris untuk kemudian diperhitungkan dengan skala peta.
Sedangkan untuk lintasan yang berbelok, dapat dilakukan dengan menggunakan benang, dengan memposisikan benang tersebut sesuai dengan lintasan yang berliku-liku, kemudian dibentangkan, dan diukur dengan penggaris, untuk diperhitungkan dengan skala yang ada.
Namun, cara yang paling mudah yaitu dengan menggunakan alat ukur yang bernama kurvi meter. Alat ini berbentuk seperti roda, dan cara memakainya tinggal kita jalankan alat ini (seperti menjalankan roda) mengitari lintasan dari ujung awal hingga ujung akhir lintasan, setelah itu kita lihat hasil yang tertera di dalamnya. Namun, sebelum menjalankannya, kita harus mengesetnya terlebih dahulu, dengan menyamakan skala yang ada di kurvimeter dengan skala peta yang kita pakai. Yang paling umum adalah skala 1:25.000 dan 1:50.000. Biasanya, alat ini menempel menjadi satu di pinggir kompas. 

Waktu  
Bila kita dapat memperkirakan jarak lintasan, selanjutnya kita harus memperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Tanda medan juga bisa untuk menganalisa perjalanan dan menjadi pedoman dalam menempuh perjalanan. Dalam memperkirakannya, kita tidak hanya perpatokan pada jarak lintasan dengan skala yang ada, tetapi kita juga harus mempertimbangkan hal-hal lain, seperti: lama waktu yang kita butuhkan untuk melakukan orientasi medan, untuk kita istirahat, makan, dan lain sebagainya. Sehingga kita bisa lebih mempertajam analisa perjalanan kita dari awal hingga titik berikutnya/ hingga titik terakhir. 
Ada sebuah teori untuk memperkirakan waktu tempuh, yang bernama aturan Naismith/teori Naismith. Dalam teori ini, kecepatan rata-rata orang berjalan di medan datar sejauh 5-6 km/jam, sedangkan untuk tanjakan, sekitar 600m per jam. Tetapi, dalam memperkirakan waktu, sebaiknya kita mengacu pada pengalaman kita masing-masing, karena yang lebih paham akan kondisi dan kekuatan kita adalah diri kita masing-masing.

Tanda medan 
Kita dapat mempertajam analisa perjalanan kita dengan memanfaatkan tanda medan yang ada, seperti bukit, punggungan, lembah, maupun sungai yang akan kita lewati, sehingga perjalanan yang akan kita lalui terasa ringan. Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa peta yang kita pegang salah. Memang banyak sungai-sungai kecil yang tidak tergambarkan di peta, karena sungai tersebut kering ketika musim kemarau. Ada kampung yang sudah berubah, jalan setapak yang hilang, dan banyak perubahan-perubahan lain yang mungkin terjadi.  
Bila kita menjumpai ketidaksesuaian antara peta dengan kondisi lapangan, baca kembali peta dengan lebih teliti, lihat tahun keluaran peta, karena semakin lama peta tersebut maka banyak sekali perubahan yang terdapat pada peta tersebut. Jangan hanya terpaku pada satu gejala yang tidak ada di peta sehingga hal-hal yang yang dapat dianalisa akan terlupakan. Kalau terlalu banyak hal yang tidak sesuai, kemungkinan besar anda yang salah (mengikuti punggungan yang salah, mengikuti sungai yang salah, atau salah dalam melakukan resection). Peta 1:50.000 atau 1:25.000 umumnya cukup teliti.
Update terus peta yang akan kita pergunakan. Semakin baru peta yang kita pakai, maka semakin akurat data yang ada. Misalnya saja, jika kita memakai peta lereng selatan merapi antara tahun 1984 dengan peta tahun 2008, maka akan terasa sekali perbedaan yang ada, apalgi dengan peta yang terbaru, yaitu peta setelah erupsi merapi tahun 2010. Maka, akan terlihat banyak perubahan-perubahan yang terjadi.

6. Mengetahui Ketinggian Suatu Tempat
Untuk mengetahui ketinggian suatu tempat secara manual dapat dilakukan dengan melihat terlebih dahulu interval peta, lalu hitung ketinggian tempat yang ingin kita ketahui, memang ada rumusan umum interval kontur= 1/2000 skala peta. Tetapi, rumus ini tidak selalu benar. Beberapa peta topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala 1:50.000 (interval kontur 25 m) , tetapi kemudian diperbesar menjadi berskala 1:25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter.  
Pada suatu kondisi tertentu yang mendesak, misalnya  SAR gunung hutan, sering kali peta diperbanyak dengan cara di foto kopi. Untuk itu, interval kontur peta tersebut harus tetap ditulis. Peta keluaran Bakosurtanal (1:50.000) membuat kontur tebal untuk setiap kelipatan 250 meter, atau setiap selang 10 kontur. Seri peta keluaran AMS (skala 1:50.000) membuat garis kontur tebal untuk setiap kelipatan 100 meter. peta keluaran Direktorat Geologi Bandung tidak seragam ketentuan ketebalan garis konturnya. Dengan demikian tidak ada ketentuan khusus dan seragam untuk penentuan garis kontur tebal.  

Macam-macam garis ketinggian antara lain :
  1. Garis ketinggian sebenarnya, yang diukur dari permukaan air laut relative/ rata rata (MDPL).
  2. Garis ketinggian nisbi, yang diukur dari suatu tempat yang telah diketahui tingginya. 

Bila ketinggian kontur tidak dicantumkan, maka kita harus menghitung ketinggian suatu tempat dengan cara :  
  • Cari 2 titik berdekatan yang nilainya tercantum  
  • Hitung selisih ketinggian antara kedua titik tersebut. Hitung berapa kontur yang terdapat antara keduanya (jangan menghitung kontur yang sama  harganya bila kedua titik terpisah oleh lembah).  Dengan mengetahui selisih ketinggian kedua titik tersebut dan mengetahui juga jumlah kontur yang didapat, dapat dihitung berapa interval konturnya (harus me rupakan bilangan bulat).  
  • Lihat kontur terdekat dengan salah satu titik ketinggian (bila kontur terdekat itu berada diatas titik, maka nilai kontur itu lebih besar dari titik ketinggian. bila kontur terletak dibagian bawah, nilainya lebih kecil). Hitung nilai kontur terdekat itu yang merupakan kelipatan darinilai interval kontur yang telah diketahui dari perhitungan sebelumnya, lakukan perhitungan diatas beberapa kali sampai yakin dri nilai yang didapat untuk setiap kontur.
  • Cantumkan nilai beberapa kontur pada peta anda agar mudah mengingatnya.  

Selain dari garis kontur, kita dapat dapat mengetahui  tinggi suatu tempat dengan bantuan titik ketinggian, misalnya seperti titik Triangulasi , yaitu suatu titik atau benda berupa pilar/tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi digunakan oleh jawatan-jawatan topografi untuk menentukan suatu ketinggian tempat dalam pengukuran ilmu pasti pada waktu pembuatan peta.

Macam titik triangulasi :
Primer : P.14/3120   
Kuarter : Q.20/1350  
Sekunder : S.75/1750   
Tersier : T.16/975
Namun, untuk mempermudah melihat ketinggian suatu tempat, kita bisa juga menggunakan alat seperti GPS, maupun altimeter. Altimeter merupakan alat pengukur ketinggian yang bisa membantu dalam menentukan posisi. Pada medan yang bergunung tinggi, resection dengan menggunakan kompas sering tidak banyak membantu, disini altimeter lebih bermanfaat. 
Dengan menyusuri punggungan-punggungan yang mudah dikenali di peta. Altimeter akan lebih berperan dalam perjalanan, yang harus diperhatikan dalam pemakaian altimeter yaitu bahwa setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi. Periksa ketelitian altimeter di titik-titik ketinggian yang pasti. Altimeter sangat peka terhadap guncangan, perubahan cuaca, dan perubahan temperatur. Prinsip kerjanya berdasarkan tekanan udara. 

7. Koreksi sudut  
Pada pembahasan utara telah dijelaskan bahwa utara sebenarnya dan utara kompas berlainan. Hal ini sebetulnya tidaklah begitu menjadi masalah penting jika selisih sudutnya sangat kecil, akan tetapi pada beberapa tempat, selisih sudut/deklinasi sangat besar sehingga perlu dilakukan perhitungan koreksi sudut yang didapat dari kompas(azimuth)yaitu :  
A. Dari kompas (K) dipindahkan ke peta (P): P= K +/- (DM +/- VM)  
B. Dari peta( P) dipindahkan ke kompas (K): K= P +/- (DM +/- VM)   
Keterangan:  
Tanda +/- diluar kurung untuk DM (deklinasi magnetis/iktilaf magnetis)  
= dari K ke P: DM ke timur tanda (+), DM ke barat tanda (-) = dari P ke K: DM ke timur tanda (-), DM ke barat 
tanda (+)  
Tanda +/- di dalam kurung untuk VM (variasi magnetis)  
=tanda (+) untuk increase/naik; tanda (-) untuk decrease/turun.  

Contoh Perhitungan:  
Diketahui sudut kompas/azimuth 120 derajat, pada legenda peta tahun 1942 tersebut: DM 1 derajat 30 menit ke timur, VM 2 menit increase, lalu berapa sudut yang akan kita pindahkan ke peta?  
P= K=+/- (DM +/- VM) ingat! kompas ke peta, DM ke timur VM increase  
besar VM sekarang (2002)= (2002-1942)x 2 menit  = 120 menit= 2 derajat (1 derajat=60 menit)  
sudut P= 120 derajat + (1 menit 30 detik + 2 derajat)  = 123 derajat 30 menit, jadi sudut yang dibuat di peta adalah 123 1/2 derajat.